(*Nama pelaku dan nama lokasi bukanlah nama sebenarnya. Tanpa skrinsyut untuk melindungi hak pribadi karakter-karakter dalam tulisan ini*).

Banyak orang cerita soal reuni. Blogger ternama, mulai dari Mas Joe, Bu Enny hingga Bu Evy, pernah cerita soal reuni. Nampaknya reuni memang seru untuk diceritakan.

Saya ikutan juga ahhh. Hehehe

Reuni adalah pertemuan kembali dengan teman lama. Entah ini istilah dari mana, kapan munculnya dan dari bahasa apa, saya kurang paham. Pada intinya, reuni yang saya ketahui adalah sebuah acara bertemu dengan teman-teman lama.

Ini ada sedikit cerita yang tersisa dari reuni jadul. Selamat menikmati;

Karena dulu sempat mencicipi kenakalan remaja, salah satu efek sampingnya adalah sekolah saya sering pindah-pindah. Positifnya, pergaulan jadi lebih luas. Negatifnya, ketika baru saja akrab dengan teman baru… sudah harus pindah lagi.

Suatu hari, saya dapat email. Teman-teman dari sekolah tertentu ingin mengadakan reuni. Mereka mengajak saya. Saya balas pesan tersebut dengan kalimat singkat, “Saya ikut, dong!

Akhirnya pada hari yang sudah ditentukan, saya datang ke pesta reuni tersebut. Tempatnya di sebuah kafe di bilangan tengah Jakarta. Kafe ini cukup terkenal. Dekat kantor perkumpulan antar negara sedunia. Kaget juga saya, sebab kafe ini biaya sewanya cukup mahal. Dan malam ini, full booking hanya untuk pesta reuni kami.

Ketika saya sedang bertanya dalam hati, di pintu masuk, Mbak Resepsionis nan manis menyodorkan buku tamu. Sebenernya males juga mengisi buku tamu. Tapi yaahh, udah reuni gratis banyak komplen pula. Saya isi dah tuh buku tamu.

Loh, abis ngisi buku tamu, Mbak Resepsionis (*tag namanya, Indri*) menelpon;

+ “Bu, Pak Arif Kurniawan sudah datang…”.
– “…”
+ “Nama kerennya?”
– “…”

+ “Pak, nama keren bapak apa?”
– “Hah, buset, apaan tuh?… Emang nama saya kurang keren apa lagi?”
+ “Bu, katanya nggak punya nama keren…”
– “…” (*saya diem sambil bersungut-sungut*)
+ “Iya, bu, katanya nggak punya nama keren… Panggilan? Ooh nama panggilan?”
– “…” (*saya makin bengong*)

+ “Pak, nama panggilan bapak apa?”
– “Bangaiptop”
+ “Katanya Bangaiptop, Bu”
– “…”

+ “Pak, kata Ibu, di list adanya Bangaip. Tapi nggak pake Top”
– “Yaelahh, bujugbuneng dah. Masak saya mao ketemu temen aja dikerjain dulu sih?”
+ “Bu, katanya yaoloh bonengboneng masak… Ooh Ibu denger juga? …Trus Bu?”
– “…” (*tambah dongkol*)
+ “Pak, silahkan masuk. Ibu Ita bilang kalau bapak memang Bangaip”

Sambil bengong, dalam hati saya kembali berfikir, identified scanner-nya sungguh ajaib betul. Saya tanya lagi pada Mbak Indri, “Mbak, kan sekarang sudah ada KTP… Sudah ada paspor… Untuk mengetahui identitas, buat apa pertanyaan jebakan betmen kayak gini?”

“Ahh bapak, kayak nggak tahu aja. Ini kan Indonesia. Apa-apa suka dipalsuin. Calon anggota dewan aja rela malsuin ijasah.”

“Yaelah, masak mao reuni aja malsuin paspor”.

“Ini kan Indonesia, Pak”. Katanya sambil gigit-gigit kuku.

Ketika garuk-garuk kepala mendengar jawaban ngasal si Mbak Indri. Tiba-tiba ada tante-tante keluar dari pintu. Lari-lari kecil mirip pelem india. Tanpa terduga, begitu sudah dekat, langsung meluk saya, terus cipika-cipiki (cium pipi kanan cium pipi kiri).

“Ya olooohhh ayiippp… Apa kabar loooo… Kemenong ajeee…!!!”

Waduh, saya benar-benar gelagapan. Mimpi apa saya semalam. Sudah dikerjain resepsionis, kali ini, harus menerima azab, dipeluk cium dan dicubit-cubit tante-tante menor ga jelas.

“AYIIPPP… Ini Ita, yiip. Lo lupa ama gue, Say”

Saya senyum balik, “Eh lo, Ta.. Pakabar?”. Biasa, sapaan basa basi sok akrab. Abis mau ngomong apa lagi. Tapi sesungguhnya, yang sebenarnya terjadi adalah sumpah mati saya lupa ia siapa.

Saya digiring oleh Ita ke ruang dalam kafe. Dikenalkan satu persatu. Lebih tepatnya, diingatkan kembali, teman-teman lama yang berubah pesat sejak terakhir kali ketemu. Minimal, perubahan yang terlihat jelas adalah postur tubuh dan jumlah rambut di kepala.

Selain perbahan berat badan, yang terlihat berubah dari teman-teman saya terdahulu adalah gaya mereka berpakaian.

Walaupun ada kemungkinan mereka mengenakan pakaian jas resmi karena ini forum reuni? Atau mau terlihat agar mirip James Bond? Atau memang menandakan status sosial?

Sebab katanya, apabila tinggal di Jakarta, pakaian menandakan derajat. Makin bagus pakaiannya, makin tinggi derajatnya. Benar tidaknya, entahlah, saya kurang paham.

Tapi yang jelas, kontras dengan jeans dan kaus yang saya pakai. Yang lebih parah lagi, saya bener-bener saltum, alias salah kostum. Tulisan segede gaban di kaus saya adalah ‘MEMBLE TAPI KECE’ dengan logo Rolling Stones besar-besar. Menjadikan saya manusia jadul satu-satunya di kafe sebesar ini.

Duh gusti. Kecele rupanya saya. Sebab sebelum berangkat, saya pikir teman saya tidak banyak berubah. Masih suka style nongkrong ala jadul. Ternyata saya salah total. Hehehe.

Pelan-pelan, saya mulai ingat Ita.

Ita membawa saya ke lounge bar. Dia pesan Long Island Ice Tea, minuman cocktail campuran antara vodka, gin, rum, tequila, dan kola. Saya pesan es teh beneran, nggak berani pesan macem-macem, maklum perut anak kampung, takut mencret.

Satu gelas tandas. Ita cerita mengenai teman-teman kami. Apa saja pekerjaan mereka. Ia menunjuk di sudut kanan, ke arah para lelaki yang pakai dasi dan merokok cerutu. Katanya, mereka bankir. Diantaranya bahkan ada seorang calon deputi institusi keuangan di negara ini. Disekelilingnya para pengusaha. Bagaikan lebah dengan madu. Kekuasaan berdampingan dengan pemilik modal.

Seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan. Pakiannya tidak separah dan sejadul saya. Tapi saya bersyukur, tiba-tiba ada teman. Sesama pemakai celana blue jeans. Ia celingak-celinguk kiri-kanan. Mencari wajah yang familiar. Tapi nampaknya tidak ada yang familiar. Lalu duduk sendiri di pojok. Ahhh, kasihan.

Saya ingin menyapanya. Ita memegang lengan saya. “Si Rinto tuh, Yip. Lo inget ga, yang dulu doyan maling pulpen. Parah tuh anak. Gue ga tau, siapa yang ngundang. Padahal reuni ini kan gue koordinatornya”.

– “Ooh si Rinto. Hebat juga lo masih ngeh. Bisa ngenalin orang. Tapi kan ga ada buktinya dia maling, Ta”
+ “Halah… Sekali maling tetep aja maling”
– “Yuk, ajak nongkrong bareng”
+ “Males gue. Males ngomong ama maling”
– “Ya udah, kalo gitu gue nongkrong bentar ama Rinto”
+ “Nanti aja dong, gue masih kangen ama lo nih”.

Ita pesan gelas kedua. Lalu menunjuk tengah ruangan. Gerombolan ibu-ibu yang tengah asik ceria ketawa-ketiwi. Sambil berbisik, Ita bilang “Si Meli, si Rita, si Yanti dan genknya. Gabuk pada tuh, Yip. Keasikan ama karir, lupa kawin. Doyannya ama brondong. Hebat kan Jakarta. Emang laki-laki aja yang bisa maen daun muda!”

Sementara itu, saya lihat, tidak ada seorangpun menghampiri Rinto.

Gelas ketiga Long Island datang. Ita tampak melamun. Saya tanya mengenai Letnan Cepi, suaminya, sahabat saya. Dan bertanya-tanya, kenapa Cepi tidak datang malam ini.

Sambil meneguk gelas ketiga, Ita cerita. Bahwa rumah tangga mereka sudah lama hampa. Cepi sekarang sudah bukan letnan lagi. Pangkatnya sudah tinggi menjulang. Rumah mereka juga sudah banyak dimana-mana. Dan Ita selalu merasa sepi.

Cepi menikah lagi. Istri mudanya mahasiswi S2. Sekaligus pengusaha. Entah bosan, entah malu ketika kondangan, entah gairahnya yang tidak lekang oleh usia, Cepi memutuskan menikah lagi.

Saya melirik Ita. Kembang sekolah. Gadis tercantik yang pernah ada di sekolah yang pernah saya singgahi. Pujaan para remaja pria. Yang begitu lulus sekolah langsung menikah dengan Cepi, yang juga baru lulus sekolah perwira. Pesta pernikahan mereka gegap gempita. Bagaikan Rama dan Sinta. Yang pria gagah perkasa, yang wanita cantik jelita.

Dan waktu pun berlalu. Waktu pula yang membuktikan cinta remaja mereka terbuat dari kaca atau permata.

Saya melirik Ita. Kembang ini telah layu. Terhisap oleh berlikunyanya hidup seorang ibu rumah tangga. Menyadari betapa kejamnya waktu menggerogoti kecantikan seorang wanita.

Saya melirik Ita. Ia melamun. Mungkin pengaruh alkohol. Saya papah, menuju kursi agar ia bisa bersandar. Tangannya tanpa sengaja menyenggol gelas. Ia menumpahkan Long Island ke kaus saya. Aduuh.

Saya lihat, Rinto berdiri, menuju pintu keluar.

Saya pamit sebentar. Lalu lari menuju Rinto. Saya kangen Rinto.

Dulu, si Rinto ini orangnya pendiam. Bapaknya tukang sablon. Dia, pulang sekolah, sering bantu bapaknya bikin reklame dan stempel kayu. Sayang bapaknya pemabuk, suka main pukul sembarangan. Rinto dan ibunya sering jadi sasaran bogem mentah sang bapak.

Saya tahu, sebab saya dulu sebangku di sekolah dengan Rinto. Orangnya pendiam. Dituduh apapun, diam saja. Karena diamnya itu, ia sering dituduh maling. Dituduh bandar narkoba. Dituduh suka judi.

Saya tahu, ia diam, karena dirumahnya sudah sedemikian banyak masalah. Kasihan.

Rinto keluar. Saya kejar. Saya lihat ia bertanya pada satpam. Saya buntuti. Saya mau kasih kejutan. Ciluk baa… Hehehe.

Rinto menyelip ke arah departement store penjual baju. Di seberang kafe ini. Lalu masuk menuju gang sempit. Wah kali ini saya yang terkejut. Ngapain Rinto masuk gang sempit?

Astaga, ternyata dalam gang sempit ini ada musolah. Wah si Rinto mao solat isya rupanya. Saya panggil si Rinto;

– “Too… Rinto…”
+ “Ehh… Eerrr… Err…”
– “To, gue arip, men. Kita sebangku dulu”

Rinto menjabat tangan saya keras-keras. Saya pake acara dipeluk segala. Wah jadi malu juga nih, malem-malem, di depan musola peluk-pelukan. Ama cowok pula. Hehehe.

– “Wahh Rip. Apakabar lo? Sehat? Kangen gue sama elo”
+ “Alhamdulillah sehat, To”
– “Gua seneng banget ketemu lo Rip. Gue kira ga ada yang kenal gue disono. Malu banget gue, udah nggak ngeh ama temen-temen kita yang dulu”
+ “Gua juga seneng To ketemu lo. Gimana keluarga lo? Sehat?”

Rinto menatap saya lekat-lekat. Ia tidak menjawab. Senyum mengembang lebar. Nampaknya ia gembira bertemu saya. Saya juga ikut senang.

– “Rip, solat dulu yu ahh. Ntar gua traktir makan sop. Tuh ada sop enak, di pinggir jalan”
+ “Kan ada makanan gratis di dalem, To. Kita bisa makan minum sepuasnya. Gratis men!”

Rinto menatap saya sambil tersenyum “Rip, gue tau siapa yang ngundang kita. Anak buahnya Ita bilang, Cepi yang jadi promotor acara ini buat nyenengin Ita. Biar dia ga marah kalo Cepi kawin lagi. Cepi itu letnan kolonel, Rip. Bukan gua ngrendahin. Tapi rasanya ga lazim gaji letkol enam bulan dihabiskan cuma buat semalaman ini doang”

Saya diam. Kaget. Rinto, sambil tersenyum, menambahkan “Lo ga takut, makan dari makanan yang nggak jelas asal-usulnya?”

Saya tambah diam. Rinto menepuk bahu saya “Maap lah, gue ga maksud prasangka buruk loh. Gue cuma pengen nraktir elo dari uang sablon. Hehehe. Omong-omong, kenapa baju lo?”

Saya menunduk sambil cengar-cengir. Menatap kaus bibir dower Rolling Stones MEMBLE TAPI KECE yang ketumpahan Long Island.

Membayangkan es teh yang telah bersemayam dalam perut, tiba-tiba ingin buang air kecil.