Oktober 2007


Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Iklan

(*Atas nama penghormatan dan penghargaan terhadap hak privasi, beberapa nama pelaku pada tulisan panjang ini bukanlah nama sebenarnya. Satu lagi, terimakasih atas doanya sehingga tidak perlu dilakukan tindakan operasi dari dokter terhadap saya*)

Saya akan bercerita pada rentang jarak-jarak waktu yang berbeda. Agar tidak membuat rumit anda, para pembaca blog nan terhormat, ijinkanlah saya memberi tag judul berhuruf tebal pada setiap cerita.

Oktober 1997

Teman-teman saya dari Cilincing suka sekali datang ke Depok. Ke Kukusan Beji, tempat kost saya. Kadang-kadang, mereka juga mampir ke sekolah saya, yang terletak tidak jauh dari kost-an. Mereka suka datang ke Depok karena Depok pada masa ini cukup teduh dan menyenangkan. Kalau malam, bisa tidur pakai sarung, karena suhu jadi lebih sejuk.

Maka itu, teman-teman saya, suka datang ke Depok. Ke kost saya.

Nah, namanya juga anak Cilincing, anak kampung nelayan. Kalau sudah kumpul, kelakuannya yaa ndeso semua. Bener-bener kampungan deh. Sejujurnya, termasuk saya juga sih. Tapi saya kan sudah jadi bagian dari komunitas Depok. Maka, atas nama gengsi akademisi Depok, kampungan ála Cilincing saya tekan kuat-kuat (walaupun ternyata gagal, hehe).

Contoh betapa kampungannya anak-anak Cilincing adalah ketika suatu hari mereka ramai-ramai datang ke Depok.

Saya lihat, banyak juga yang datang. Ada Odoy, Jumari, Aris Kisut, Utu, Rahmat, Sape’i, Uki, Udin Petot, Uung, Mat Bondan, Dayat bahkan hingga si Gugun, adik saya. Buset dah, banyak banget! Udah gitu, bawa kamera poket pula. Rencananya mau foto-foto di sekolah saya. Sebab sekolahan saya banyak pohonnya. Di Cilincing sudah jarang pepohonan.

Dan yang menyebalkan, mereka semua minta diajak jalan-jalan melihat sekolah saya naik bus gratis. Artinya cuma satu, saya harus jadi guide seharian dan harus mbayarin mereka makan kalo laper. Duh gusti!

Tapi namanya juga temen, akhirnya, jadi juga kami jalan-jalan naik bus. Dan semuanya berjalan lancar-lancar saja. Muka saya yang tadinya tertekuk akhirnya bisa berganti dengan ketawa-ketiwi lagi bersama mereka.

Namanya juga temen, harus solider.

Hingga akhirnya ketika dari dalam bus si Uung teriak, “Wooii ada artiss! Bang arip.. Bangg..! Ada artis lagi jalan kaki, Bang! Pir… Sopiir.. brenti, Pir! Kiri.. kiri…”.

Seketika, semua penghuni dalam bus melihat ke arah Uung. Muka saya merah padam. Karena mereka juga meliat ke arah saya. Malu euy. Sebab bus ini kan bus sekolah, tidak bisa berhenti sembarangan. Bus hanya berhenti pada halte-halte tertentu. Dan tidak bisa teriak-teriak begitu saja di dalam angkutan umum ini.

Tapi tidak demikian dengan anak-anak Cilincing. Mereka teriak-teriak kegirangan di dalam bus, “Horee! Horee! Ada artis! Temennya arip artis! Horee!”.

Dan daripada bertambah malu, saya bersama mereka turun di halte terdekat. Dan teman-teman Cilincing saya itu lantas lari berhamburan menghampiri sang artis muda nan manis tersebut.

Artis ini seorang gadis jelita. Ia tercatat sebagai salah satu pelajar di sekolah saya. Sinetronnya yang dibintanginya menceritakan komunitas masyarakat pinggiran, meledak dengan sukses. Bahkan kalau tidak salah akan dibuat sekuelnya. Dan jujur saja, saya sama sekali tidak kenal dengan beliau secara personal.

Mbak Artis itu terlihat kebingungan melihat serombongan pemuda tidak dikenal bertampang kriminil mengitarinya sambil cengar-cengir nggak jelas. Semuanya mengajak salaman. Ia bertambah kebingungan. Bahkan Udin Petot sampe cium tangan segala kepada si Mbak Artis. Wah saya bener-bener malu.

Daripada malu tambah parah, saya maju memberanikan diri (walaupun sebenernya malu dan gugup luar biasa). “Mbak, nama saya arip. Ini temen-temen saya dari Cilincing. Mereka ini fans-nya Mbak. Mereka mau kenalan sama Mbak”.

Saya diam sejenak. Rojak membisiki sesuatu ke kuping saya. Lalu saya melanjutkan perkenalan saya pada mbak tersebut sesuai pesan sponsor dari Rojak, “Mereka mau poto-poto sama si Mbak, boleh Mbak?”

Mbak Artis itu tersenyum manis. Lalu mengangguk mengiyakan. Anak-anak Cilincing bersorak gembira.

Dan anak-anak Cilincing ini rupanya benar-benar tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas berfoto dengan selebriti. Jumari pose dengan dua jari membentuk huruf V, style turis jepang. Uki pose dengan tiga jari, mirip anak metal. Rahmat pose sambil memegang pohon, mirip artis pelem India. Utu yang sangar dan gondrong bergaya ála artis cilik Meisye, menempelkan dua jari telunjuk ke pipi kiri kanan. Sementara Sape’i, Aris Kisut, Gugun, Mat Bondan dan Dayat jongkok sambil berangkulan satu sama lain mirip anggota klub sepakbola. Si Mbak Artis berdiri di tengah-tengah mereka, nahan ketawa.

Yang paling parah, siapa lagi kalo bukan Udin Petot. Sebelum pose, dia bahkan minta spidol dan kertas pada saya. Di kertas itu, ia tulis dengan huruf kapital besar-besar ‘CHINTAMI ATMANEGARA LOVES UDIN’. Lalu kertas itu ia berikan pada si Mbak Artis. Dan ia langsung lari ke belakang Mbak Artis. Pose mesra dengan kepala mendekati kepala si Mbak Artis.

Si Mbak Artis tambah bingung. Ia menengokkan kepala ke arah Udin Petot yang membalas tengokannya dengan senyuman mesra (yang bikin saya tambah malu). Si Mbak Artis berkata “Aduh mas, saya ini bukan Mbak Chintami Atmanegara. Saya Maudi”.

Udin Petot kebingungan. Matanya menatap si Mbak Artis dari ujung rambut ke ujung kaki. Anak-anak Cilincing lainnya sudah bete. Karena sudah gaya pose paling ‘oke’, tapi gara-gara Udin Petot, bibir mereka harus kaku nahan senyum.

Udin Petot lari ke arah saya yang jadi tukang potret.
– “Bang, kayaknya kita salah orang deh”
+ “Parah lo, Din. Itu kan Mbak Maudi Kusnaedi. Bukan Cintami”
– “Maudi tuh siapa, bang? Apa poto-potonya kita batalin aja, Bang. Kayaknya ini artis palsu nih”
+ “Kacau luh, men. Itu tuh si Jenab. Temennya Atun. Pacarnya si Doel anak sekolahan. Artis beneran tau”
– “Oh si Jenab. Itu mah gue kenal, Bang. Ya deh ga papa, biar bukan Cintami. Yang penting cakep”

Akhirnya sesi foto-foto itu usai sudah. Semua orang Cilincing bahagia. Mbak Artis itu sungguh ramah. Ia melayani fans-fans palsu kacangan dari Cilincing ini dengan hati yang tabah.

Hingga akhirnya, Mbak Artis harus masuk sekolah. Hari sudah sore, anak-anak Cilincing pulang kampung. Saya kembali lagi ke kost-an.

Hari yang bahagia.

Seminggu kemudian mereka datang lagi. Anak-anak Cilincing datang lagi. Saya tahu, pasti membawa hasil foto dengan Mbak Artis. Saya sudah menduga, pasti Udin Petot mau ketemu Mbak Artis lagi. Cari kesempatan, kalau-kalau sang selebriti belum punya pacar. Ia pasti mau ndaftar jadi pacar si Mbak Artis.

Ternyata saya salah.

Mereka datang membawa pesan buruk. Cilincing dalam perang antar gang. Gang yang dimaksud juga bukanlah gank dalam bahasa Inggris. Gang adalah seruas jalan kecil diantara rumah-rumah kumuh kecil padat di Jakarta. Benar-benar kecil. Lebarnya paling satu meter.

Sebenarnya, ini berita biasa saja. Perang antar warga antar adalah hal yang biasa di Cilincing. Alasannya beragam. Namun umumnya adalah karena rebutan wilayah kekuasaan parkir atau jatah keamanan pasar. Umumnya penyebab perang ini tidak lain karena masalah ekonomi.

Zaman lagi susah. Mau apa-apa susah. Semua butuh duit. Apa-apa mahal. Mau tidak mau, harus berebut lahan mencari makan.

Perang antar gang kali ini sungguh buruk, sebab adik saya, Gugun, terlibat perang tersebut. Bahkan ia hingga terluka cukup parah karena perang itu melibatkan senjata tajam. Sementara, kabar lebih buruk lagi, adik bungsu saya, gadis yang baru beranjak dewasa, diancam oleh gang lawan akan diperkosa.

Mau tidak mau saya harus pulang. Apapun yang terjadi. Saya harus pulang ke Cilincing. Bagi kami, anak-anak Cilincing, kehormatan adalah segalanya. Untuk menjunjung kehormatan, semua hutang harus dibayar. Hutang uang dibayar uang. Hutang darah dibayar darah. Kehormatan adalah segalanya.

Tiga hari setelah saya kembali ke Cilincing. Beredar kabar, bahwa pada hari kamis nanti, akan terjadi pertempuran besar-besaran dengan gang tetangga. Semua anak-anak muda di sekeliling gang saya sudah mengasah golok masing-masing. Beberapa senjata api genggam berjenis Colt atau FN hingga senapan pemburu babi bahkan sudah beredar diam-diam diantara kami.

Rabu pagi, 40 jam sebelum perang

Ibu duduk di teras rumah. Beliau tidak pergi mengajar seperti biasanya. Saya duduk di samping beliau. Beliau menunduk lesu. Lalu berbicara pada saya;
– “Ibu tahu, besok malam perang. Ibu lihat senjata di kolong ranjang kamu”
+ “Ehh.., Errhh…”
– “Sudah. Ngapain kamu ikut-ikutan. Besok kamu di rumah saja”
+ “Errh.., Errhh…”
– “Kamu denger Ibu?”
+ “Errhh… Iya saya ngerti, Bu. Tapi ibu kan perempuan. Ibu nggak ngerti apa yang sedang terjadi. Mereka udah nyakitin Gugun, Bu. Bahkan ngancem mao merkosa Ulfa segala. Saya kan laki-laki paling tua di keluarga ini. Saya malu kalau nggak ngapa-ngapain, Bu. Mau ditaro dimana muka saya. Mereka sudah utang darah sama keluarga kita. Utang darah harus dibayar darah”
– “Kalo gitu, kapan selesainya?”
+ “Maksud Ibu?”
– “Yaa kalo gitu kapan selesainya? Kamu mao ngebunuh anak kampung sebelah? Sukur kalo kamu dipenjara doang! Tapi gimana kalo kamu atau adik-adik kamu dibunuh mereka sebagai gantinya. Atau mereka malah membunuh ibu sebagai gantinya. Kamu mau begitu?”
+ “Yaa nggak gitu lah”
– “Trus apa? Logika kamu kan begitu? Apa kamu berani ngejamin mereka diem aja?”
+ “Saya laki-laki, Bu. Saya dilahirin Ibu bukan untuk jadi pengecut”
– “Ibu nggak minta kamu untuk jadi pengecut”
+ “Jadi apa yang Ibu minta?”
– “Ibu minta siang ini, kita semua sekeluarga berangkat ke Depok sampai perang ini selesai. Kalau kamu masih menghargai Ibu, kamu pasti nurut permintaan Ibu ini”

Saya menggigil mendengar permintaan Ibu. Pelan-pelan berlinang air mata. Ibu adalah orang yang saya cintai dah saya hargai. Amat sangat saya hargai. Namun, memenuhi permintaannya bagaikan membunuh seluruh kebanggaan laki-laki saya. Permintaan beliau, merenggut kehormatan saya sebagai laki-laki dari Cilincing. Pagi itu, saya luluh lantak tak bersisa.

Tapi, sebagai anak. Saya penuhi permintaan beliau.
Berat. Sebab orang se-Cilincing pasti akan menuduh saya pengecut. Dan mengemban stigma pengecut di Cilincing itu sungguh berat.
Tapi saya penuhi jua permintaan Ibu.

Tak peduli tatapan bingung sahabat-sahabat saya. Saya angkut beberapa barang berharga ke dalam mobil angkot yang kami sewa untuk ke Depok. Pagi itu sungguh panas. Namun hati saya membeku. Saya papah Gugun ke dalam angkot. Memasukkan tas berisi baju-baju, dokumen-dokumen penting serta tivi.

Pagi itu, saya bersama keluarga meninggalkan Cilincing untuk sementara. Kami mengungsi ke Depok dengan mobil angkot. Menuju kost saya. Saya duduk di depan, di samping pak supir. Dari kaca spion, terlihat wajah kecewa teman-teman Cilincing saya. Yaa, saya tahu apa yang ada di benak mereka. Dan ego laki-laki saya pun semakin luluh lantak tak bersisa.

Esoknya, hari kamis, terjadi pertempuran seru di Cilincing

Tiga hari kemudian, Udin Petot menjemput kami di Depok. Ia menceritakan bahwa ia selamat karena ia dimasukkan dalam penjara selama tiga hari atas permintaan ayahnya. Jumari selamat karena dilarang bertempur oleh istrinya yang hamil muda. Sape’i selamat karena lari ke Bali.

Ia menceritkan pula kisah tragis, bahwa Dayat dikeluarkan dari kesatuannya dan lalu diadili (*Dayat bekerja di sebuah instansi militer*) karena membacok kepala seorang polisi yang melerai perkelahian itu hingga tewas. Utu dan yang lainnya lari buron sebagai resedivis ke Sumatera karena membunuh anak seorang perwira tinggi yang terlibat dalam perkelahian massal. Aris Kisut masuk penjara. Rahmat tangannya buntung ditebas parang lawan. Uung tewas dengan muka hancur karena terkena peluru senapan pemburu babi.

Mendengar cerita itu, saya menatap Ibu. Saya tidak berkata apa-apa. Seakan waktu berhenti bergerak.

Begitu banyak yang ingin saya sampaikan. Tapi lidah terasa kelu.

——————-The End? Ahh kata siapa?———————

(lebih…)

Saya memang kurang ajar.
Loh kenapa memangnya?

Ada dua alasan;

Satu, karena ketika yang lain bicara lingkungan hidup pada pertengahan Oktober 2007 dan konflik antara go.id (Indonesia) dengan gov.my (tetangga Indonesia), saya malah pingsan. Pingsan dari menulis.

Kedua, saya sebenarnya sudah lama mau menulis mengenai kisah cinta. Tapi masalahnya, kisah cinta siapa? Masak sih kisah cinta saya? Malu-maluin saja. Seakan seluruh dunia, yang punya akses internet dan mampu berbahasa Indonesia, saya paksa untuk mengetahui betapa gombalnya saya. Oh tidaak! (*sambil teriak dan menutup muka, meniru ála adegan telenopela dan sinetron RI*) Huehe.

Sebagai pemuda jadul nan nakal dan kurang ajar, jelas saya akan melakukan pembelaan. Ini pledoi (nota pembelaan) yang akan saya sampaikan; Judulnya Orgasme Pada Sebuah Sore. Gabungan antara cinta dan teknologi yang dilakukan pada sore hari. Hehe. Keren kan judulnya. Sebab saya yakin ada beberapa yang diantara anda kesasar di tulisan ini karena kata orgasme. Hehehe.

Untuk anda yang kesasar… Jangan takut. Ada kalimat orgasme kok dalam postingan ini. Walaupun saya tidak yakin akan mampu memuaskan keinginan anda untuk memperoleh orgasme sesaat atau informasi mengenai orgasme.

Yaa sudah… Selamat menikmati saja.

Orgasme Pada Sebuah Sore (lebih…)

(*Secara serius, saya bener-bener mohon maap lahir batin nih. Pertama, maap bagi para komentar yang belum dijawab di postingan terdahulu. Kondisi kesehatan saya sudah tidak kuat beraktifitas ngeblog seperti dahulu lagi. Kadang chatting 15 menit saja sudah ngos-ngosan. Kedua, ijinkanlah saya yang secara lancang menggunakan momen lebaran ini untuk meminta maap*).

Belum lama ini, saya dapat email dari Mbak Titiw. Pertanyaannya sederhana “Bagaimana anda memaknai blog anda?”

Pertanyaannya sederhana… Jawabannya susah. Hehe. Namun tetap saya jawab, sebab beliau dan teman-temannya sedang meneliti mengenai blog dan blogger Indonesia. Saya jawab saja pertanyaan itu, sebab ada pepatah yang mengatakan, barangsiapa yang rajin membantu blogger lain akan menerima surga kaum blogger sebagai ganjarannya. 🙂

Apabila beliau bertanya, “Apa makna blog bagi anda?” Maka akan saya jawab, “Bagi saya, blog itu yaa media informasi interaktif”.

Namun apabila ditanya, bagaimana saya memaknai blog saya. Sama saja dengan pertanyaan, bagaimana saya memaknai tulisan saya? Waduh susah jawabnya. Sebab saya memang tidak pandai memaknai tulisan saya. Manusia yang pandai dan cerdas dalam memaknai tulisan-tulisan saya adalah Para Pembaca Blog Saya.

Blog sebagai sarana interaktif, mendapat makna, ketika tulisan itu mendapat sanggahan, bantahan, kritikan, makian, pujian atau sanjungan atau apalah. Selama ada reaksi, maka tulisan itu mempunyai makna. Reaksi itu bisa di dapat dari komentar (yang memang disediakan oleh media blog) atau oleh tulisan sambungannya oleh blogger lain atau bahkan hingga aksi dunia nyata.

Tanpa sungkan-sungkan, saya dapat berkata bahwa reaksi adalah makna dari sebuah blog. Secara subjektif, bagi saya indikator seorang seleb blog adalah dilihat dari reaksi yang ia dapat. Bung Jarar (Jarar Siahaan) bahkan istrinya sampai diancam segala oleh orang yang mengaku dirugikan melalui BatakNews, blog yang dikelola Bung Jarar. Mas Blonthank Poer, fotografer dari Solo, Mas Sunu, mahasiswa dari Jogja hingga Mr Kurt, seorang santri dari Pesantren Buntet bahkan hingga harus menerima reaksi keras akibat aktifitas blogging mereka. Bagi saya, mereka bahkan lebih dari sekedar seleb blog.
(*Untuk teman-teman yang tersebut diatas, teruslah berjuang. Anda tidak sendirian memperbaiki republik tercinta ini. Saya dan manusia yang peduli lainnya masih ada dan akan membantu sebisa mungkin*)

Bagi saya, blog papan atas (*emang ada blog papan bawah?*) bukanlah blog yang rajin di bakar oleh kobaran api siraman Pertamax dan sejenisnya. Bagi saya, blog yang baik adalah blog yang mempunyai khittah sebagai sarana informasi dan diskusi dan sarana berbagi. Karena saya manusia, maka blog yang baik bagi saya adalah blog yang manusiawi. Dan bagi saya pula, seburuk-buruknya blog, adalah blog yang menyebarkan dengki, fitnah, dendam dan benci.

Bagi saya, blogger yang baik adalah blogger yang selalu berniat bahkan hingga mampu membantu Para Pengunjung Blog melalui tulisan/gambar/video/suara yang ada di blognya. Kalau tidak bisa membantu, untuk apa mem-publish tulisannya di dunia internet. Kalau memang nge-blog hanya untuk pribadi, kenapa tidak hanya disimpan di hardisk? Kenapa harus disebar-sebar pada publik? Kalau tidak mau dibaca publik, kembali saja ke jaman 80-an, nulis di diary kertas merah jambu dengan sampul plastik Hello Kitty juga yang berwarna merah jambu.

Bagi saya, sebaik-baiknya reaksi atas blog adalah reaksi atas tujuan mulia. Melalui saran, komentar, tulisan atau aksi langsung. Apa itu tujuan mulia reaksi blog? Saya sendiri sukar menjawabnya. Tapi saya sanggup memberi contoh. Salah satu contohnya adalah Pesta Blogger 2007 yang di kritik dengan tajam dan penuh analisa oleh posting blog Mas Iman (Iman Brotoseno). Di mata saya, kritik Mas Iman terhadap Pesta Blogger 2007 itu bertujuan mulia.

(*Psstt, ini rahasia kita berdua saja yaa. Blog saya ini bukan blog papan atas. Sementara, saya sendiri bukanlah blogger dan komentator blog yang baik. Tapi jangan bilang siapa-siapa, loh. Ini rahasia kita berdua saja. Hehe.*)

Ketika timbul pertanyaan, “Loh, kalau ndak ada reaksi, ga bermakna dong blognya?”
Jawabannya gampang, “Situ tau dari mana? Emang bisa nebak masa depan? Kalo bisa, jadi dukun aje”.

(*contoh ekstrim: Jangan takut tidak dibaca… Blog itu candu. Selama eksistensinya ada, maka tetap akan ada yang menulis/membaca/melihat dan bereaksi*).

Menurut saya menulis itu sama saja dengan bicara. Sama-sama menyampaikan sesuatu yang ingin disampaikan. Walaupun jelas-jelas menggunakan media yang berbeda, intinya sama, ingin menyampaikan sesuatu.

Apakah Blog itu berguna?

Jawabnya juga mudah, yaitu tergantung oleh siapa yang mengunjungi blog anda. Kalau pembaca anda suka tertawa, dan anda pun suka tertawa dan menulis blog melulu mengenai tertawa, maka anda jelas berguna bagi komunitas pembaca anda. Namun ketika anda di Swahili dan menulis blog untuk warga Swahili dengan menggunakan bahasa Cilincing, jelas-jelas anda tidak berguna bagi warga Swahili.
(*Tapi kan berguna buat warga Cilincing? Ah kata syapee? Warga Cilincing banyak yang buta hurup, tau!*)

Kalau begitu, Para Pengunjung Blog berperan penting dong?

Jelas. Apabila blog adalah media interaktif dalam menyampaikan sesuatu, maka harus ada timbal balik komunikasi. Analoginya adalah, bercakap-cakap itu tidak dalam kondisi sendirian. Ketika seseorang ingin menyampaikan sesuatu, maka harus ada yang disampaikan dan ada yang mendengarkan. Kalau tidak ada yang disampaikan dan tidak ada yang menerima, untuk apa nge-blog? Lebih baik, ngomong aja ama tembok. Puasnya pol.

Apa makna Para Pengunjung Blog?

Bagi saya mereka amat istimewa. Ada yang OOT, ada yang pura-pura pinter bin sotoy marotoy (alias sok tahu kebangetan), ada yang narsis, ada yang tukang adu domba, ada yang menganggap hanya dia sajalah yang akan masuk surga dan banyak lain lagi yang ajaib-ajaib lainnya. Tapi, sebagian besar pengunjung blog, umumnya memang ingin diskusi.

Alhamdulillah pengunjung blog saya dari berbagai kalangan. Dan itu kadang membuat dada saya bergelembung karena bangga (walaupun saya malu mengakuinya dan sering pura-pura menutupinya). Umumnya yang berkomentar kebanyakan dari pemirsa pria. Namun yang mengirimkan email untuk meminta informasi tambahan, lebih banyak wanita. Umumnya email-email itu lebih banyak daripada yang berkomentar di sebuah posting. Dan itu sering membuat saya urut dada.

Adakah Para Pengunjung Blog favorit?

Ada komentar-komentar tertentu yang saya kagumi. Soal komentator blogger yang saya kagumi, umumnya karena kualitas komentarnya memang baik sekali. Diantaranya adalah Helgeduelbek (Pak Urip) dan Tukang Komentar dan masih banyak nama lainnya. Komentar mereka, layak diacungi jempol dan membuat kepala saya manggut-manggut. Komentator model begini biasanya bijak dalam mengeluarkan kata-kata. Andaipun OOT, mereka ini jenis tipe-tipe OOT yang menghibur. Benar-benar bukan komentator doggie style.

Loh, apa itu komentator doggie style?

Komentator doggie style itu adalah komentator yang pura-pura bergaya doggie style. Tipikal doggie adalah kencing untuk menandakan wilayah sebagai area kekuasaan. Style ini dipakai oleh para komentator tertentu untuk menandakan areal ‘kekuasaan’ mereka. Caranya adalah dengan moto, aku datang, aku kencingin blog orang, aku lari.

Anda tidak suka doggie style?

Apa maksud pertanyaannya? Jaka Sembung kena teluh, Gile boneng luh!

Maksud saya, apakah anda membenci anjing?

Ceilee, Jaka Sembung make beha, ama yang tadi apa hubungannya? Tapi oke lah, saya jawab juga. Gini, saya tidak membenci anjing. Saya menyukai anjing (walaupun anjing tidak menyukai saya). Karena saya dan anjing sama-sama makhluk ciptaan tuhan. Saya bukan tuhan, tapi kalau saya menciptakan sesuatu, kasih sayang terhadap ciptaan saya, jelas akan sama. Pendek kata, saya pikir, di mata tuhan, derajat saya dan derajat anjing tidak jauh berbeda. Sebab hingga kini belum ada penelitian yang mampu membuktikan bahwa anjing itu tidak berzikir.

Oh ya, beda antara saya dan anjing adalah anjing belum mampu memanfaatkan jasa layanan blog gratis. Halah.., jadi ngaco begini jawabannya.
Balik lagi ke komentator dong.

Maksud saya, apakah anda membenci komentator doggie style?

Saya nggak benci komentator doggie style. Itu kan cuma gaya. Sah-sah saja kalau mereka ngangkat satu kaki di blog orang. Masalahnya, bahagiakah si pemilik blog di datangi oleh komentator doggie style? Sebab ada blog-blog tertentu yang memang suka ‘dikencingin’. Dan andaipun komentator doggie style dijadikan trademark, saya mah ikhlas sajah. Toh komentator doggie style juga termasuk bagian dari proses reaksi dalam sebuah blog.

Apa proses dalam blog?

Jelas ada proses kreatif disana. Seorang blogger diminta memacu dirinya untuk lebih kreatif dalam postingan berikutnya. Siapa yang minta? Yang minta ada dua, satu yaitu pembaca tulisannya. Kedua, yaitu ego si blogger.

Apabila seorang blogger besar egonya, ia suka merendahkan blogger lain. Sementara sebaliknya, blogger yang tidak punya hasrat untuk kreatif akan mencoba melakukan tindakan kopi-paste, yaitu menyalin isi blog orang lain ke dalam blognya. Bagi blogger yang egonya besar tapi tidak kreatif, ia akan merendahkan orang lain sambil melakukan kopi-paste.

Apa gunanya punya blog?

Melawan lupa, berbagi, saling membantu, mempererat silaturahmi, hiburan murah meriah, dan banyak lagi lainnya yang akan ditambahkan oleh para komentator kita tersayang dibawah ini. Dan yang paling penting adalah, seperti deking, saya mampu melakukan permohonan maaf secara massal melalui blog ini.

————————————————————————-

Secara resmi, saya arifkurniawan, penanggung jawab blog Arif Kurniawan as Bangaiptop ‘Sesajen dari Cilincing Untuk Indonesia’ mengucapkan Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1428 Hijriyah. Mohon maaf lahir batin. Mohon maafkan saya. Karena saya jelas-jelas telah banyak melakukan tindakan yang membuat anda Para Pembaca Blog Saya terluka hatinya.

Sebagaimana bangsa Indonesia lainnya yang merayakan iedul fitri, saya beranggapan ini adalah momen yang tepat untuk meminta maaf. Jangan takut, saya tetap akan melakukan dosa kepada anda setelah iedul fitri ini berlalu. Dan apabila masih diberi rizki umur di tahun depan, saya pasti akan meminta maaf lagi ketika lebaran tiba. Sebab buat apa jadi orang Indonesia kalau tidak mudah memafkan dan melupakan lalu setelah itu berbuat dosa yang sama?

Untuk mereka yang pernah dan rajin singgah di blog ini. Untuk mereka yang pernah saya temui selama hidup ini.
Secara serius, saya bener-bener mohon maap.

free burma by bangaiptop

 


Paling enak… yaa emang cari aman.
Diam saja.
Ada apa-apa… Yaa diam saja.
Melihat kejahatan… Yaa diamkan saja.
Toh bukan urusan kita.

Ngapain capek-capek teriak? Yang penting, puasanya ndak batal.
Yang penting, masih bisa beli tiket mudik lebaran.
Cari aman saja.
Paling aman… Yaa  diam.

 

Hingga suatu saat, ketika kekejaman mengintai dari balik semak-semak
Melirik keji pada nadi anak-anak kita
Tidak perlu berteriak sekuatnya hingga urat leher kita mengejang
Atau minta tolong hingga habis seluruh keringat dan airmata

Sebab percuma.

Karena kita, kamu, saya dan orang Indonesia lainnya hanya diam.
Dan selalu bangga dengan diam. Bahkan hingga membusungkan dada.
“E-eh, saya ini pendiam loh!”
Namanya juga cari aman. Yaa… diam saja.

illustrasi foto: bikin sendiri

(*maap, komen ditutup. Untuk yang lebaran… Selamat lebaran. Untuk yang akan berpesta… Selamat pesta. Untuk yang hanya mau diam… Selamat diam, kalau memang itu pilihannya*)