Waktu kecil, saya sempat menyukai Mbak Rini.

Suka? Maksudnya suka seperti apa?

Yaa jelas suka seperti halnya laki-laki menyukai wanita. Namun, namanya juga anak-anak. Mungkin ini kali yaa yang namanya cinta monyet. (*Kalau orang dewasa jatuh cinta, apa namanya yaa? Hehe*)

Rumah Mbak Rini ini tidak jauh dari rumah Ibu saya di Cilincing. Kira-kira 15 menit naik sepeda. Dan itu jelas sebuah kebahagiaan tersendiri. Sebab kata si Ami, adik saya, “Lokasi menentukan prestasi. Kalo pacaran jarak jauh, namanya korospondensi”

Mbak Rini ini manis. Keturunan Cimahi asli. Mojang priangan, euy. Mantan murid ibu saya. Usia kami beda sekitar tujuh tahun. Ia lebih tua. Sudah kuliah. Sementara saya, masih pakai celana pendek biru kalau berangkat sekolah.

Tapi bukan kah cinta tidak memandang usia?
(*gombalan remaja abege yang dilanda oedipus complex, hehe*)

Maka, atas dasar gombalan diatas, pada suatu sabtu siang sepulang sekolah, saya beranikan diri menyambangi Mbak Rini.

Hari itu, saya gosok gigi tiga kali. Pagi mandi. Siang juga mandi. Pakai pakaian yang paling keren sedunia. Celana blue jeans baggy dan kaus berkerah. Tidak lupa topi pet ala Ari Wibowo. Penyanyi madu dan racun. Pokoknya rapi jali deh. Maklum, mau ‘nembak’ hati seorang gadis manis.

Di depan rumah Mbak Rini, saya sandarkan sepeda BMX warna merah. Dua jari dijilat sedikit terus dicocol ke alis, biar keliatan tambah ganteng (*jorok banget yak*). Rambut diucek-ucek biar mumbul.

“Assalamualaikum”, suara agak saya rendahkan, agar terdengar bergaya nge-bas. Gaya orang dewasa. Sekaligus niru-niru penyiar radio RRI ternama.

“Haaykumhayaam”, dibelakang pintu menyahut suara yang tidak kalah beratnya. Buset dah, suaranya serem amat! Saya sampai terlonjak kaget. Jangan-jangan salah alamat, kesasar di rumah jin.

Pintu dibuka. Saya sudah siap-siap baca surat An-Nas. Dalam hati mikir begini ‘pokoknya kalo jinnya macem-macem, gue gebugin, terus gue baca-bacain biar kebakar’. Maklum masih abege, masih dipengaruhi adegan pelem horor Indonesia.

Kreek… pintu terbuka juga. Yang muncul ternyata bukan jin atau sundel bolong seperti yang saya kira. Melainkan seorang remaja tanggung. Duduk di kursi roda. Kepalanya tengleng, miring. Mulutnya juga ikut miring. Ada air liur menetes dari sela-sela bibirnya.

Dalem hati saya membatin, ‘Masaoloh, jangan-jangan nih anak kena santet?’

Tapi saya nggak nggak berani ngomong begitu. Saya cengar-cengir saja di depan pintu sambil memegang kembang, sekuntum mawar colongan dari kebun ibu.

Si santet memandang curiga.

+ “Hyapaa yuuh?”
– “Saya arip, temennya Mbak Rini. Mbak Rini ada?”

Dia teriak kenceng banget, “Mbaa hyinii…, mbaa hyinii… ahsha ahyiib… vhawaa khemvhaang!”.

Mbak Rini keluar. Sambil senyum. Aduh manisnya. Saya sampai lupa pada si Santet dan bahasanya yang ajaib. Mbak Rini datang memamerkan deretan giginya yang sempurna sambil berkata “Aduh Arif. Siang-siang bawa kembang. Mao nyelawat kemana?”

– “Yee, ini buat Mbak Rini. Kira-kira aja dong, masak aye bawa mawar disangka mao nyekar”
+ “Oh ya, ada apa Rif”
– “Gini mbak.. gini…”

Aduh, gelisah sekali saya. Menyatakan cinta, bagi laki-laki macam saya, adalah hal yang berat. Luar biasa berat. Menyatakan cinta, mengutarakan perasaan halus perwujudan suka, mengungkapkan isi hati terhadap wanita, di Cilincing bukanlah sebuah budaya. Yaa, kami para laki-laki, terbiasa dilatih untuk menindas setiap airmata dan kalimat pengungkap cinta.

Tapi siang ini, detik ini juga… Saya harus mengungkapkan perasaan saya. Que sera, sera. Apapun yang akan terjadi, biarlah terjadi.

– “Gini Mbak… aduh, gimana yaa.. aduh, gini…”
+ “Kamu nervous amat, Rif”
– “Err.. aye demen ama Mbak. Errr… aye suka ama Mbak, …begitu”
+ “Ooh, gitu aja, sampe keringetan segala. Kirain ada apaan?”

Wah saya kecewa, perjuangan saya menyatakan cinta kok cuma dibilang “Gitu aja sampe keringetan segala“. Mbak Rini tidak tahu beratnya menyatakan cinta bagi remaja tanggung macam saya.

Bilang ‘Aylopyu’ itu jauh lebih susah, berat dan berliku ketimbang harus berantem dengan orang sekampung. Sebelum kalimat sakti itu terucap, begitu panjang dan berliku jalan yang harus ditempuh oleh seorang lelaki (kecuali ia tipe buaya darat, yang doyan mengumbar cinta).

Tapi begitu melihat Mbak Rini senyum, musnahlah semua kekecewaan saya. Senyumnya memang benar-benar membasuh luka.

Ia memegang pundak saya.

+ “Saya merasa tersanjung loh, Rif. Tapi…”
– “Yaah, kok ada tapinya sih?”
+ “Kamu ini terlalu muda untuk bilang cinta”
– “Kan cinta kaga mandang umur, Mbak?”
+ “Hehe, gombalan kamu mirip pria dewasa”
– “Badan aye boleh kecil, tapi aye lelaki tulen loh, Mbak. Sumpe deh, bole coba kalo ga percaya”

Tapi, percumalah melontarkan semua logika kesengsem saya. Ia tetap menolak.

Aduh sedihnya. Bagaikan hancur lebur hati ini. Walaupun Cilincing panas bolong terik, awan bagaikan mendung di langit. Daun-daun kamboja di halaman rumahnya jatuh ke bumi bagai gerak slow-motion dalam film-film romantis tragis.

Ahh sedihnya, cinta monyet saya porak poranda.

Dalam tiga puluh menit berikutnya, Mbak Rini menasehati saya akan makna cinta. Tentang makna kedewasaan, tentang makna tanggung jawab dibaliknya, dan tentang makna-makna lainnya yang susah saya mengerti. Ahh pedihnya hidup ini, sudah patah hati, pakai segala acara diceramahi.

Saya menunduk lesu. Pelan-pelan ke arah pagar, mengambil sepeda BMX merah. Hingga sebuah suara berat si Santet menegur dari belakang.
+ “Hooy… Mo hemana yuuh”
– “Pulang”
+ “Hangan puhaang. Maen ama huwaa”
– “Males ahh. Gua lagi patah hati begini malah diajakin maen!”
+ “Huwaa hudi. Mba hyiini khakha hwaa ”

Saya membalikkan badan. Ia mengajak salaman. Dari atas kursi rodanya, ia menjulurkan tangan. Kepalanya masih miring, tengleng. Saya nggak tega. Matanya menatap hangat. Saya jabat pula tangannya… “Gua arip”.

Saya sandarkan lagi sepeda ke pagar. Lalu mendorong kursi roda Hudi (*lafal sebenarnya, Rudi*) ke arah lapangan sepakbola di samping rumah Mbak Rini. Saya ajak Hudi main bola dengan anak-anak kampung situ. Dia yang menendang, saya yang mendorong, jadi supir, sekaligus mesin penggerak kursi rodanya.

Tiga jam kemudian, saya lupa patah hati yang tengah saya derita. Saya dan Hudi ngos-ngosan duduk di pinggir lapangan. Kecapekan maen bola. Hudi menatap mata saya, ia berkata “Hyimakahih Ahyiib!”

Sejak saat itu, Hudi menjadi salah satu sahabat saya. Kami sering main bersama. Walaupun terkadang bahasanya ajaib atau ia yang tidak mengerti kelakuan saya, kami sejak saat itu, adalah sahabat karib.

Hingga akhirnya waktu yang memisahkan kami. Ketika saya harus pergi dari Cilincing. Ketika Hudi harus hijrah ke Cimahi.

———————————————-

Tahun berhanti tahun, saya mendapat kesempatan mencicipi sekolah di Jatinangor. Atagfirullah, bukan… bukan di Sekolah Tinggi Punggawa Dukun Santet. Jangan nuduh yang tidak-tidak, loh. Saya kekurangan bakat untuk duduk rembug jadi punggawa kerajaan republik tercinta sebagai dukun santet.

Walaupun sekolah Jatinangor ini bagai di tengah belantara rimba. Namun rupanya tuhan berbaik hati pada saya. Mengapa? Sebab di sekolah Jatinangor ini penuh dengan gadis-gadis dari aneka daerah nusantara yang sungguh mulus elok tiada tara. Mata saya sebagai pria sungguh benar-benar dimanja. Liat kiri, cewek cakep. Liat kanan, gadis aduhai. Dara-dara manis ini seakan bagai mata air yang tak pernah habis.

Salah satu gadis jelmaan bidadari yang saya taksir, namanya (sebut saja) Kartini. Nah, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, saya jelas tidak berani ‘nembak’ Kartini sembarangan. Trauma yang saya derita dengan Mbak Rini (*ceilee, trauma nih yee*) mengakibatkan saya berhati-hati dalam ‘nembak’ perempuan idola.

Sebelum ‘nembak’ cewek, saya punya aturan tertentu. Semacam ritual, begitu. Apa saja isi ritual ini:

A. Cari tahu latar belakang sang gadis. Jangan sampai sang gadis ini ternyata dulunya adalah pria. Maap maap nih yaa, bukan maksud saya menjelekkan transexual, namun mantan pria bukanlah wanite tipe idaman saya.

B. Lihat-lihat, apa warna baju atau accesories yang ia pakai. Ini berguna untuk mengetahui favorit/kesenangan sang gadis idaman. Kalau sang gadis pakai pakaian dan accesories yang senada alias matching, tandanya ia sadar betul akan penampilan dirinya. (*Fakta: wanita dianugrahi chromosom X jauh lebih banyak daripada pria, anugrah ini mampu menghindarinya dari buta warna. Gosip: Istri yang mengkoleksi pakaian dalam senada dan seksi, tandanya sayang pada suami*)

C. Siapa saja teman sang gadis.
Teman yang bisa ditraktir lalu memberikan informasi itu bagus untuk melancarkan aksi rayuan gombal yang tepat dalam sasaran dan tujuan. Kalau teman sang gadis ini adalah teroris, germo atau bandar narkoba, sebaiknya ya dihindari.

D. Yang paling penting, yaitu sang gadis idaman belum punya gandengan.
Sebab ada istilah di Cilincing, “pantang berkabung sebelum janur kuning melengkung”. Artinya simpel, jangan sampai menggasak istri orang. Kalau tidak dituruti, bahaya, sebab bukan saja hukum tuhan yang dilanggar, melainkan pula orang sekampung bisa dateng sambil bawa golok.

Akhirnya, setelah menyuap orang-orang dekat Kartini dalam arti sebenarnya (benar-benar saya suap dengan bakso bermangkok-mangkok). Saya mengetahui bahwa Kartini itu seasli-aslinya gadis dan sungguh wanita baik-baik. Kadar keperawanannya katanya 100 persen dijamin tuntas. (*Halah, infonya menyesatkan. Memangnya Kartini sudah di test drive? Gimana kalau selaput hymen beliau rusak ketika kecelakaan bersepeda? Tahu darimana informan kalau Kartini masih perawan? Andai masih perawan, terus kenapa?*)

Tapi, dari info tersebut, minimal saya tahu bahwa Ritual A, B dan C sudah terpenuhi. Sialnya, yang paling penting, bagian D, bagian puzzle apakah ia single atau bukan belum ketahuan. Kartini ini, nampaknya gadis yang agak tertutup soal kisah cintanya.

Dengan itikad baik dan kenyataan bahwa jari manis Kartini belum ada seuntai cincin penanda kasih. Dan didorong oleh keinginan yang luhur akibat uang jajan dua bulan saya terkuras habis-habisan oleh oknum-oknum penggila bakso informan istimewa. Maka, pada suatu sore yang indah, saya melobi cinta pada Kartini sang gadis idola.

Jaman juga sudah ganti. Saya tidak lagi memakai celana baggy. Rambut mumbul masih digilai, bedanya jambul Tintin karya Herge jadi raja saat ini.

– “Hai Tini, tumben sendirian aja”
+ “Eh Arif. Kamu belum pulang?”
– “Belum… Eh bando rambut kamu bagus. Oranye. Ceria. Kemarin putih, anggun”

Kartini tersipu malu. Pipinya semburat merah. Ahaa, dada saya makin menggelembungg melihat gelagat ini. Dapat angin pula rupanya pemuda rantau Cilincing ini, Mak. Tanpa menunggu lebih lama lagi, bagaikan garuda ulung dalam pertempuran Barathayuda, saya terus menyerang.

– “Kamu mau saya antar pulang? Rumah kos saya tidak jauh dari kos-kosan kamu loh”
+ “Terimakasih Arif. Saya menunggu pacar saya. Kami akan ke perpustakaan”

Lalu kami terdiam beberapa saat. Kartini menunduk.

Saya membeku. Angin seakan berhenti berhembus. Suara-suara riuh sendah entah hilang kemana. Pandangan mengabur berkabut. Waktu seakan berhenti berdetak. Dan dari lubuk terdalam, saya dengar hati berderak-derak patah.

Aduh Mak… Dia sudah punya pacar.

Tapi… Sekali lagi, TAPI sebagai gentleman Cilincing yang memegang teguh semboyan “Pantang Berkabung Sebelum Janur Melengkung”, saya menolak kalah.

Bagaikan Napoleon Bonaparte dalam perang semenanjung Peninsula, saya ajukan strategi baru mencari identitas sang ‘musuh’ dalam kalimat “Oh saya juga akan ke perpustakaan. Kalau gitu sama-sama saja”.

Tidak lama kemudian, sang Arjuna pemilik tidak sah Kartini pun datang. Wah naik mobil sedan dia. Turun dari mobil, gayanya sungguh perlente. Bajunya mrecet memperlihatkan otot kawat balung besi. Rambutnya gondrong ala anak band. Celana jeans mahal Levi’s penanda simbolisasi dunia modern saat ini. Waduh, ‘musuh’ saya berat banget. Kalau saingan seperti ini, saya ibarat anak SD melawan pemain sumo.

Tapi sekali lagi, “Pantang Berkabung Sebelum Janur Melengkung!”

Si baju mrecet ini senyum menatap Kartini. Saya lirik iri, Kartini pun membalas tak kalah manisnya. Kampreet! Saya hanya bisa memaki dalam hati.

Tapi.. Loh… Si baju mrecet tidak menghampiri Kartini. Ia membuka pintu belakang. Lalu membuka bagasi belakang mobil. Mengeluarkan sebentuk makhluk beroda dua. Dengan tangkas, Si baju mrecet memapah penumpang kursi belakang ke atas makhluk bernama kursi roda.

Saya terpana menganga. Laki-laki di atas kursi roda itu adalah laki-laki yang sama yang saya dorong di sebuah lapangan sepakbola beberapa tahun lalu. Kepalanya sudah tidak tengleng, mulutnya juga sudah tidak ada air liur. Tapi saya masih ingat mata hangatnya menatap si baju mrecet sambil berkata “Hyimakahih hang hahus”.

Astaga, ia Hudi.

Kartini turun dari gedung tempat kami menunggu. Sebenarnya gedung ini tidak tinggi, namun ia tahu, Hudi susah naik menemuinya melalui tangga. Gadis yang baik hati tahu diri ketika sekolahnya mendewakan tangga. Dimana-mana ada tangga. Di kantin, di perpustakaan, di ruang belajar… dimana-mana ada tangga. Jangankan di sekolah, di bioskop saja masih mendewakan tangga. Orang cacat seakan-akan warga negara kelas kambing. Akses mereka pada ruang publik sungguh dibatasi. Jangankan belajar, untuk nonton film saja susahnya minta ampun. Ribuan arsitek dan disainer lahir dari rahim republik ini, namun yang membuat ruang publik yang juga layak bagi orang cacat ada berapa?

Saya tercekat. Kehilangan kata-kata. Hudi kembali. Dan kali ini, bersama Kartini yang memegang lengannya begitu erat.

Ia teriak, “AHYIIB… AHYIIB…!!!”. Kartini dan si baju mrecet menatap saya keheranan. Saya lari menghampiri Hudi dan memeluk ‘musuh’ saya itu.

– “Hudi, apakabar?”
+ “Ahyiib, hini harhini, huwa mao hawiin nih…hye..hye..hye… Ini hang hahus hwami mba hyinii”

Saya senyum-senyum. Entah sedih, entah perih. Menatap Kartini yang masih merengkuh mesra tangan Hudi. Dan menatap Si baju mrecet yang ternyata adalah Kang Agus, suami Mbak Rini. Mimpi apa semalam bisa-bisanya saya patah hati kuadrat begini?

Ketika akan berpisah pulang dari perpustakaan. Saya tanya Kartini, jujur, spontan, blak-blakan, apa sebabnya ia memilih Hudi sebagai tambatan hati yang akan dinikahinya tiga bulan lagi. Saya sungguh sedih apabila ia menikahi Hudi hanya karena harta warisan orangtuanya yang direktur ternama.

Kartini menjawab sambil menunduk malu, “Ia selalu mampu berterimakasih, Arif”.

Kali ini, saya yang menunduk malu.

Ketika pulang, di pintu sedan, Hudi menjabat tangan saya sambil berkata “Hyimakahih hwat hayi ini, ahyiib!”

Di perjalanan pulang menuju kos-kosan, saya senyum menatap langit. Saya kalah… tapi saya terima dan bangga atas kekalahan dari Hudi. Ia laki-laki kecil yang tidak mampu berdiri. Namun, sungguh perkasa dalam bertingkah laku.

Saya lupakan janur kuning. Toh dunia tak selebar daun kelor. Masih banyak bidadari lain di muka bumi ini. Hehehe.