(*Tulisan panjang yang menjawab mengapa ada tulisan yang di password dalam blog ini. Dan satu lagi, maaf yaa kalau pertanyaan pada posting kemarin belum dibalas*)

Ada beberapa orang pembaca yang bertanya, mengapa ada tulisan yang disandi (password) dalam blog ini.

Saya sebenarnya malas untuk menjawab. Bukankah itu hak prerogatif saya? Itu tulisan, mau saya password kek, mau saya kencingin kek, mau saya gamparin sampai nungging kek? Apa urusannya sama orang lain?

Tapi apakah bijak menjawab dengan kalimat seperti itu?
Indahkah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan baru yang menusuk hati?
Apakah saya menjadi lebih tinggi derajatnya ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan tertentu dengan kalimat tertentu yang memicu amarah?

Jawabnya simpel, TIDAK! Tapi jelas, ini pendapat pribadi. Sangat masih bisa dibantah atau dipertanyakan lebih kanjut.

Dan akhir-akhir ini, pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin banyak. Maka itu, tulisan ini adalah jawaban atas pertanyaan tersebut. Sebuah pertanyaan yang simpel,

“Mengapa di password?”

Senin 09.00 Pagi, November

Saya dapat telpon di kantor dari ibu, di Cilincing. Isinya kabar gembira. Beliau dan adik-adik saya sudah menyiapkan acara pesta pernikahan saya.

Pesta ini sebenarnya bukanlah pesta. Melainkan hanya sekedar undang-undang kerabat dekat, sanak saudara dan tetangga. Tapi, yaah, kita sebut saja pesta. Sebab akan banyak orang yang bergembira. Dan saya dan calon istri lah yang paling bahagia, karena akan menikah.

Rencana pernikahannnya, bulan depan, bulan Desember. Saya dan calon istri beserta keluarga mereka akan bertolak menuju Cilincing. Awal bulan Desember. Hari baik bulan baik. Meninggalkan kabut dan udara musim dingin negeri yang kami tinggali saat ini.

Hari ini, saya bekerja dengan amat riang gembira. Siapa yang nggak seneng? Kawin euy! Hahaha. Sampai-sampai dalam hati saya teriak-teriak “Oh kawin, here I come! Cihuy Marihuyy!”

Senin 10.00 Pagi, November

Ada satu jaringan komputer yang bermasalah di kantor. Data susah dikirimkan. Ketika saya cek, ternyata masalahnya di teknis kabel, bukan pada jaringan peer to peer. Saya membungkuk ke bawah meja, mencari router dan kabel yang bermasalah.

Sebenarnya ini menyebalkan, sebab saya tengah diskusi dengan beberapa rekan untuk membuat sebuah aplikasi perangkat lunak yang ramah bagi rekan-rekan kerja kami yang mengalami kekurangan di bidang penglihatan. Namun karena mau menikah… Apa saja, walaupun menyebalkan, terasa terlihat indah. Hahaha.

Ketika sedang membungkuk, ada suara dibelakang saya. Kepala saya menoleh sebentar, sebab itu suara atasan saya rupanya. Beliau memerintahkan saya ke bandara, “Arif, besok pagi Munir datang. Besok ngantor lebih pagi. Tolong jemput ia di bandara yaa”

Wah, saya kaget banget. Tiba-tiba dapat tugas dadakan. Maklum, besok saya libur dan sudah janji mau pacaran sama si Eneng Geulis (*yang belum naik pangkat jadi Ibu Nyonyah*), kekasih saya. Kami mau jalan-jalan di sungai di hadapan kantor saya. Indehoy lah dikit. Maklumi saja, mau nikah. Dunia terasa milik bedua.

Maka itu, wajar dong kalau saya protes pada atasan “Pak, Cak Munir kan udah gede. Ngapain pake dijemput segala”

Atasan saya diam sejenak. Lalu berkata pelan, “Rip, beliau itu kesini bukan hanya mau sekolah. Tapi juga mau bantu kita menangani beberapa kegiatan. Salah satunya adalah impunity, proyek yang kamu handle saat ini. Kamu ini seharusnya bersyukur Munir datang. Ketika kamu nanti pulang ke Cilincing, beliau yang akan membantu kamu handle sementara proyek itu”

Kali ini saya yang tertegun. Malu.

Cak Munir itu memang terkenal cerdas dan baik luar biasa. Orangnya ramah. Dan kalau menolong orang lain, benar-benar serius membantu. Dan saya rupanya teramat bodoh, meninggalkan kantor tanpa memikirkan pengganti saya secara sementara. Sebab impunity adalah proyek yang lumayan berat. Tujuannya adalah para penjahat perang dan HAM di Indonesia diadili di mahkamah HAM dunia. Dan meninggalkan proyek ini tanpa bantuan seorang profesional seperti Cak Munir adalah kebodohan yang luar biasa. Saya sampai mau menepuk jidat. Akibat malu dan merasa bodoh.

Saya mengangguk menatap atasan saya.

Lalu mengambil telpon dan berbicara pada orang di seberang sana, “Neng, abang kudu jemput temen besok sore. Kapan-kapan aja yee jalan-jalannye. Abang janji, nanti hari kita jalan-jalan nyang banyak deh. Pokonya ampe muter-muter empang deh.”

Suara di seberang sana lemah, lirih namun mengiyakan. Ahh Neng… Maapin abang yee.

Selasa 09.00 pagi, November

Saya sudah siap-siap mau pakai jaket. Udara di luar sudah cukup dingin, sekitar empat derajat celcius. Maklum, ini musim dingin. Pesawat yang ditumpangi Munir akan datang satu jam lagi. Namun saya sudah harus siap-siap berangkat.

Jarak dari kantor saya, sebuah kantor jaringan HAM di Amsterdam menuju bandara Schiphol, bandara tempat Munir datang, sekitar 45 menit. Itu pun sudah dihitung dengan waktu menunggu trem dan kereta, yang selalu berubah-ubah di Amsterdam.

Jadi, saya masih punya waktu 15 menit menunggu nanti.

Telpon di ruang tamu tiba-tiba berdering.

+ “Goeie middag, met Arif”
– “Rif, kamu stand by di kantor. Jangan kemana-mana” (*suara atasan saya*)
+ “Lah, pesawatnya bentar lagi nyampe, Pak”
– “Kamu ini gimana sih. Pesawatnya udah nyampe dari tadi”
+ “Ya oloh, kasian banget Cak Munir nungguin. Aduh dosa saya nih, bikin orang nunggu”
– “Munir meninggal”

DUG! Saya terdiam.

Lama saya kehilangan kata-kata. Saya tidak mampu bilang apapun untuk mengungkapkan kekagetan yang tengah menyelimuti.

– “Halo..Haloo… Arif, kamu masih ada?”
+ “Iya .. Iya… Masih pak”
– “Kamu standby di kantor. Di bandara udah ada Ratna ama Erwanto dan teman-teman lainnya. Kamu di kantor. Banyak orang akan datang dan menelpon”
+ “I… Iya Pak. Eh tapi… Tapi…”
– “Kata dokter, Munir sakit”

Saya masih terdiam.

Selasa 18.00 Sore, November

Saya menelpon Eneng Geulis, bahwa besok pun nampaknya saya tidak dapat menepati janji. Ada kabar duka. Teman saya meninggal. Si Eneng ikut berduka. Saya bilang, ada kemungkinan suatu hari di minggu ini banyak yang akan datang. Dan saya, pasti akan jadi seksi sibuk.

Si Eneng bertanya “Aye bisa bantu ape, Bang? Trus nyang ngasih tahu istrinya Munir bahwa suaminya meninggal, siapa, Bang?”

Saya menggeleng pelan.
Saya tidak tahu jawabnya.
Dalam hati terus berduka.

Beberapa hari kemudian 19.00, November

Hari ini tahlilan di kantor kami. Dari sore, sudah banyak orang yang datang. Saya sudah lupa kesedihan yang melanda. Bukan karena apa-apa, melainkan kantor sibuk sekali.

Banyak sekali manusia yang simpati yang datang melayat dan tahlilan. Dari teman-teman Timor Leste, Maluku hingga konjen-konjen negara tetangga. Teman-teman Papua, dan Aceh pun berdatangan (*Saya suka menggunakan kalimat teman pada mereka, daripada exile, manusia yang disingkirkan dari negaranya karena membela kepercayaan yang mereka punya*). Belum lagi kalangan politisi dan aktivis internasional. Pendek kata, banyak manusia yang datang.

Semua orang merasa kehilangan.

Saya dibantu beberapa mahasiswa Indonesia, menyiapkan makanan dan minuman untuk para tamu.

Malam itu, saya sedemikian sibuk. Usman (Usman Hamid) yang memberi pengantar pada acara tahlilan, saya cuekin. Bahkan saya sendiri nggak ikut tahlilan. Sibuk mondar-mandir ke dapur. Bikin kopi, bikin teh, nyiapin tempat sampah, mengosongkan tempat sampah.

Sibuk lah pokoknya.

Karena capek mondar-mandir. Saya mengaso di dapur. Ada tiga perempuan disana. Dua orang kakak beradik dengan nama unik, Gungyu dan Gungtri. Satunya lagi, Mbak Ratna, dosen. Di samping saya ada si Ucok (Rusdi Marpaung) yang baru datang dari Indonesia tadi sore. Sibuk dia membagi-bagikan rokok kretek, barang mewah di negara ini, kepada kami.

Dua orang kakak beradik itu memulai pembicaraan, “Aneh, kok sakitnya enggak ketahuan di Jakarta. Kan sebelum berangkat sekolah seharusnya sudah ada general check-up

Mbak Ratna menyahut “Sepengetahuan saya begitu. Biasanya pihak sekolah meminta catatan medis mahasiswa luar negeri. Dan dilampirkan sebelum kedatangannya ke sini”

Saya menoleh pada Ucok, “Cok, lo liat Cak Munir ngecek ke rumah sakit dulu sebelum berangkat”

Ucok menjawab, “Iya lah. Jelas gua tau. Catetannya ada di Suci . Pulang check-up, gue nongkrong ama almarhum”

Malam itu, saya terheran-heran. Dan mulai bertanya-tanya, bahwa ada sesuatu yang salah.

12 November 2004

Kami ditelpon pihak forensik. Almarhum Munir diracun oleh Arsenik.

Esoknya, koran-koran lokal maupun internasional ramai memberitakan, aktifis Indonesia di racun di pesawat.

Pembunuhan di Udara pada seorang putra terbaik yang pernah dilahirkan dari rahim bumi pertiwi.

Teori konspirasi mulai merebak.

Dari Jakarta, teman-teman jaringan HAM memberitakan bahwa kantor mereka di Jakarta disabotase. Semua air minum dibubuhi racun.

Ketika membaca koran, saya sadar bahwa saya akan gagal pulang ke Cilincing. Menikah tanpa pesta. Jauh dari sanak saudara. Cilincing, semakin lama, semakin jauh dari mata.

Suatu hari pada 2007

Hari sudah berganti hari. Musim mendera tubuh ini berkali-kali. Saya coba memutuskan untuk tetap melangkah. Hari-hari menjadi sedemikian letih. Terutama melihat kabar Indonesia dari berita. Baik berita yang bersumber dari ‘berita pemerintah’ seperti ANTARA (*yang punya RSS*) hingga koran kuning online. Semuanya sama, penuh duka dan tragedi.

Saya harus bersyukur. Sebab dari berita, republik tercinta tubuhnya jauh lebih terkoyak-koyak. Penuh darah… Penuh nanah. Saya harus bersyukur, kondisi saya jauh lebih baik. (*Walaupun bingung, apa yang harus saya syukuri, seluruh jiwa saya tertinggal di sana, di Cilincing tercinta*)

Pollycarpus, sudah masuk penjara. Sebagai tertuduh pembunuh Munir. Berperan sebagai malaikat maut penerbangan antara Jakarta-Singapura.

Tapi, setolol-tololnya saya, tidak mungkin percaya hanya Polly yang membunuh Munir. Loh, memangnya ada dendam apa ia pada Munir? Segoblok-gobloknya saya, tetap saja menyangka bahwa ia adalah salah satu pembunuh bayaran yang dibayar dari pajak Warga Negara Indonesia.

Hari dan hati menjadi sedemikian letih.

Dalam kesedihan, keletihan, dan bingung memikirkan masa depan negeri. Tiba-tiba dalam inbox email saya, masuk email luar biasa.

Isinya BAP (Berita Acara Pemeriksaan) kasus-kasus Munir. Semuanya lengkap. Terdiri dari kesaksian saksi-saksi yang berada di beberapa negara.

Saya kaget luar biasa. Si pengirim, adalah diplomat kenalan saya. Apa maksudnya mengirimkan email-email ini? Apa ia tahu saya blogger? Andai tahu, apa maksudnya, bukankah ini dokumen rahasia negara?

Yang lebih kaget lagi, ternyata kepolisian RI benar-benar menyelidiki kasus ini secara serius. Tidak mungkin seorang Kombespol (Komisaris Besar Polisi, setingkat Kolonel) wara-wiri di beberapa negara untuk mengecek ulang naskah-naskah itu.

Awal April 2007

Saya putuskan membuat sebuah posting di blog ini. Isinya tidak terlalu penting. Hanya sekedar curhat yang tidak jelas mengenai kasus penyelidikan Munir. Namun yang penting adalah linknya. Saya menyertakan link-link BAP kasus Munir pada postingan tersebut.

Dua jam setelah posting, 3 April 2007

Ada telpon dari Cilincing. Adik sepupu saya dan beberapa orang tetangga, dalam telpon itu, menyesalkan langkah yang saya ambil, mempublikasikan dokumen negara di blog ini. Diantara mereka ada yang berstatus polisi.

Mereka bilang “Bang, kasian. Nanti ada orang yang belom tentu salah keseret-seret. Tunggu pengadilan, Bang. Sabar aja dulu”

Saya kecewa, saya jawab “Lo tau ga pada… Lo pikir gue kaga sabar apa coba? Kurang sabar apa gua, kawin jauh-jauh di kampung orang? Kurang sabar apa gue, gara-gara bajingan-bajingan pembunuh itu nama Indonesia jadi semakin kagak keruan bentuknya?”

Si Bustomi, tetangga saya menyahut pelan, “Bang, itu dendam… Istigfar bang… Istigfar”

Saya tiba-tiba terdiam. Astaga, ia benar. Saya dendam.
Dendam selalu menghasilkan kebencian… Dan kebencian hanya akan berujung pada penderitaan.

Yang jadi masalah, penderitaan siapa?

Dan daripada menjadi masalah besar. Dua jam setelah publish, saya sandi tulisan tersebut. Semua BAP digital yang ada, saya lepas tautannya. Saya jadikan dokumentasi pribadi. Tidak akan saya berikan pada siapapun. Dan apabila RI memerintahkan, barulah akan saya hancurkan.

Sebab dokumen itu, jatuh ke tangan saya secara tidak sengaja. Si diplomat menekan tombol ‘kirim ke semua’ di perangkat lunak pengelola email yang baru saja ia pelajari. Intinya, salah kirim.

Tiga bulan kemudian, Juni 2007

Raymond Latuihamalo alias Ongen hadir dalam persidangan RI. Saya kaget, loh kenapa Ongen bisa-bisanya ada di pengadilan Munir?

Saya kenal Ongen. Dia itu penyanyi, spesialis lagu gereja. Orangnya ramah. Saya pernah bertemu beberapa kali. Setiap bertemu, selalu bercanda. Ia murah senyum.

Saya tanya adik saya… “Kok Ongen ada pengadilan?”

Adik saya menjawab, “Dia itu ‘Si Gondrong’ yang ada di BAP yang lo sebar kemaren?”

DUG! Hati saya berdegup kencang. Dalam hati tidak karu-karuan rasanya. Sebab untung saya mendengarkan nasihat Bustomi dan adik sepupu saya. Apabila tidak, maka tulisan saya akan membentuk sebuah opini publik yang tidak karu-karuan bentuknya pula.

Maksud hati menolong mempercepat pengungkapan kasus Munir… Malah-malah salah-salah, saya justru menjebloskan orang yang tidak bersalah dalam tuduhan publik. Apabila itu terjadi, maka tulisan-tulisan saya bukan hanya dipertanyakan kredibiltasnya, melainkan juga dianggap menghasut dan membuat resah masyarakat.

Untung… Sekali lagi, untung, saya mendengarkan nasihat Bustomi.

Pelajaran berharga tahun 2007 buat saya pribadi: Perjuangan itu membutuhkan kesabaran dan ketekunan.

Hari ini, menuliskannya memang sungguh mudah. Namun ketika menjalaninya. Aduh, berat sekali. Terutama ketika harus mendengarkan orang lain, bahwa tulisan saya berpretensi merusak. Ego saya seakan dikoyak-koyak.

Ya sudah… Sekarang belajar melawan ego yang semakin lama semakin merubung.

Maka itu, balik lagi ke pertanyaan “kenapa tulisannya di password?”

Jawabannya simpel, “Supaya ego saya nggak sok-sok’an dan semakin nggak tahu diri”

Ahh… Lagi-lagi jawaban yang sungguh egosentris.

(*Satu lagi, tulisan yang disandi karena ada foto keluarga. Hubungannya apa dengan tulisan kali ini? Pikirkan saja sendiri. Saya sudah cukup merasa egois hari ini, memberi terlalu banyak jawaban versi pribadi*)