Gatal berdasarkan Kamus Umum Bahasa Indonesia Dalam Jaringan amat menarik sekali artinya.

Gatal, menurut kamus itu adalah:

1. Berasa sangat geli yg merangsang pada kulit tubuh.
Contoh kalimat: Kepalaku gatal benar karena banyak ketombe.

2. Mendatangkan perasaan gatal.
Contoh kalimat: Ulat bulu itu gatal bila disentuh.

3. Suka atau ingin bersetubuh (terutama perempuan).
Contoh kalimat: Ia dicaci maki, dikatakan perempuan gatal.

4. Ingin sekali hendak berbuat sesuatu (memukul dan sebagainya).
Contoh kalimat: Tangannya gatal, hendak meninju kawannya.

Entah kenapa saya tiba-tiba tangan saya gatal lalu menulis gatal dalam mesin pencari di internet. Entahlah. Padahal saya sedang mencari data mengenai peta perpolitikan RI di mata blogger Indonesia.

Loh kenapa? Apa pasalnya saya mencari blogger yang paham politik? Apa hubungannya dengan gatal? Jangan-jangan saya masuk dalam kategori blogger gatal?

Simpel saja jawabnya. Sebentar lagi pemilu. Saya butuh mereka. Butuh orang yang mumpuni. Punya ilmu terawangan dan kanuragan. Ahli dibidangnya. Saya butuh blogger yang mengerti politik. Dalam artian, mengerti topik pemilihan umum dan calon-calon pemimpin negara yang akan muncul nanti.

Saya butuh blogger yang ahli politik. Agar dapat membaca nujum beliau mengenai pemimpin apa yang layak dipilih. Agar tidak sembarang pilih. Salah pilih, bubar berantakan republik yang saya cintai ini.

Dan selayaknya blogger lainnya, ia bebas merdeka. Tidak di ikat jargon-jargon partai. Tidak dicucuk hidungnya oleh janji-janji manis surgawi bakal calon pemimpin.

Saya hanya mencari blogger yang paham politik. Ingat, saya tidak mencari blogger yang berpolitik. Yang ketika berseteru dengan orang yang tidak disukainya, langsung menggalang petisi anti. Saya tidak anti blogger yang berpolitik. Itu urusan mereka. Urusan saya, hanya satu, mencari blogger yang menulis blog politik Indonesia.

Adakah blogger itu?

Setelah lihat-lihat kiri kanan. Tengak-tengok atas bawah. Sedikit loncat-loncat mengintip lewat pagar tetangga. Saya hanya menemukan beberapa blog saja. Itu pun tidak mengkhususkan diri pada politik. Andai bicara politik, maka konteksnya biasanya seputar berita terkini seperti blog Bung Wimar Witoelar.

Selain itu, peta perpolitikan Indonesia, andaipun ada, maka isinya berisikan informasi partai-partai di Indonesia. Seperti partai dot info.

Dulu, ada blog pemilu 2004. Pembuatnya Enda Nasution, kalau tidak salah (kalau salah, maaf, hehe). Tagnya “Yang Kita Tahu, Kita Lihat dan Kita Rasa. Di-update (hampir) Setiap Hari”. Dan hebatnya, walaupun pemilu 2004 sudah habis, masih saja di-update. Update terakhir adalah 7 Maret 2005. Isunya, meminta penghapusan fiskal.

Sayang sekali, blog tersebut mati suri. Padahal hasil pemilu bukanlah hanya foto seorang presiden dan kumis wakilnya yang kita pajang pada pigura lalu ditempelkan di kantor kelurahan. Melainkan adalah hasil jangka waktu rentang lima tahun para pemegang tampuk jabatan.

Pemilu 2004 telah habis. Yang tersisa hanyalah celana pendek anak-anak yang dijahit dari bendera partai. Lalu, kemana janji-janji perbaikan bangsa yang bagaikan derasnya hujan bulan desember? Apakah begitu saja menghilang di udara?

Maka itu, saya butuh blog yang mengerti politik di Indonesia. Yang netral. Yang punya jiwa untuk memberi informasi bagi kemaslahatan warga RI. Agar nanti, pada pemilihan umum 2009, tidak salah pilih dan sial-sial hanya dapat kotoran kucing dalam karung saja.

Yang jadi masalah. Siapa yang mau menulis khusus mengenai politik RI?

Sejak masa Kartanegara, politik negeri ini begitu tragis. Andaikata pendapat ini dibilang hiperbolis, tentu saja tidak ada legenda Empu Bharada yang menuang air kendi dari angkasa hingga membentuk sungai untuk membelah pulau Jawa, agar tidak terjadi perang saudara. Andaipun masih dibilang hiperbolis, tentu saja pada tahun 1966 sungai di Madiun tidak berubah menjadi merah diganti darah.

Maka, menulis peta perpolitikan negeri ini, ibarat mencatat tangis anak bangsa. Yang setiap hari dibohongi dan dihujani mimpi oleh para penguasa.

Yang jadi masalah, tetap saja, siapa yang mau menuliskan blog khusus politik RI? Siapa yang mau mencatat semua janji dan lalu mengingatkan para pemberi janji agar menepati hutang-hutang janji mereka? Blogger? Pewarta media konvensional? Pengurus partai? Atau boleh siapa saja?

Ahh saya terlalu banyak bertanya.

Nampaknya, saya harus menambah perbendaharaan contoh kalimat kata ‘gatal’ dalam kamus bahasa saya pribadi. Diantara lain adalah: “Blogger gatal adalah blogger yang karena papan ketiknya gatal, ia memijit-mijit tombol yang lalu membuat blognya gatal, tulisannya gatal”

Hehehe.

*Oh ya, satu lagi… Kenapa yaa ‘gatal’ dalam melakukan persetubuhan lebih sering ditujukan pada perempuan?*