Ada seorang sahabat saya, blogger dari Cilincing (yang malu mengaku sebagai anak Cilincing entah karena alasan apa), menulis email. Ia bertanya. Pertanyaannya menarik, “Bagaimana agar blog saya dibanjiri komentar?”

Ia tidak peduli, walaupun setelah itu ia saya kirimkan link tulisan Fatih Syuhud yang berjudul “Jangan Terobsesi Komentar: Blog Pakar dan Non-Pakar”. Ia hanya peduli satu hal. Yaitu, bagaimana caranya agar dapat komentar yang banyak?

Sebenarnya ini pertanyaan basi. Kalau ia mau googling sedikit saja, banyak sekali tips di dunia internet untuk memberi tahu bagaimana cara mendapatkan komentar. Tapi nampaknya, ia terlalu malas untuk googling. Sebab ketika saya jawab dengan “Googling dong!”

Ia respon dengan “Males ahh, lo dong. Lo kan yang jago. Buat apa lo jadi temen gua?”

Saya ketawa. Ketawa capek. Hehe.

Tapi sebagai teman, saya jawab juga emailnya, “Nanti kalo dapet komentar yang ngeselin gimana?”

Ia jawab, “Gitu aja repot! Gua apus lah”

Saya jawab lagi, “Gimana kalo semua komentar yang masuk ke blog lo ngeselin semua?”

Ia tidak menjawab. Sehari tidak dijawab. Dua hari saya tunggu, belum ada jawaban juga. Seminggu kemudian, saya sudah agak khawatir. Masih belum ada jawaban dari dia. Saya pikir, jangan-jangan dia sakit. Atau malah meninggal dunia.

Maka itu, buru-buru saya kirim email ke mamanya, “Bu, si Hamid sehat? Sudah seminggu ini tidak email. Moga-moga ga ada apa-apa deh”.

Ibunya menjawab, “Sehat dia, Rip. Cuman agak aneh aja. Akhir-akhir ini sering baca buku. Ibu juga agak khawatir sih sebenernya. Kan dia orang mah jarang baca buku”.

Kali ini, saya takjub. Bukan karena si Hamid yang walaupun sehat tapi tidak membalas email saya. Melainkan karena ada seorang ibu yang khawatir karena anaknya membaca buku.

Sehari saya kebingungan. Saya masih bisa sabar.
Dua hari dalam kebingungan. Saya masih bisa tahan.
Tiga hari, kebingungan saya memuncak. Mirip bisul yang mau pecah.
Hanya satu penyelesaiannya… Saya harus mencari jawaban.

Saya harus tahu. Kenapa si Hamid membaca buku? Yang kedua, saya harus tahu, kenapa Ibunya Hamid khawatir anaknya membaca buku?

Untuk menjawab pertanyaan pertama dan pertanyaan kedua sebenarnya mudah. Tinggal kirim email, bertanya pada yang bersangkutan. Beres deh. Maka itu, saya lakukan hal tersebut. Dan hasilnya sudah dapat diduga sebelumnya. Yaitu tidak ada jawaban. Hehehe.

Maka itu, saya coba lirik-lirik Google. Bertanya, “Mengapa orang Indonesia membaca buku?”

Yang menarik adalah, saya mendapat beberapa jawaban berikut ini:

1. Orang Indonesia, dari NU (Nahdatul Ulama) termasuk kategori orang Indonesia yang paling gemar membaca. Bacaan mereka adalah shalawat. Puja-puji terhadap illahi. Umumnya, yang mereka baca adalah shalawat ‘Badar’ dan shalawat ‘Nariyah’. Shalawat Badar dibaca karena ini adalah shalawat yang dikenal sejak kecil. Sedangkan Shalawat Nariyah dibaca bila menghadapi problem hidup yang sulit dipecahkan.

2. Dari jiwarasa, salah satu blog Malaysia yang isinya menarik (buat saya). Dari blog tersebut, diiketahui hal umum, bahwa ternyata orang Indonesia itu mempunyai minat baca yang lebih tinggi daripada tetangga jirannya tersebut.

3. Orang Indonesia gemar menggunakan kalimat bahasa Belanda kuno, bahasa Portugis kuno, bahasa Inggris, bahkan hingga bahasa slank dalam percakapan, namun tidak menggunakannya dalam bahasa tulisan. Bahasa tulisan masih dianggap sakral. Sebab bahasa tulisan adalah bagian dari proses dokumentasi dan publikasi. Kalau ucapannya didokumentasi maupun dipublikasi, maka orang Indonesia lebih berhati-hati. Sebab sejarah akan mencatatnya dengan baik.

4. Orang Indonesia umumnya tidak gemar membaca buku bertopik serius. Katanya, proses belajar mengajar yg di tanamkan sejak TK sampai Universitas menunjukan fakta bahwa mereka membaca buku serius untuk mencapai pendidikan dan ilmu yg mereka cita-citakan. Seorang penulis buku, bahkan mengklaim bahwa orang Indonesia tidak suka membaca karena sistem pendidikan (kurikulum nasional) Indonesia tidak mengajarkan/mendidik anak bangsa untuk berbudaya membaca/menulis buku. Kurikulum kita lebih mementingkan mengumpulkan ilmu hidup dari melihat dan mendengar, dan menebak-nebak.

5. Jawa Timur selain penyumbang presiden terbanyak, ternyata penyumbang pula angka buta huruf terbesar di Indonesia.

6. Masih ada golongan kaum beragama di Indonesia yang menganggap buta huruf bukanlah simbolisasi keterbelakangan. Sebab nabi mereka buta huruf. Konteks ini di debat habis-habisan oleh blogger bernama PoetraBoemi dan Ersis Warman Abbas (EWA).

7. Kalau anda cari jawaban dari pertanyaan “Mengapa Membaca?” Maka jawaban Google adalah merujuk pada dominasi website-website yang mengacu pada pentingnya membaca kitab-kitab suci.

Menarik.

Namun yang tidak kalah menariknya, hingga detik ini, saya belum mendapat jawaban mengapa Hamid membaca? Dan mengapa pula ibunya khawatir?

Tidak jadi masalah. Toh Hamid dan ibunya adalah orang Indonesia pula. Cari saja jawabannya pada tujuh poin diatas.

Astaga, kok saya jadi generalisir begini?