(*Secara serius, saya bener-bener mohon maap lahir batin nih. Pertama, maap bagi para komentar yang belum dijawab di postingan terdahulu. Kondisi kesehatan saya sudah tidak kuat beraktifitas ngeblog seperti dahulu lagi. Kadang chatting 15 menit saja sudah ngos-ngosan. Kedua, ijinkanlah saya yang secara lancang menggunakan momen lebaran ini untuk meminta maap*).

Belum lama ini, saya dapat email dari Mbak Titiw. Pertanyaannya sederhana “Bagaimana anda memaknai blog anda?”

Pertanyaannya sederhana… Jawabannya susah. Hehe. Namun tetap saya jawab, sebab beliau dan teman-temannya sedang meneliti mengenai blog dan blogger Indonesia. Saya jawab saja pertanyaan itu, sebab ada pepatah yang mengatakan, barangsiapa yang rajin membantu blogger lain akan menerima surga kaum blogger sebagai ganjarannya.🙂

Apabila beliau bertanya, “Apa makna blog bagi anda?” Maka akan saya jawab, “Bagi saya, blog itu yaa media informasi interaktif”.

Namun apabila ditanya, bagaimana saya memaknai blog saya. Sama saja dengan pertanyaan, bagaimana saya memaknai tulisan saya? Waduh susah jawabnya. Sebab saya memang tidak pandai memaknai tulisan saya. Manusia yang pandai dan cerdas dalam memaknai tulisan-tulisan saya adalah Para Pembaca Blog Saya.

Blog sebagai sarana interaktif, mendapat makna, ketika tulisan itu mendapat sanggahan, bantahan, kritikan, makian, pujian atau sanjungan atau apalah. Selama ada reaksi, maka tulisan itu mempunyai makna. Reaksi itu bisa di dapat dari komentar (yang memang disediakan oleh media blog) atau oleh tulisan sambungannya oleh blogger lain atau bahkan hingga aksi dunia nyata.

Tanpa sungkan-sungkan, saya dapat berkata bahwa reaksi adalah makna dari sebuah blog. Secara subjektif, bagi saya indikator seorang seleb blog adalah dilihat dari reaksi yang ia dapat. Bung Jarar (Jarar Siahaan) bahkan istrinya sampai diancam segala oleh orang yang mengaku dirugikan melalui BatakNews, blog yang dikelola Bung Jarar. Mas Blonthank Poer, fotografer dari Solo, Mas Sunu, mahasiswa dari Jogja hingga Mr Kurt, seorang santri dari Pesantren Buntet bahkan hingga harus menerima reaksi keras akibat aktifitas blogging mereka. Bagi saya, mereka bahkan lebih dari sekedar seleb blog.
(*Untuk teman-teman yang tersebut diatas, teruslah berjuang. Anda tidak sendirian memperbaiki republik tercinta ini. Saya dan manusia yang peduli lainnya masih ada dan akan membantu sebisa mungkin*)

Bagi saya, blog papan atas (*emang ada blog papan bawah?*) bukanlah blog yang rajin di bakar oleh kobaran api siraman Pertamax dan sejenisnya. Bagi saya, blog yang baik adalah blog yang mempunyai khittah sebagai sarana informasi dan diskusi dan sarana berbagi. Karena saya manusia, maka blog yang baik bagi saya adalah blog yang manusiawi. Dan bagi saya pula, seburuk-buruknya blog, adalah blog yang menyebarkan dengki, fitnah, dendam dan benci.

Bagi saya, blogger yang baik adalah blogger yang selalu berniat bahkan hingga mampu membantu Para Pengunjung Blog melalui tulisan/gambar/video/suara yang ada di blognya. Kalau tidak bisa membantu, untuk apa mem-publish tulisannya di dunia internet. Kalau memang nge-blog hanya untuk pribadi, kenapa tidak hanya disimpan di hardisk? Kenapa harus disebar-sebar pada publik? Kalau tidak mau dibaca publik, kembali saja ke jaman 80-an, nulis di diary kertas merah jambu dengan sampul plastik Hello Kitty juga yang berwarna merah jambu.

Bagi saya, sebaik-baiknya reaksi atas blog adalah reaksi atas tujuan mulia. Melalui saran, komentar, tulisan atau aksi langsung. Apa itu tujuan mulia reaksi blog? Saya sendiri sukar menjawabnya. Tapi saya sanggup memberi contoh. Salah satu contohnya adalah Pesta Blogger 2007 yang di kritik dengan tajam dan penuh analisa oleh posting blog Mas Iman (Iman Brotoseno). Di mata saya, kritik Mas Iman terhadap Pesta Blogger 2007 itu bertujuan mulia.

(*Psstt, ini rahasia kita berdua saja yaa. Blog saya ini bukan blog papan atas. Sementara, saya sendiri bukanlah blogger dan komentator blog yang baik. Tapi jangan bilang siapa-siapa, loh. Ini rahasia kita berdua saja. Hehe.*)

Ketika timbul pertanyaan, “Loh, kalau ndak ada reaksi, ga bermakna dong blognya?”
Jawabannya gampang, “Situ tau dari mana? Emang bisa nebak masa depan? Kalo bisa, jadi dukun aje”.

(*contoh ekstrim: Jangan takut tidak dibaca… Blog itu candu. Selama eksistensinya ada, maka tetap akan ada yang menulis/membaca/melihat dan bereaksi*).

Menurut saya menulis itu sama saja dengan bicara. Sama-sama menyampaikan sesuatu yang ingin disampaikan. Walaupun jelas-jelas menggunakan media yang berbeda, intinya sama, ingin menyampaikan sesuatu.

Apakah Blog itu berguna?

Jawabnya juga mudah, yaitu tergantung oleh siapa yang mengunjungi blog anda. Kalau pembaca anda suka tertawa, dan anda pun suka tertawa dan menulis blog melulu mengenai tertawa, maka anda jelas berguna bagi komunitas pembaca anda. Namun ketika anda di Swahili dan menulis blog untuk warga Swahili dengan menggunakan bahasa Cilincing, jelas-jelas anda tidak berguna bagi warga Swahili.
(*Tapi kan berguna buat warga Cilincing? Ah kata syapee? Warga Cilincing banyak yang buta hurup, tau!*)

Kalau begitu, Para Pengunjung Blog berperan penting dong?

Jelas. Apabila blog adalah media interaktif dalam menyampaikan sesuatu, maka harus ada timbal balik komunikasi. Analoginya adalah, bercakap-cakap itu tidak dalam kondisi sendirian. Ketika seseorang ingin menyampaikan sesuatu, maka harus ada yang disampaikan dan ada yang mendengarkan. Kalau tidak ada yang disampaikan dan tidak ada yang menerima, untuk apa nge-blog? Lebih baik, ngomong aja ama tembok. Puasnya pol.

Apa makna Para Pengunjung Blog?

Bagi saya mereka amat istimewa. Ada yang OOT, ada yang pura-pura pinter bin sotoy marotoy (alias sok tahu kebangetan), ada yang narsis, ada yang tukang adu domba, ada yang menganggap hanya dia sajalah yang akan masuk surga dan banyak lain lagi yang ajaib-ajaib lainnya. Tapi, sebagian besar pengunjung blog, umumnya memang ingin diskusi.

Alhamdulillah pengunjung blog saya dari berbagai kalangan. Dan itu kadang membuat dada saya bergelembung karena bangga (walaupun saya malu mengakuinya dan sering pura-pura menutupinya). Umumnya yang berkomentar kebanyakan dari pemirsa pria. Namun yang mengirimkan email untuk meminta informasi tambahan, lebih banyak wanita. Umumnya email-email itu lebih banyak daripada yang berkomentar di sebuah posting. Dan itu sering membuat saya urut dada.

Adakah Para Pengunjung Blog favorit?

Ada komentar-komentar tertentu yang saya kagumi. Soal komentator blogger yang saya kagumi, umumnya karena kualitas komentarnya memang baik sekali. Diantaranya adalah Helgeduelbek (Pak Urip) dan Tukang Komentar dan masih banyak nama lainnya. Komentar mereka, layak diacungi jempol dan membuat kepala saya manggut-manggut. Komentator model begini biasanya bijak dalam mengeluarkan kata-kata. Andaipun OOT, mereka ini jenis tipe-tipe OOT yang menghibur. Benar-benar bukan komentator doggie style.

Loh, apa itu komentator doggie style?

Komentator doggie style itu adalah komentator yang pura-pura bergaya doggie style. Tipikal doggie adalah kencing untuk menandakan wilayah sebagai area kekuasaan. Style ini dipakai oleh para komentator tertentu untuk menandakan areal ‘kekuasaan’ mereka. Caranya adalah dengan moto, aku datang, aku kencingin blog orang, aku lari.

Anda tidak suka doggie style?

Apa maksud pertanyaannya? Jaka Sembung kena teluh, Gile boneng luh!

Maksud saya, apakah anda membenci anjing?

Ceilee, Jaka Sembung make beha, ama yang tadi apa hubungannya? Tapi oke lah, saya jawab juga. Gini, saya tidak membenci anjing. Saya menyukai anjing (walaupun anjing tidak menyukai saya). Karena saya dan anjing sama-sama makhluk ciptaan tuhan. Saya bukan tuhan, tapi kalau saya menciptakan sesuatu, kasih sayang terhadap ciptaan saya, jelas akan sama. Pendek kata, saya pikir, di mata tuhan, derajat saya dan derajat anjing tidak jauh berbeda. Sebab hingga kini belum ada penelitian yang mampu membuktikan bahwa anjing itu tidak berzikir.

Oh ya, beda antara saya dan anjing adalah anjing belum mampu memanfaatkan jasa layanan blog gratis. Halah.., jadi ngaco begini jawabannya.
Balik lagi ke komentator dong.

Maksud saya, apakah anda membenci komentator doggie style?

Saya nggak benci komentator doggie style. Itu kan cuma gaya. Sah-sah saja kalau mereka ngangkat satu kaki di blog orang. Masalahnya, bahagiakah si pemilik blog di datangi oleh komentator doggie style? Sebab ada blog-blog tertentu yang memang suka ‘dikencingin’. Dan andaipun komentator doggie style dijadikan trademark, saya mah ikhlas sajah. Toh komentator doggie style juga termasuk bagian dari proses reaksi dalam sebuah blog.

Apa proses dalam blog?

Jelas ada proses kreatif disana. Seorang blogger diminta memacu dirinya untuk lebih kreatif dalam postingan berikutnya. Siapa yang minta? Yang minta ada dua, satu yaitu pembaca tulisannya. Kedua, yaitu ego si blogger.

Apabila seorang blogger besar egonya, ia suka merendahkan blogger lain. Sementara sebaliknya, blogger yang tidak punya hasrat untuk kreatif akan mencoba melakukan tindakan kopi-paste, yaitu menyalin isi blog orang lain ke dalam blognya. Bagi blogger yang egonya besar tapi tidak kreatif, ia akan merendahkan orang lain sambil melakukan kopi-paste.

Apa gunanya punya blog?

Melawan lupa, berbagi, saling membantu, mempererat silaturahmi, hiburan murah meriah, dan banyak lagi lainnya yang akan ditambahkan oleh para komentator kita tersayang dibawah ini. Dan yang paling penting adalah, seperti deking, saya mampu melakukan permohonan maaf secara massal melalui blog ini.

————————————————————————-

Secara resmi, saya arifkurniawan, penanggung jawab blog Arif Kurniawan as Bangaiptop ‘Sesajen dari Cilincing Untuk Indonesia’ mengucapkan Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1428 Hijriyah. Mohon maaf lahir batin. Mohon maafkan saya. Karena saya jelas-jelas telah banyak melakukan tindakan yang membuat anda Para Pembaca Blog Saya terluka hatinya.

Sebagaimana bangsa Indonesia lainnya yang merayakan iedul fitri, saya beranggapan ini adalah momen yang tepat untuk meminta maaf. Jangan takut, saya tetap akan melakukan dosa kepada anda setelah iedul fitri ini berlalu. Dan apabila masih diberi rizki umur di tahun depan, saya pasti akan meminta maaf lagi ketika lebaran tiba. Sebab buat apa jadi orang Indonesia kalau tidak mudah memafkan dan melupakan lalu setelah itu berbuat dosa yang sama?

Untuk mereka yang pernah dan rajin singgah di blog ini. Untuk mereka yang pernah saya temui selama hidup ini.
Secara serius, saya bener-bener mohon maap.