Kemarin, saya dapat hadiah dari tiga rumah sakit dari tiga negara. Yaitu informasi yang mengatakan bawa saya positif mengalami gangguan lever. Lumayan kronis. Katanya, disebabkan oleh kurangnya istirahat. Sebab lainnya, masa muda yang nakal dan ugal-ugalan. Hehehe.

Tidak hanya hadiah, saya dapat bonus pula. Bakteri yang bersemayam di perut. Di duga karena racun. Ahaa!

Saya tidak bisa bilang apa-apa selain memanjatkan kalimat syukur. Alhamdulillah saya diberi hadiah. Alhamdulillah saya ditambah nikmat hidup dengan diberi bonus.

Hadiah dan bonus ini memberikan kenikmatan luar biasa pada hidup saya. Sebab sejak dapat amanah ini, saya diberi keleluasaan untuk istirahat. Untuk tidur. Untuk melihat kembali, jejak-jejak hidup yang pernah saya tinggalkan selama ini. Sungguh kenikmatan hidup yang amat istimewa.

Dalam peristirahatan, tadi pagi, seorang teman memberi kabar baru dari Depok. Sebuah cerita tentang anak manusia tengah bergulir rupanya di Depok.

Okay… Okay… Saya berencana akan bercerita mengenai Depok. Tentang seruas jalan romantis sekaligus macet dan berdebu bernama Margonda. Tentang kereta api yang sarat dengan penumpang pemberani. Tentang terminal yang padat riuh dengan manusia yang mengais rezeki. Tentang wajah-wajah zuhud belia yang sedang menuntut ilmu.

Tapi, apa sih Depok itu?

Menurut wikipedia, Depok adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini terletak tepat di selatan Jakarta, yakni antara Jakarta-Bogor.

Depok merupakan kota penyangga Jakarta. Ketika menjadi kota administratif pada tahun 1982, penduduknya hanya 240.000 jiwa, dan ketika menjadi kotamadya pada tahun 1999 penduduknya 1,2 juta jiwa. Entah berapa jumlah penduduknya saat ini? Entah sebesar apa jalan utamanya. Sebab sebesar apapun pelebaran jalan utamanya, Jalan Margonda, tetap saja selalu macet.

Yaa, ini cerita mengenai Depok.

Flashback (Depok 1997)

Setiap pulang sekolah, saya, Cirul, Andri dan Candra nongkrong bareng di warung empek-empek, makanan khas palembang. Yang punya warung, temen kami. Warung ini terletak di Jalan Margonda, Depok.

Candra ini anak pinter, amat peduli dengan kemajuan Indonesia. Sibuk membicarakan perbaikan di Indonesia. Sementara Cirul dan Andri ini pemuda yang berhati mulia, sibuk menggalang aksi pendidikan anak jalanan. Sedangkan saya, mau nggak mau ikut-ikutan sibuk juga. Sibuk memperhatikan gadis-gadis manis pelajar yang lalu lalang di sekitar jalan Margonda. Hehehe.

Hari sudah menjelang Isya. Para pelajar pulang sekolah hingga anak-anak jalanan yang pulang mengamen berdatangan di warung. Kami semua sibuk diskusi.

Sambil diskusi, mata saya tetap ‘belanja’ kiri-kanan melihat gadis-gadis manis belia berbusana ketat makan empek-empek. Cihuuyy!

Hingga akhirnya hari menjelang tengah malam. Warung tutup. Candra dan pelajar lainnya yang rumahnya jauh dari Depok, pulang ke rumah. Cirul beserta sebagian besar anak jalanan yang berusia dibawah 15 pulang ke Rumah Bambu, rumah singgah anak jalanan. Saya, Andri, anak jalanan abege, serta beberapa pemulung gelas plastik aqua, masih diskusi sambil ketawa-ketiwi.

Pukul 2 dinihari (masih di hari yang sama di tahun 1997, masih di Depok)

Saya kecapekan. Gelar koran bekas. Berbaring di antara anak-anak jalanan di emperan depan warung empek-empek. Andri dan beberapa pemulung masih diskusi. Derau knalpot angkot gelap dinihari Pasar Minggu-Depok tidak membuat mata saya terjaga. Diskusi yang diselingi menghisap rokok sebatang beramai-ramai dan kopi, juga tidak membuat saya terjaga. Saya letih… Saya hanya ingin tidur.

Pukul 2.30 dinihari

Terdengar suara ribut-ribut. Saya malas membuka mata. Saya masih letih. Sial, kaki saya di tendang keras sekali. Astaga! Siapa ini yang kurang ajar? Ngajak ribut anak Cilincing kali yaa?

Saya bangun. Kesel banget. Tinju saya sudah mengepal. Di depan saya, bapak-bapak. Pakai seragam coklat. Disampingnya ada bapak-bapak juga, sama seragamnya, bawa pentungan. Bajingan… Rupanya mereka Satuan Polisi Palsu. Salah satu dinas pemerintah yang merupakan perpanjangan tangan kotor penguasa.

+ “Pak, yang bener aja dong. Orang lagi tidur kok ditendang”
– “Udah jangan banyak omong luh. Naek ke truk sono”
+ “Pak, saya mao tidur nih”
– “E-eh, ngeyel luh yah. Gue beri juga luh!”

Saya diam sejenak. Melihat situasi. Jalanan ramai sekali. Banyak warga malam yang menonton. Dua mobil kijang dengan lampu biru diatasnya serta sebuah truk besar yang setengahnya terisi anak-anak dan ibu-ibu, memblokir jalanan.

Gerobak pemulung mulai dihancurkan para seragam coklat.

Saya lihat di samping mobil kijang, Andri dan beberapa anak jalanan bersitegang dengan salah satu anggota Satuan Polisi Palsu. Mereka dipukul pake pentungan. Saya lari ke arah Andri. Saya tonjok orang yang memukul Andri. Dan saya terus memukul dengan membabi-buta.

Tidak lama kemudian, kiri kanan tangan saya dikempit paksa dari belakang. Entah oleh siapa. Tapi kaki saya masih bebas. Saya terus menendang semua orang yang dekat dengan saya. Saya tahu saya akan kalah… Tapi saya terus menendang.

Hingga tiba-tiba, BLETAKK!

Bagian kepala belakang saya dipukul. Saya jatuh pingsan.

Pukul 3.30

Saya terbangun. Lalu jongkok dan menunduk. Kepala saya sakit sekali. Saya mengusap-usap leher belakang. Gila, benjol gue, men!

Badan saya terguncang-guncang. Saya lihat kiri kanan. Ternyata saya ada di bak terbuka truk. Ada Andri, masih tergeletak di lantai truk, pingsan. Ada anak-anak jalanan jongkok bersender di dinding truk. Di bagian depan bak truk ini, saya lihat ada beberapa ibu-ibu yang menggondong bayinya dalam kain kumal. Rahmat, salah satu anak jalanan mendekati saya, “Tukang minta-minta, Bang”, katanya sambil menatap para ibu-ibu itu.

Saya check kondisi Andri. Pelipisnya luka. Bibirnya bengkak. Matanya lebam. Saya ambil botol minuman dari tas. Saya songsongkan ke mulutnya.

Saya ingin menangis. Hati saya terluka. Tapi saya tahan. Semua mata menatap saya.

Tidak lama setelah Adzan subuh

Andri tidak kunjung sadar. Konvoy berhenti di tempat gelap. Banyak suara alam. Saya perkirakan kami ada di pinggir hutan. Entah hutan apa? Entah ada di mana?

– “TURUN!… Semua TURUN!”
+ “Pak, ada di mana nih?”
– “Banyak cingcong luh! TURUN!”
+ “Pak, yang bener aja dong. Emangnya kita sapi, maen diturunin sembarangan”

Seorang seragam coklat datang lagi. Ia yang memukul Andri. Mengayunkan pentungan ke kepala tanpa saya sempat membalas.

Saya pingsan lagi.

Sekitar pukul enam pagi

Matahari sudah mulai terang ketika air memasuki tenggorokan saya. Rupanya Andri memberi air. Saya lihat sekeliling, kami ada di tepi jalan belum beraspal. Masih berbatu. Ada Andri di samping saya. Anak-anak jalanan, pemulung, ibu-ibu pengemis, bergerombol di belakang kami.

+ “Dri, ada apaan ini?”
– “Waktu lo tidur, Rip, pemulung cerita, lagi ada banyak razia”
+ “Razia apaan?”
– “Intinya sih bagus. Buat kebersihan Depok. Sialnya, orang miskin dianggap sampah”
+ “Buset! Jadi kita dibuang ke sini biar Depok bersih! Kita dimana nih?”
– “Gunung Bunder”

Saya bengong. Gunung Bunder itu di ada di Bogor. Lokasi ini terkenal bagi para pecinta alam yang mendaki Gunung Salak, salah satu gunung tertinggi di Pulau Jawa. Saya bengong, gimana bisa pulang ke Depok?

Anak-anak jalanan sudah gelisah. Begitu pula ibu-ibu pengemis dan para pemulung. Saya tahu, mereka lapar dan merasa asing. Sebuah kombinasi hidup yang cukup untuk membuat orang miskin tak berpendidikan menjadi pencuri.

Saya bilang sama Andri untuk menjaga mereka. Saya lari turun ke bawah. Nyari bantuan. Alhamdulillah setelah setengah jam lari, ada kampung dan ada musolah Ar-Rachman.

Haji Husen, Imam Musolah Ar-Rachman membantu saya. Tanggap sekali ia mengkordinir warga setempat untuk menyiapkan sarapan. Sehabis sarapan, kami diantar Mang Sobirin yang punya angkot jurusan Leuwiliang. Kami diongkosi oleh warga setempat untuk naik kereta, pulang ke Depok.

Saya terharu. Betapa bangganya saya dengan warga Gunung Bunder. Di tengah himpitan kerasnya krisis ekonomi. Di tengah ganasnya rimba hidup Indonesia. Di tengah galaunya politik dalam negeri. Masih ada manusia luar biasa yang tanpa pamrih membantu manusia lain.

Saya ingin menangis. Tapi saya tahan.

(*Kejadian ‘buang orang miskin’ ini terus berlangsung bertahun-tahun. Andri dan beberapa anak jalanan demo, turun ke jalan. Mereka diacuhkan. Hingga suatu hari Andri melempar molotov ke kantor walikota. Mereka berhenti mengacuhkan, dan mulai memburu Andri. Andri jadi buronan dan kemudian menderita schizophrenia. Sejak saat itu, Fri Gallery, sekolah seni untuk anak jalanan diancam dibakar oleh penelpon misterius. Kami dianggap komunis yang halal darahnya*)

Saat ini, mulai terjadi lagi aksi kekejaman Pemerintah Depok. Mau mengetahui lebih lanjut?

Mau berbuat sesuatu?

Silahkan klik halaman Dukung Bersihar Lubis.