Saya memang kurang ajar.
Loh kenapa memangnya?

Ada dua alasan;

Satu, karena ketika yang lain bicara lingkungan hidup pada pertengahan Oktober 2007 dan konflik antara go.id (Indonesia) dengan gov.my (tetangga Indonesia), saya malah pingsan. Pingsan dari menulis.

Kedua, saya sebenarnya sudah lama mau menulis mengenai kisah cinta. Tapi masalahnya, kisah cinta siapa? Masak sih kisah cinta saya? Malu-maluin saja. Seakan seluruh dunia, yang punya akses internet dan mampu berbahasa Indonesia, saya paksa untuk mengetahui betapa gombalnya saya. Oh tidaak! (*sambil teriak dan menutup muka, meniru ála adegan telenopela dan sinetron RI*) Huehe.

Sebagai pemuda jadul nan nakal dan kurang ajar, jelas saya akan melakukan pembelaan. Ini pledoi (nota pembelaan) yang akan saya sampaikan; Judulnya Orgasme Pada Sebuah Sore. Gabungan antara cinta dan teknologi yang dilakukan pada sore hari. Hehe. Keren kan judulnya. Sebab saya yakin ada beberapa yang diantara anda kesasar di tulisan ini karena kata orgasme. Hehehe.

Untuk anda yang kesasar… Jangan takut. Ada kalimat orgasme kok dalam postingan ini. Walaupun saya tidak yakin akan mampu memuaskan keinginan anda untuk memperoleh orgasme sesaat atau informasi mengenai orgasme.

Yaa sudah… Selamat menikmati saja.

Orgasme Pada Sebuah Sore

Pada sebuah sore, tanggal 14 oktober saya terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit. Dijenguk melalui e-confrence oleh tetangga saya, si Roni Kubil. Jelas amat kaget. Sebab si Roni Kubil dan keluarganya ini sudah belasan tahun tinggal di Malaysia. Istrinya orang Malaysia, anak-anaknya yaa blasteran Johor-Cilincing. Yang jadi pertanyaan, kalau rumahnya di Malaysia, lah ngapain ini orang berbondong-bondong nengokin saya di rumah sakit?

Ternyata Roni Kubil sudah setahun menganggur. Daerah yang ia tempati mengalami kelesuan ekonomi. Istrinya kerja, namun sayang seribu sayang, PHK ikut pula mendera. Enam bulan setelah Roni Kubil menganggur, istrinya pun ‘dirumahkan’. Anak mereka lima. Berarti, ada tujuh mulut yang menganga setiap hari harus dipenuhi oleh makanan. Mulut yang menganga dengan perut yang lapar. Kombinasi menakjubkan sehari-hari manusia.

Lapar itu sungguh luar biasa. Sebab tidak pernah memandang kewarganegaraan. Tidak memandang agama. Tidak memandang jenis kelamin. Tidak memandang latar belatang politik. Tidak memandang hobi, mazhab, strata sosial, atau bahkan perilaku seksual. Kalau lapar, satu satunya cara menghadapinya adalah makan.

Roni Kubil, pulang kampung. Membawa istri dan lima anaknya. Hanya demi satu kata, ‘hidup’.

Melalui layar, saya bertanya pada Roni Kubil
+ “Ron, Lo mao kerja apaan di Cilincing?”
– “Pabrik lah rip. Di sana gue juga kerja di pabrik. Istri gue juga di pabrik”
+ “Wah, pabrik di Cilincing itu perbudakan, men. Lo lupa si Yuyun, tetangga kita, jadi perawan tua gara-gara kerja di pabrik jahit KBN. Nggak punya waktu buat pacaran. Kerja mati-matian kayak Binatang melata. Giliran gajian, paling bisa cuman buat beli bakso dua mangkok. Sisanya buat bayar utang”
– “Trus gue gawe dimana dong? Pelabuhan?” (*gawe=kerja*)
+ “Kalo nguli mah nggak apa apa, asal jangan jadi bandit aja”
– “Gue ga punya keahlian, men. Paling bisa, yaa ngegebugin orang di pelabuhan”
+ “Wah parah lo, men. Masa mudik cuman mao jadi preman”
– “Trus gue makan apa? Anak bini gue makan apa!” (*Bini=istri*)
+ “Lo mao ngga gua ajarin ngurus serper?”
– “Apaan tuh? Lagian lo gimana mao ngajarin gue, lo kan di rumah sakit, bloon”
+ “Oh ya, lupa gue… Sori, men”

Tidak lama kemudian, perbincangan kami berhenti. Jatah internet saya masih tersisa 15 menit. Saya harus istirahat lagi. Tapi saya susah memejamkan mata. Terbayang Roni Kubil, istrinya, dan lima anak mereka. Terbayang Udin Pitak, adiknya Roni Kubil. Terbayang Bapak Ibu Sudarmaji, orang tua Roni Kubil dan Udin Pitak. Terbayang sepuluh orang manusia, menempati sebuah rumah petak kecil di Cilincing.

Di rumah petak itu, saat ini hanya dua orang yang bekerja. Pak Sudarmaji, bapaknya Roni Kubil, guru SD. Sementara Udin Pitak, jadi tukang potret keliling. Seharian jalan kaki dari satu kampung ke kampung lain. Menjajakan keahlian sebagai tukang cari muka.

Dan dua orang itu, kini harus menghadapi sepuluh mulut menganga dan perut yang lapar.

Rumah petak itu, seperti halnya rumah-rumah di Cilincing. Berdempetan dengan rumah-rumah lainnya. Cat berwarna kumal. Dikelilingi got berbau busuk. Udara laut yang beraroma tumpahan minyak. Dengan hiasan kucing kotor kurus menyelinap diantara gang-gang kecil antar rumah, mencari makan diantara tumpukan sampah di jalanan.

Saya membayangkan, pada pekat malam, hujan, anaknya Roni Kubil yang kecil menangis minta susu. Tangisan lapar. Dan tetangga-tetangga dengan dinding rumah yang saling menempel, berusaha keras menutup telinga. Bukan karena mereka tidak perduli. Tapi karena, mereka juga lapar.

Saya membayangkan, pada malam itu, ketika hujan dan tangis anaknya tidak kunjung reda, Roni Kubil duduk di beranda rumah. Minum teh tubruk, pelan-pelan memutar radio yang menyiarkan lagu dangdut. Nasibnya pahit, sepahit teh yang ia minum. Dan sebentar lagi hidupnya akan menjadi panas, sepanas cangkir yang ia genggam.

Namun lamunan saya tidak berlangsung lama. Terdengar suara ketukan di speaker komputer saya. Artinya, ada teman yang mau menjenguk juga. Saya nyalakan monitor lagi. Seraut wajah muncul. Wanita. Namanya.., ahh sebut saja Gadis. Teman saya dari SMP.

– “Iiih riip. Amit-amit deh luu. Sakit melulu”
+ “Hehe, apa kabar, euy? Loh, Dis, si Mansur kemana?”
– “Sibuk lah. Biasa. Maklum baru aja dapet promosi”

Lima menit kemudian, dihabiskan dengan basa-basi. Ia bertanya, jam berapa saat ini. Aneh, kenapa harus bertanya jam. Seakan perbedaan waktu antara kami adalah hal yang luar biasa. Bukankah dapat menjenguk orang sakit secara online sudah luar biasa?
Oh… Oh… sungguh internet adalah keajaiban teknologi.

Yang menarik adalah sepuluh menit berikutnya. Ketika Gadis bercerita, bahwa promosi jabatan Mansur, suaminya, malah membuat rumah tangga mereka dalam bencana.

Mansur jadi jarang pulang. Kalau ada masalah rumah tangga, lebih suka pergi ke kafe-kafe. Dan kadang melibatkan minuman keras dalam menyelesaikan masalah mereka.

Saya kenal Mansur. Pernah sekelas dalam beberapa mata pelajaran, dulu. Saya tahu, ia menyukai denting piano jazz, perempuan cantik, dan mobil mewah. Gadis tahu itu juga. Dan airmatanya pelan-pelan mulai mengalir.

Kini, di layar monitor saya, seorang ibu muda, matanya sembab menangis. Menceritakan kelakuan suaminya yang minta diperlakukan laksana dewa. Tentang suaminya yang selalu menuntut kelahiran anak laki-laki. Tentang campur tangannya ibu mertua dalam rumah tangga. Tentang banyaknya unidentified miscalled number  pada hape suaminya ketika tengah malam.

Gadis bercerita tentang cinta.

Sebuah cerita cinta yang tidak menceritakan langgengnya cinta. Melainkan, tentang cinta yang mulai menjauhi bahtera rumah tangga. Cerita tentang dua anak manusia yang terasing dari cinta.

Dan saya akui bahwa saya begitu egois. Saya benci cerita mengenai tiadanya cinta. Saya selalu ingin cerita yang berakhir bahagia. Seperti cerita cinta novel pada rak-rak toko buku. Seperti cerita dongeng pengantar tidur kanak-kanak. Dan saya benci menjadi dewasa. Saya tetap ingin dalam egoisme kekanak-kanakan saya. Sebuah dunia yang berselimut utopia.

Sayang sekali, hidup yang saya sering dengar bukanlah novel mahal bersampul kertas mahal mengkilat di rak toko buku. Sayang sekali hidup yang saya acapkali lihat bukanlah dongeng pengantar tidur yang selalu berakhir bahagia. Hidup itu realita. Kalau mau hidup, yaa harus realistis. Kalau punya mimpi, yaa wujudkan mimpinya. Setidaknya, itu yang saya pelajari dari kunjungan besuk online sore ini.

15 menit jatah sisa internet usai sudah. Nona perawat datang untuk memberikan obat dan menyiapkan makan malam. Ia datang sekalian untuk memutuskan koneksi internet saya.

Di monitor, Gadis masih menangis. Saya pamit. Namun rupanya ia belum selesai. Sambil terisak, ia bilang bahwa selama delapan tahun menikah dengan Mansur. Ia belum pernah merasakan orgasme. Demi menyenangkan Mansur, ia belajar engahan dan desahan orgasme dari video porno.

Saya terbelalak kaget.

Perawat itu (dan juga pasien di sebelah saya yang mungkin menguping) sesaat tidak jadi mencabut kabel monitor. Ia menatap saya. Mereka mungkin tidak mengerti Bahasa Indonesia. Tapi mereka pasti mengerti ‘orgasme’. Dan mereka pasti bertanya-tanya, tentang seorang wanita cantik yang menangis sambil berulang-ulang mengucapkan kalimat orgasme pada sebuah sore di rumah sakit.

Duh Gusti… Apa yang harus saya lakukan?

Aha… rupanya tuhan maha baik. Beliau mendengar ratapan saya.

Monitor mati dicabut paksa oleh nona perawat.

Saya menarik selimut. Pura-pura memejamkan mata. Tidak peduli tatapan penuh selidik nona manis perawat dan bapak uzur pasien di sebelah.

Ahhh, saya memang kurang ajar. Memejamkan mata malah mengukuhkan bahwa saya memang kurang ajar.

Dan seperti Roni Kubil dan Gadis.., saya harus realistis. Harus menyadari dan tahu diri, bahwa saya hidup dalam dunia yang kurang ajar.

(*BTW, maaf jarang mampir ke blog teman-teman untuk silaturahmi. Kondisi kesehatan saya kurang baik akhir-akhir ini. Maaf yaa*)