November 2007


(*Nama pelaku dan nama lokasi bukanlah nama sebenarnya. Tanpa skrinsyut untuk melindungi hak pribadi karakter-karakter dalam tulisan ini*).

Banyak orang cerita soal reuni. Blogger ternama, mulai dari Mas Joe, Bu Enny hingga Bu Evy, pernah cerita soal reuni. Nampaknya reuni memang seru untuk diceritakan.

Saya ikutan juga ahhh. Hehehe

Reuni adalah pertemuan kembali dengan teman lama. Entah ini istilah dari mana, kapan munculnya dan dari bahasa apa, saya kurang paham. Pada intinya, reuni yang saya ketahui adalah sebuah acara bertemu dengan teman-teman lama.

Ini ada sedikit cerita yang tersisa dari reuni jadul. Selamat menikmati;

(lebih…)

Iklan

Kemarin, saya dapat hadiah dari tiga rumah sakit dari tiga negara. Yaitu informasi yang mengatakan bawa saya positif mengalami gangguan lever. Lumayan kronis. Katanya, disebabkan oleh kurangnya istirahat. Sebab lainnya, masa muda yang nakal dan ugal-ugalan. Hehehe.

Tidak hanya hadiah, saya dapat bonus pula. Bakteri yang bersemayam di perut. Di duga karena racun. Ahaa!

Saya tidak bisa bilang apa-apa selain memanjatkan kalimat syukur. Alhamdulillah saya diberi hadiah. Alhamdulillah saya ditambah nikmat hidup dengan diberi bonus.

Hadiah dan bonus ini memberikan kenikmatan luar biasa pada hidup saya. Sebab sejak dapat amanah ini, saya diberi keleluasaan untuk istirahat. Untuk tidur. Untuk melihat kembali, jejak-jejak hidup yang pernah saya tinggalkan selama ini. Sungguh kenikmatan hidup yang amat istimewa.

Dalam peristirahatan, tadi pagi, seorang teman memberi kabar baru dari Depok. Sebuah cerita tentang anak manusia tengah bergulir rupanya di Depok.

Okay… Okay… Saya berencana akan bercerita mengenai Depok. Tentang seruas jalan romantis sekaligus macet dan berdebu bernama Margonda. Tentang kereta api yang sarat dengan penumpang pemberani. Tentang terminal yang padat riuh dengan manusia yang mengais rezeki. Tentang wajah-wajah zuhud belia yang sedang menuntut ilmu.

Tapi, apa sih Depok itu? (lebih…)

Beberapa waktu lalu, ada beberapa penulis blog Indonesia yang mengaku tinggal di daerah konflik terbuka bagi WNI, secara terang-terangan malah memusuhi WNI yang tidak sepaham dengan mereka. Saya kaget sekali.

Tapi sebelumnya, penonton, ijinkanlah agar saya menerangkan apa itu definisi daerah konflik terbuka bagi WNI (Warga Negara Indonesia).

Daerah konflik terbuka bagi WNI adalah daerah/negara non-RI dimana seringkali terjadi tindak kekerasan atau aksi pelanggaran kemanusiaan bagi WNI. Gamblangnya, WNI yang tidak tinggal di Indonesia, namun diperlakukan sedemikian buruk oleh warga setempat.

Mengapa disebut konflik terbuka? Sebab sepertinya sudah menjadi rahasia umum. Masyarakat sudah mahfum. Sudah tahu. Sering membaca. Namun tindakan yang diambil sedemikian sedikit.

Umumnya perlakuan buruk yang diterima oleh WNI adalah aksi kekerasan domestik rumah-tangga, seperti suami yang suka mukul istri asal Indonesia, atau aksi kekerasan penyiksaan majikan terhadap PRT (Pembantu Rumah Tangga) asal Indonesia, atau malah aksi penjualan WNI sebagai budak atau tenaga kriminal atau malah jadi tenaga pembantu terorisme.

Daerah rawan konflik terbuka ini antara lain adalah beberapa negara di Timur Tengah dan beberapa negara di Asia Tenggara. Dimana banyak sekali muncul kasus WNI yang diperlakukan dengan buruk dan keji. Tidak tertutup kemungkinan di beberapa negara lainnya. Namun di negara-negara diatas tersebut, kasus kekerasan terhadap WNI memang sudah memilukan.

Maka itu, saya jelas kaget, ketika ada beberapa penulis blog asal Indonesia yang tinggal di daerah konflik, malah terang-terangan memusuhi WNI yang tidak sepaham dengan mereka.

Ini contohnya: (lebih…)

Saya sebagai manusia, punya banyak sifat buruk. Salah satu sifat buruk yang saya miliki dan susah direduksi yaitu ‘asal njeplak‘. Asal njeplak itu istilah orang Cilincing untuk menggambarkan manusia yang bicara tanpa lihat-lihat situasi serta kondisi.

Asal njeplak itu kalau dalam bahasa Indonesia mungkin sinonim dengan bicara tanpa berfikir.

Nah, asal njeplak saya ini kadang merugikan diri saya sendiri. Lebih buruk lagi, kadang merugikan bagi orang lain. (*walaupun yang lebih buruk lagi, seharusnya saya menulis hal yang lebih berguna, misalnya, mengenai perubahan semiotika ActionScript3.0 atau perpaduan aplikasi engine gamedev dengan webdev ketimbang menulis pengalaman saya dengan Asal Njeplak, hehe*)

Tapi biarlah, saya tetap akan menulis. Dan ini adalah salah satu cerita mengenai Asal Njeplak.

Ketika tinggal di Bali, dulu… Duluuu (*OK saya mengaku, ini cerita jadul, hehe*), saya dianugrahi kesempatan untuk berkenalan dengan para pemuda Indonesia yang luar biasa.

Mengapa luar biasa?

1. Karena mereka masih muda, mengerti teknologi dan mempunyai motto militan yaitu ‘Belajar untuk kebaikan adalah jihad’
2. Mampu mengorganisir diri sendiri serta lingkungan untuk berkumpul dan berserikat untuk kemajuan warga sekitar
3. Dalam usia yang muda, mampu untuk bergaya hidup disiplin dan sederhana

Salah satu faktor yang membuat saya terperangah adalah mereka bukan berasal dari kaum ningrat, tapi amat memperhatikan orang-orang yang kurang seberuntung mereka. Mereka bukan dari keluarga kaya, tapi tidak segan-segan membantu pelajar rantau kesulitan hidup yang jauh dari orang tua hingga warga sekitar yang membutuhkan bantuan.

Mereka, para pemuda Indonesia yang luar biasa.

Saya bersyukur, bisa berkenalan dengan mereka. Salah seorang dari mereka, sebut saja Doni. Saya selalu memanggilnya dengan sebutan ‘Bli Doni‘.

Ini cerita mengenai Bli Doni (dan Asal Njeplak, hehe) (lebih…)