Beberapa waktu lalu, ada beberapa penulis blog Indonesia yang mengaku tinggal di daerah konflik terbuka bagi WNI, secara terang-terangan malah memusuhi WNI yang tidak sepaham dengan mereka. Saya kaget sekali.

Tapi sebelumnya, penonton, ijinkanlah agar saya menerangkan apa itu definisi daerah konflik terbuka bagi WNI (Warga Negara Indonesia).

Daerah konflik terbuka bagi WNI adalah daerah/negara non-RI dimana seringkali terjadi tindak kekerasan atau aksi pelanggaran kemanusiaan bagi WNI. Gamblangnya, WNI yang tidak tinggal di Indonesia, namun diperlakukan sedemikian buruk oleh warga setempat.

Mengapa disebut konflik terbuka? Sebab sepertinya sudah menjadi rahasia umum. Masyarakat sudah mahfum. Sudah tahu. Sering membaca. Namun tindakan yang diambil sedemikian sedikit.

Umumnya perlakuan buruk yang diterima oleh WNI adalah aksi kekerasan domestik rumah-tangga, seperti suami yang suka mukul istri asal Indonesia, atau aksi kekerasan penyiksaan majikan terhadap PRT (Pembantu Rumah Tangga) asal Indonesia, atau malah aksi penjualan WNI sebagai budak atau tenaga kriminal atau malah jadi tenaga pembantu terorisme.

Daerah rawan konflik terbuka ini antara lain adalah beberapa negara di Timur Tengah dan beberapa negara di Asia Tenggara. Dimana banyak sekali muncul kasus WNI yang diperlakukan dengan buruk dan keji. Tidak tertutup kemungkinan di beberapa negara lainnya. Namun di negara-negara diatas tersebut, kasus kekerasan terhadap WNI memang sudah memilukan.

Maka itu, saya jelas kaget, ketika ada beberapa penulis blog asal Indonesia yang tinggal di daerah konflik, malah terang-terangan memusuhi WNI yang tidak sepaham dengan mereka.

Ini contohnya:

Bangaiptop (16.40.23): “Akhi, denger-denger, antum tinggal di Saudi yaa” (*akhi=saudara, antum=anda*)
<nama-sensor> (16.42.12): “Alhamdulillah akhi. Sudah 8 tahun”
Bangaiptop (16.45.01): “Ana baca di blog antum, kok banyak sekali pelabelan munafikun dan kafirun terhadap sesama WNI yang muslim? Apa itu bukannya blunder buat dakwah antum? Bukannya jadi kontraproduktif?” (*ana=saya*)
<nama-sensor> (16.50.03): “Dakwah memang harus keras, akhi. Kalo lembek, itu peyeum” (*peyeum= makanan sejenis tape*)
Bangaiptop (16.55.50): “Hehehe, antum bisa aje. Tapi masalahnya kan bukan begitu akhi. Banyak sekali WNI kita yang jadi TKW di negara tempat antum tinggal diperlakukan buruk. Blog antum kan bisa jadi sarana untuk membantu mereka. Secara antum sudah 8 tahun tinggal disana dan mengerti seluk beluk administrasi dan hukum setempat”
<nama-sensor> (17.02.02): “akhi, TKW indo itu kaum musyrikin. kbanyakan orang NU, ndesit. suka ke kuburan kalau iedul fitri. suka empat puluh harian, suka nujuh bulanan. musyrik itu! membantu orang musyrik itu dosa, akhi
Bangaiptop (17.04.53): “Astagfirullah, antum ini mulutnya berbahaya sekali, akhi. Kita sesama manusia, satu kampung atau bukan, satu pandangan politik atau bukan, satu agama atau bukan.., bukannya wajib saling membantu?”
<nama-sensor> (17.10.22): “antum ini orang jil ya? ana sudah lama curiga dengan tulisan-tulisan antum?”
Bangaiptop (17.11.37): “jil itu apa, akhi?”
<nama-sensor> (17.12.44): “JIL itu pokoknya munafik. ngaku islam tapi bukan orang islam”
Bangaiptop (17.13.08): “Wahh, antum ini nampaknya sudah panas, akhi. Sayang sekali diskusi ini berakhir begini. Ana mohon pamit, akhi. Terimakasih yaa sudah chat dengan ana. Insya Allah, kalau ada waktu dan kondisi sudah membaik, kita sambung lagi. Wassalamualaikum

Salam saya tidak dijawab. Saya ulangi lagi salam. 10 menit… 20 menit… Setengah jam… Saya menunggu. Ternyata beliau memang benar-benar ‘panas’. Salam saya benar-benar tidak dijawab. Tidak lama kemudian, beliau terlihat log-out dari ruang chat.

Saya kaget… Dan benar-benar kaget. (*padahal nggak biasa ber-antum-ana-akhi*)

Saya kaget, bukan gara-garam salam yang tidak dijawab. Tapi kaget, ada manusia Indonesia yang menutup mata atas kezaliman terhadap manusia Indonesia lainnya, hanya gara-gara si malang tersebut mengunjungi makam keluarganya ketika hari lebaran.

Kedua, saya benar-benar terhenyak. Ketika lawan bicara saya, secara sadar mengakui kelemahan pemerintah Indonesia dalam melindungi warganya yang tinggal di luar Indonesia, namun di sisi lain ia tidak mau berbuat apa-apa ketika ia tahu bahwa ia mampu berbuat sesuatu untuk melindungi saudara senegaranya.

Ketiga, saya kagum dengan betapa mudahnya orang Indonesia (termasuk saya) yang amat mudahnya memaki penguasa. Sebab untuk mengevaluasi kinerja kerja penguasa, seluruh kalimat dapat meluncur deras bagai aluran kotoran pipa menuju septic tank. Sekan semua makian anjing-babi-bangsat sanggup membuat telinga tuli pemerintah Indonesia terbuka begitu saja. Seakan semua kutukan dan sumpah serapah mampu membuat iblis dalam pemerintah RI berubah menjadi malaikat berjubah putih yang dengan sigap menolong warganya.

Saya benar-benar kaget.

Dan saya lebih kaget lagi ketika fakta menunjukkan;

1. 62,7 % dari 6750 pelacur di Malaysia berasal dari Indonesia. 40 % dari mereka, dibawah 18 tahun. Hebat kan, sekitar 1700 orang pelacur ABG Malaysia, adalah WNI.

2. Pada tahun 2004, dibuat Undang-undang no.39 yang judulnya adalah “PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA“. Kalau undang-undang itu sukses, kenapa Ceriyati, TKW asal Brebes, harus berusaha loncat dari lantai 15 untuk kabur dari majikannya pada tahun 2007?

3. Pada tanggal 3 Juli 2007, Presiden RI yang terhormat, menerbitkan Keputusan Presiden no.77 tahun 2007. Isinya, deskripsi investasi bisnis yang terlarang di Indonesia. Ada 25 larangan bisnis disana (termasuk larangan pembudidayaan ganja, investasi berbau tempat reliji, penanaman modal pada teknologi senjata kimia dan lainnya). Sayang sekali, tidak ada larangan bisnis manusia disana. Seakan, dagang WNI adalah halal di Indonesia.

4. Perdagangan manusia Indonesia itu sudah banyak. Mulai dari yang masih dalam taraf penjajakan, seperti penculikan anak-anak dibawah umur. Lalu perdagangan manusia domestik. Hingga pengiriman tenaga kerja tak berdokumen. Masih untung kalau bisa kembali ke Indonesia. Kalau tidak, bagaimana?

Saya tidak kaget, ketika mengetahui bahwa perlakuan buruk terhadap WNI di luar Indonesia itu bersaudara kembar dengan perdagangan WNI. Yang jadi pertanyaan adalah, apakah pemerintah mengetahui hal ini?

Tanya: Apakah Pemerintah RI tidak tahu ada bisnis jual beli WNI?
Jawab: Jelas tahu. Ini buktinya;

a. Deputi Menkokesra (Kementrian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat) tahu mengenai adanya perdagangan manusia Indonesia.

b. Menkokesra sendiri sudah jelas-jelas memberikan sinyalemen bahwa ada industri perdagangan manusia dalam website mereka.

c. Pansus RUU Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) memberitahu bahwa 30 persen manusia dari total perdagangan ‘jual-beli daging siap pakai’ internasional adalah WNI.

d. Bahkan Presiden RI sendiri mengetahui bahwa warganya sering jadi korban perdagangan ugal-ugalan.

Setelah menulis ini, lama saya termangu. Sudah saatnya saya berhenti berharap akan ada malaikat tampan gagah perkasa, turun dari langit, memberantas kezaliman atas seluruh WNI, TKI/TKW yang dibunuh, disiksa, diperkosa. Sudah saatnya saya berhenti berharap, bahwa ada tangan tuhan yang bertindak pada manusia-manusia cabul pedagang anak dibawah umur, perampas kemerdekaan hak manusia, perubah wanita baik-baik menjadi pelacur.

Sudah saatnya saya berhenti berharap. Sebab ini sudah saatnya mengepalkan tangan dan lalu menghunus pena. (Lebih baik lagi, sama-sama bahu membahu mencegah perdagangan dan aksi kekejaman terhadap WNI)

(*Karena orang Indonesia bukanlah budak. Orang Indonesia tidak dilahirkan untuk menjadi budak. Orang Indonesia tidak dibesarkan untuk diperdagangkan di pasar budak. Orang Indonesia tidak untuk ditilik, ditimbang dan dilihat hanya untuk menjadi mangsa kebuasan manusia lainnya. Sebab Orang Indonesia, adalah manusia merdeka, bagian dari sebuah bangsa yang merdeka*)

Tulisan yang terkait:
TKW di negeri Arab, gaya baru perdagangan manusia (Karya: Didats, tetangga sebelah)
Pendukung TKI
Data Perdagangan Manusia di Indonesia 1999-2002 (PDF)