(*Maaf, karena kesibukan sok luar biasa. Sama sekali tidak dapat menjawab komentar. Ada kabar memilukan dari RI. Bakrie Group maupun Lapindo Brantas Inc, tidak akan ikut ‘iuran’ untuk ganti rugi korban lumpur LAPINDO. Semuanya akan menjadi tanggungan pemerintah. Hal ini ditegaskan oleh Aburizal Bakrie, pemilik Bakrie Group sekaligus Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia. Artinya hanya satu: Rakyat Indonesia terus ditimpa kemalangan hutang*)

Ini adalah cerita yang sedianya akan dipublikasikan melalui buku.  Namun karena entah kenapa, malam ini saya begitu sedih. Saya publikasikan tulisan ini pada publik sebelum waktunya. (Atau malah ini waktunya?)

(*Karena menyangkut tokoh publik, nama pelaku dan lokasi bukanlah nama sebenarnya*)

Suatu hari, saya diundang makan siang di sebuah restoran di pinggir Jakarta. Yang mengundang teman saya, si Beno, seorang pemimpin surat kabar harian di Ibukota.

Dengan hati-hati, saya tanya kenapa ia mengundang saya makan siang. Bukan karena apa-apa. Saya bertanya hanya karena rasa sok dalam hati ini, yang mau menjaga tubuh agar tidak kemasukan makanan ajaib.

Ia jawab, “Yang ngundang bukan gua. Itu undangan Mas Belok. Yang diundang itu para redaktur koran se-Jakarta”

Saya protes, “Gua kan bukan redaktur. Lagian ngapain juga Mas Belok ngundang kita semua?”

Si Beno menatap saya dengan pandangan heran. Lalu menjawab “Lo nggak baca koran apa? Mas Belok itu mau jadi gubernur, men”

Kali ini saya yang heran. Gantian. Apa hubungannya saya dengan makan siang para bos-bos media dengan calon gubernur? Saya pribadi mengenal Mas Belok. Tapi hanya sekedar kenal. Lebih dari itu, tidak. Entah kenapa? Yang pasti, setiap bertemu, kami tidak pernah bicara satu sama lain lebih lama dari lima menit.

Maka itu, saya tidak mengerti. Kenapa saya diundang?

Sebenarnya saya pribadi enggan datang ke perjamuan antara tokoh terkenal dengan tokoh terkenal lainnya. Sebab berdasarkan pengalaman, apabila tokoh terkenal bertemu dengan tokoh terkenal lainnya, yang dikejar umumnya hanyalah publisitas belaka. Jarang yang bertemu untuk bicara kemajuan signifikan untuk rakyat.

Saya pribadi tidak anti publikasi. Kalau anti, buat apa saya menulis ini? Hehe.

Namun berdasarkan pengalaman pribadi yang sungguh tidak banyak ini, umumnya tokoh rakyat bertemu apabila media meliput. Si tokoh gembira, namanya disebut-sebut media. Semakin terkenal lah dia. Dan si peliput pun gembira, ada bahan setoran ke pimpinan. Yang artinya, dapurnya masih bisa ngebul bulan depan.

Maka itu, apabila ada rakyat kategori wong cilik bin susah macam saya ini diundang, kan sebuah pertanyaan. Pertanyaan besar.

Sebab rakyat itu umumnya kan tidak diundang acara makan-makan. Rakyat itu ada, umumnya hanya untuk menjadi pendengar setia penguasa. Untuk mendengar bahwa utang negara semakin membengkak. Bahwa korupsi semakin mengganas. Bahwa narkoba semakin menggila. Bahwa… blablabla lainnya.

Maka itu… ‘Kenapa Mas Belok mengundang saya?’, adalah sebuah alasan yang cukup bagus menghadiri jamuan makan siang antara bos-bos media dengan calon gubernur itu.

Dan akhirnya, pada sebuah siang. Saya mampir ke rumahnya Beno. Diiringi lambaian tangan istrinya di pintu gerbang, kami melaju ke sebuah restoran di pinggir Jakarta. Memenuhi undangan Mas Belok.

Disana, sudah banyak orang-orang. Saya pikir ini semacam jumpa pers rupanya.

Saya duduk, memilih meja yang kebetulan ada orang-orang yang saya kenal. Di meja itu, hampir semuanya sudah saya kenal. Kecuali satu orang wanita cantik, yang kebetulan duduk di samping Beno. Wawan, sahabat karib Beno, mengenalkan saya pada wanita itu. Namanya Sasha.

Sasha itu ternyata adalah host acara talk show di sebuah stasiun televisi swasta. Ia terkenal rupanya. Pantas orang-orang tertawa ketika saya berkenalan dengan Sasha, raut muka saya yang tidak berubah. Maklum saya orang kampung. Jarang nonton tipi. Tidak paham selebriti.

Ketika sedang asyik bicara dengan Beno, Wawan, Sasha dan rekan semeja, tiba-tiba Mas Belok datang. Hari itu, ia kelihatan gagah. Pakai beskap pakaian tradisional. Ada rantai emas jam bandul terlihat di saku pakaiannya.

Mas Belok (MB): “Huahahaha… Apakabar teman-teman semua”
Wawan (Waw): “Sehat-sehat Mas. Kabarnya ini makan siang suksesi pemilihan bakal calon gubernur mendatang, Mas Belok”
MB: “Huahahaha… Ndak ahh, ini untuk menjalin keakraban kita-kita saja”
Beno (No): “Omong-omong pake delman apa Mas buat maju nanti?”

Saya melirik Sasha. Bertanya, apa maksudnya Si Beno pake delman-delman segala? Sambil senyum, Sasha berbisik. Delman itu maksudnya partai. Untuk maju sebagai gubernur, seorang calon harus pakai partai. Pada prakteknya, partai sendiri lebih sering bertindak sebagai makelar. Gampangnya, si Gubernur menyediakan uang, si Partai menyediakan massa.

Saya manggut-manggut mendengar penjelasan Sasha. Dan tidak lama kemudian kembali menatap Mas Belok yang ketawa menggelegar setiap ingin memulai pembicaraan. Seakan tenggorokannya dipasangi susuk, yang membuatnya kelihatan seperti orang yang setiap bicara semua orang harus mendengar.

Kali ini, ketawa Mas Belok semakin menggila. Semua orang di ruangan menoleh pada meja kami.

MB: “HWAKHAKHAK… No, aku sudah keliling daerah tapal kuda. Kiai-kiai tujuh langit tujuh samudra sudah aku hubungi. Semuanya merestui aku maju. HWAKHAKHAK… Partai Susu Binal dan Partai Jenggot Bahagia minggu depan akan membuat pernyataan resmi dukungannya padaku”

No: “Kalau Mas Belok akhirnya jadi gubernur. Gimana kasus Lapindo, Mas. Kan nanti ada di bawah kekuasaan si Mas”

Mas Belok tiba-tiba matanya berubah menjadi beringas. Ia menggebrak meja. Tamu-tamu lain diam dan terus menatap kami. Dengan tangan kanan, Mas Belok mengacungkan jari telunjuk dan jempol. Membentuk pistol imajiner. Nada suaranya berubah, jadi serak mirip vokalis band rock JAMRUD.

MB: “Kalian tahu. Kalau aku jadi Gubernur, aku seret bosnya Lapindo ke kantorku. Aku suruh jancok itu tanggung jawab. Kalau dia ndak mau. Aku DORR jidatnya! Kalau kalian mau, masukin berita. Aku ndak takut!”
(*jancok = makian dalam bahasa Mas Belok*)

Mas Belok lalu berlalu dari meja kami. Saya, Beno, Wawan, Sasha dan semua rekan semeja saling tatap menatap. Kami bercakap-cakap sambil berbisik-bisik.

Saya: “Berapa besar peluang dia menang?”
Waw: “Nggak mungkin orang kayak begitu menang”
Saya: “kenapa?”
No: “Rip… Lo tuh layak orang susah aja. Dewasa dong! Jaman gini masih nggak ngerti urusan politik. Mana bisa orang kayak gitu menang. Jangankan ngurusin rakyat, ngurusin emosinya aja nggak bisa”
Saya: “Oohhh”
No: “Rip, andaipun ada yang kepilih, bukan yang mao matiin bosnya lapindo. Tapi yang kepilih, pasti yang dukung bosnya lapindo lah. Lo belajar dewasa dikit dong, men”

Saya diam. Bingung mau bicara apa. Siang ini, dunia orang dewasa ternyata begitu rumit.

Melihat Mas Belok keluar dari toilet, saya lalu bangkit. Saya mau ‘berterimakasih’ karena diundang makan siang. Ya, terimakasihnya pakai tanda kutip. Sebab intinya, saya sebenarnya mau bertanya, mengapa saya diundang. Saya sudah senyam-senyum mau menyapa Mas Belok.

Sebelum saya bertanya, Mas Belok menatap dengan penuh selidik, “Loh rif, kamu sekarang di media? Tadi waktu di meja kalian, saya mau tanya. Tapi saya sudah emosi duluan sih”

“Nggak mas, saya ndak kerja di media”

Mas Belok makin menatap penuh selidik, “Loh kalau begitu, kamu bisa sampai disini gimana ceritanya?”

JGERRR!! Sepertinya ketiban bom saya terpaku saat itu. Kaget luar biasa saya. Sebab ternyata saya tidak ada dalam list undangan. Dan dengan sisa keberanian yang sudah hancur berkeping-keping ditiban malu, saya berkata, “Sepertinya saya salah faham, Mas. Jadi bisa sampai disini. Maaf yaa”

Mas Belok senyum, “Nggak apa-apa. Tapi enak kan makanan di restoran saya ini?”

Saya senyum mengangguk. Mas Belok lalu mengeluarkan dompet. Memberi selembar uang sepuluh ribu. “Ini untuk ongkos pulang. Sudaah diterima saja. Saya ikhlas kok”

Saya bengong luar biasa.

Mas Belok menjabat tangan saya. Tangannya masih basah. Baru saja keluar dari toilet. (OUCH). Lalu pergi masuk lagi ke dalam ruangan. Menebar senyum pada khalayak.

Saya dengan wajah merah menahan marah, menuju Beno yang pada saat itu sedang ada di parkiran.

Baru saja hendak melabrak Beno dengan sejuta kalimat makian bagai topan badai. Beno memberikan saya telpon genggamnya. Saya kaget. Apa-apaan ini? Beno berbisik di telinga saya, “Rip, kalo istri gue telpon. Bilang aja, gue lagi wawancara Mas Belok. Ga bisa diganggu. Gue ga lama kok. Paling dua jam. Thanks man!”

Ia memberikan rokok sebungkus. Lalu masuk ke dalam mobilnya. Saya lirik, di kursi samping ada Sasha.

Mereka berdua, meninggalkan saya sendirian di tempat parkir. Entah mereka pergi kemana. Apapun dapat terjadi dalam dua jam berikutnya.

Dan saya pun semakin termangu-mangu dalam dunia orang dewasa dengan cerita-cerita dewasa mereka.