Januari 2008


Hampir setiap hari, akhir-akhir ini, saya menonton debat kandidiat presiden Amerika. Baik dari partai republik serta lawannya, partai demokrat.

Tidak secara langsung, jelas. Sebab saya saat ini tidak tinggal di Amerika Serikat. Namun secara online. Dan itu sudah membuat saya cukup senang.

Mengapa saya senang? Ada tiga jawabnya;

1. Karena lucu

Lucu itu sebenarnya kata sifat yang bentuknya abstrak. Apa yang saya anggap lucu belum tentu lucu buat orang lain. Tapi melihat seorang kandidat partai republik yang terkenal amat religius dan keras menjawab pertanyaan mengenai jenderal angkatan darat yang gay, serta apa pentingnya bible, bagi saya, sebuah hiburan tersendiri.

Bukan jawabannya yang lucu. Tapi bagimana raut wajah sang kandidat yang berusaha menahan emosi dan menjawab dengan jawaban yang dia anggap ‘normal dan netral’ lah yang lucu.

(lebih…)

(*Tulisan panjang yang menjawab mengapa ada tulisan yang di password dalam blog ini. Dan satu lagi, maaf yaa kalau pertanyaan pada posting kemarin belum dibalas*)

Ada beberapa orang pembaca yang bertanya, mengapa ada tulisan yang disandi (password) dalam blog ini.

Saya sebenarnya malas untuk menjawab. Bukankah itu hak prerogatif saya? Itu tulisan, mau saya password kek, mau saya kencingin kek, mau saya gamparin sampai nungging kek? Apa urusannya sama orang lain?

Tapi apakah bijak menjawab dengan kalimat seperti itu?
Indahkah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan baru yang menusuk hati?
Apakah saya menjadi lebih tinggi derajatnya ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan tertentu dengan kalimat tertentu yang memicu amarah?

Jawabnya simpel, TIDAK! Tapi jelas, ini pendapat pribadi. Sangat masih bisa dibantah atau dipertanyakan lebih kanjut.

Dan akhir-akhir ini, pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin banyak. Maka itu, tulisan ini adalah jawaban atas pertanyaan tersebut. Sebuah pertanyaan yang simpel,

“Mengapa di password?”

(lebih…)

(* Didedikasikan untuk: Sekolah Ubuntu, SERRUM, GuhPraset, DeKing, Emjie, Siwi, JeJe, AriMargo dan blogger-blogger serta non blogger luar biasa lainnya yang akan menyusul*)

Janji untuk menulis pada tanggal 15 Januari ternyata cukup membuat saya, yang bikin janji, kehebohan sendiri. Saya pun menulis. Dimulai pada Januari tanggal enam hingga berakhir tadi pagi. Hehehe, ada-ada saja.

Tapi saya tetap harus menepati janji, dong. Apapun yang terjadi. Sebab apabila tidak… Nanti mirip kutukan dalam syair lagu dangdut;

Kau yang mulai, kau yang mengakhiri,
kau yang berjanji… kau yang mengingkari
Kegagalan Cinta – Album HARAM – Rhoma Irama
(Musica Record, 1990)

Maka itu, sejak tanggal enam Januari hingga tadi pagi, tujuh lembar kertas ukuran A4 habis saya tulisi. Isinya menceritakan apa yang terjadi pada tanggal 15 Januari 2008.

Setelah jadi, saya habiskan setengah jam untuk membaca tulisan itu.

Habis membaca… Saya bengong. Terpana membaca tulisan saya sendiri.

Kaget luar biasa alang kepalang. Dalam tulisan saya, seakan setiap paragraf berbau busuk. Kalimat-kalimat meruam di udara bagaikan bangkai tikus dengan isi perut terburai. Sungguh memuakkan. Penuh dengan sanjungan pada diri sendiri. Penuh dengan kata yang menunjukkan kesombongan dan rasa takabur.

Ahh… Betapa malunya.

Akhirnya saya hapus tujuh lembar itu. Lalu mulai mencoba menulis dengan kertas baru. Sambil mendumel… Lama menulis, habis waktu habis tenaga. Ternyata isinya cuma memuja-muja diri sendiri. Ampuuun deh!

Dan ini, tulisan dengan kertas terbaru hari ini. Selamat menikmati;

(lebih…)

Tak terasa, sudah hampir satu tahun saya nge-blog mengenai Indonesia. Dulu, setahun lalu, tepat tanggal 15 Januari saya mengklaim sebagai hari kelahiran blog saya ini.

Sebelumnya saya sudah ngeblog sih. Tapi saat itu, isinya masih belum jelas. Gado-gado campur. Ada isinya pengalaman pribadi, ada tips komputer dan bahkan ada tulisan-tulisan lainnya yang sama sekali nggak penting seperti ungkapan kesal kepada (mantan) menkominfo Pak Sofyan yang saya anggap mengkhianati IGOS, Indonesia Goes Open Source. Ya sudah lah, dimaafkan saja. Toh beliau nggak membunuh banyak orang dan lalu ikut-ikutan makan uang negara dan abis itu pura-pura sakit biar nggak diadili. Namanya juga manusia, seperti saya, kadang khilaf. Yaa dimaafkan saja. Yang penting IGOS itu harus tetap jalan.

Walaupun begitu, tetap saja itu blog gado-gado.

Apa salahnya blog gado-gado? Yaa nggak salah sih… Namanya menulis, kalau niatnya baik, apa salahnya?

Tapi entah kenapa, rasanya ada yang mengganjal saja.

(lebih…)