Entah kenapa, kalau sedang kerja di kantor kok yaa ide ngeblog itu banyak sekali. Aneh sekali. Sebab ketika sedang memfokuskan diri untuk menulis, otak ini buntu dan rasanya macet. Aneh. Seakan semua ide, data dan imajinasi menjadi musnah.

Bahaya loh itu. Saya kan digaji tidak untuk ngeblog. Kasian yang menggaji. Bukannya dapat hasil pekerjaan… E-eh, malah dapat tulisan. Lebih parah lagi, tulisan itu bukan untuk kepentingan yang menggaji, melainkan untuk kepentingan saya sendiri. Agar blognya update. Hehe. Sungguh kurang ajar.

Tapi membiarkan ide terbuang begitu saja… Ahh, tidak tega.

Maka itu, saya selalu siap-siap. Jadi kalau ide, langsung dicoret-coret di tulis. Jangan sampai mengendap terlalu lama di otak. Sebab otak saya ini tipe kapasitas pas-pasan. Artinya tidak bodoh-bodoh amat dan juga tidak dapat dikategorikan cerdas.

Nah, namanya otak pas-pasan, yaa cepat lupa. Hehe. Maka itu perlu bantuan, dari Hamba Allah yang disebut pensil dan kertas.

Maka itu, mulailah saya mencorat-coret di kertas. Membuat sketsa tulisan. Ini hasil coretan iseng saya;

Beberapa saat lalu, saya membaca sebuah review film Indonesia. Sebuah film yang diangkat dari buku yang laris manis terjual di pasaran. Bukunya sendiri saya belum baca. Tapi tidak apa-apa, toh saya tidak akan membahas bukunya. Saya akan membahas reviewnya.

Hehe, menarik bukan. Sebuah ulasan yang membahas ulasan. Seakan saya sudah terlalu kurang kerjaan. Untuk apa mengulas sebuah ulasan?

Begini ceritanya; Si pengulas mencoba membuat review mengenai sebuah film yang diangkat dari novel roman religius. Sang pengulas ini kecewa. Satu, karena filmnya tidak sesuai dengan buku. Dua, karena filmnya jauh dari yang ia bayangkan. Tiga, karena pemerannya tidak relijius.

Alasan pertama dan alasan kedua, saya dapat memahami. Mulai dari 1984 George Orwell yang diangkat ke layar lebar, lalu Sin City yang bahkan disutradarai oleh penulisnya Frank Miller hingga The Kite Runner karya Khalid Hosseini, buku maupun filmnya jauh sekali berbeda. Lebih bagus bukunya.

Tapi alasan ketiga, astaga!

Apakah sebuah film relijius menjadi buruk karena pemerannya tidak relijius?
Atau sebaliknya, film non-relijius menjadi memuakkan karena aktornya rajin shalat atau tidak alpa ke gereja untuk misa atau beribadah macam lainnya (misalnya; rajin membakar kemenyan di pohon beringin)?

Mengapa saya tidak bisa memahami alasan ke-tiga. Mari saya perlihatkan dan bahas satu-satu. Tentu saja pakai kacamata dan pengetahuan saya pribadi. Jadi, amat subyektif sekali. Dan jelas amat terbatas, sebab ilmu yang saya miliki sungguh tidak mumpuni. (*selain itu, ini benar-benar sketsa iseng belaka loh. Jangan diambil hati*)

1. Pertanyaan

Pemeran dalam film, kalau laki-laki disebut aktor. Kalau perempuan, disebut aktris. Aktor maupun aktris berasal kata dari bahasa Yunani kuno, hypokrites. Dalam kata kerja berarti pula sebagai ‘Yang Menginterpretasikan’. Dalam bahasa Inggris, aktor dan aktris berasal dari kata act. Artinya tindakan atau pura-pura atau peranan atau tafsiran atau kesan.

Intinya, pemeran dalam film itu memang tugasnya untuk berperan. Ia dibayar untuk berpura-pura dengan sebaik-baiknya untuk menafsirkan peranan yang ia lakoni di depan panggung. Sehingga memberikan kesan pada penonton, sebagaimana yang penonton lihat. WYSIWYG (What You See Is What You Get). Meyakinkan penonton bahwa karakter yang ia mainkan adalah nyata.

Aktor/aktris yang baik adalah pelakon yang mampu memainkan perannya sama persis dengan karakter yang ia mainkan. Semakin baik ia berperan, semakin dikenal pula ia sebagai aktor atau aktris yang elok.

Dunia mengenal Anthony Hopkins, seorang aktor asal Inggris. Seorang pemeran watak karakter yang luar biasa. Saking luar biasanya ia dianugrahi gelar Sir, gelar-ksatria-Inggris, di depan namanya oleh Ratu Britania Raya. Ia dianugrahi gelar kebanggan rakyat Inggris tersebut, setelah membintangi film Hannibal. Sebuah film dimana Anthony Hopkins berperan sebagai Hannibal Lecter, seorang kanibal, manusia pemangsa manusia.

Ingat, Anthony Hopkins dianugrahi gelar ksatria bukan karena ia adalah seorang kanibal. Sebab ia aslinya adalah vegetaris, pemakan produk alam nabati. Ia dikaruniai berbagai penghargaan karena ia dapat berperan dengan baik sebagai seorang kanibal.

Jadi, kembali lagi ke pertanyaan, “Apakah pemeran film relijius harus relijius?”. Jawabannya dapat pula pertanyaan, “Apakah pemeran film kanibal harus seorang kanibal?”.

Atau, “Apakah aktor pemeran dukun cabul harus benar-benar cabul, doyan mengangkangi wanita-wanita setelah mengucap doa-doa?”

2. Jawaban

Untuk menjawab pertanyaan dalam poin pertama, sungguh beragam. Tidak bisa hanya dengan jawaban ‘Ya’ atau ‘Tidak’. Melainkan harus dicermati konteks yang ada di belakang pertanyaan tersebut.

Mengapa?

Sebab aktor dan aktris dalam negara tertentu adalah profesi yang luar biasa. Kenyataan bahwa wajah mereka adalah konsumsi publik, adalah faktor yang membuat mereka menjadi sorotan masyarakat.

Beberapa tahun lalu, saya sempat berbincang-bincang dengan sutradara dari Iran, Pak Jafar, di Festival Film Rotterdam.

Ia bilang begini, “Kamu tahu, di negara saya dan di beberapa negara jazirah Arab, ada masa dimana bintang film hanya boleh bermain dengan lawan mainnya yang bukan sejenis apabila mereka punya hubungan kekeluargaan”

Jadi, yang berperan sebagai suami bagi seorang aktris dalam film adalah suaminya sesungguhnya.

Saya ketawa. Lalu menjawab, “Enak dong kalo gitu. Walopun si suami nggak bisa akting, ia bakalan terkenal juga”.

Yang menarik adalah, tidak ada seorangpun yang ikut tertawa. Disamping saya, ada sutradara dari India. Seorang Ibu. Ia bilang, “Di negara kami, penonton kurang menyukai adegan ciuman yang dilakukan bukan oleh pasangan suami-istri yang sebenarnya”.

Saya kaget. India? Masa sih? Sebuah negara yang memproduksi film yang menjadi tontonan wajib di sebuah stasiun televisi pendidikan di Indonesia. Dimana punya produksi film terbesar kedua setelah Holywood. Adegan ciuman, saru? Hebat.
(*Mohon teman-teman yang memahami peta Bollywood mengkonfirmasi yaa kalau beliau salah*)

Jadi, pertanyaan bahwa apakah kondisi sosial pemeran film itu amat berarti bagi produksi film? Jawabannya bisa ‘Ya’ di negara tertentu.

Sekarang, balik lagi ke Indonesia. Dan kembali pula ke pertanyaan, “Apakah pemeran film relijius harus dikenal sebagai orang baik-baik pula? Atau sebaliknya?”

Wahh, saya pikir Indonesia punya kultur dan kearifan tersendiri yang sebenarnya sudah mampu menjawab itu semua. Sebuah budaya yang (katanya) bahkan mempunyai tradisi gemblak dalam reog Ponorogo, aksi seni peran kegiatan tradisional masyarakat lokal.

Tapi kalau memang masih ada pertanyaan, Apakah pemeran film relijius harus dikenal sebagai orang baik-baik pula? Yang menjadi pertanyaan lanjutan adalah, “Apakah pemeran Abu Lahab haruslah seorang yang dipanggil bajingan di lingkungan sekitarnya?” atau “Apakah pemeran Hanuman harusnya adalah aktor cerdas yang pernah dihantam Vajra dan lalu dikutuk menjadi kera?”

Ahh, kalau jawabnya hanya ‘Ya’ lalu titik tanpa koma selesai begitu sahaja, berat sekali hidup seorang bintang film.

3. Ulasan

Diantara kita, banyak aktor/aktris, sutradara, crew stage, atau pekerja film lainnya. Profesi mereka amat menarik. Namun tidak bisa disangkal, bahwa para pemeran dalam film itu lah yang menjadi salah satu sorotan utama dalam masyarakat. Wajar. Sebab warga kenal wajah mereka. Itu saja alasannya.

Mereka menangis, ketawa, kentut, buka baju, gosok gigi… Semuanya kita tonton. Karena kita tonton, kita merasa mengenal beliau.

Alasan itulah yang kemudian menjadikan aktor, aktris, pemeran film, atau siapapun yang wajahnya ada di film atau televisi, menjadi sebuah komoditas.

Ada komoditas yang berbentuk wawancara di majalah ibu-ibu. Ada yang berbentuk tayangan gosip infoteinment. Bahkan hingga sampul mengkilat sebuah produk sabun mandi yang (acapkali di lembaga pemasyarakatan) dipakai menjadi bahan masturbasi.

Lalu bagaimana kita melihat para aktris/aktor tersebut?

Sebagai komoditas?
Sebagai cermin?
Sebagai idola?
Atau sebagai apa?

Sebab apabila kita menilai mereka ‘tidak pandai berpura-pura alim dan relijius’, apakah sesungguhnya kita yang tengah menilai, bahwa kitalah yang sedang menilai diri kita sendiri.

Atau ketika kita menilai bahwa aktor intelektual di tenda sirkus kabinet wakil rakyat semakin hari semakin memualkan, apakah sesungguhnya kita tengah menilai diri kita sendiri. Bahwa kita, sebuah bangsa yang terkenal ‘alim dan relijius’, tengah membiarkan kebodohan itu terjadi begitu saja.

Tapi… Ahh, sudahlah. Jangan diambil hati. Toh, ini hanya sketsa iseng belaka.

Jangan berat-berat mikirnya. Hidup di republik ini sudah susah. Jangan ditambah susah. Hidup sudah satir kok yaa ditambah dengan satir.

Lagipula, ini sekedar coretan iseng pengisi waktu luang di kala makan siang.

(*Karena hanya sketsa iseng, maka kali ini menerima komentar iseng pula. Hehehe*)