Ada pertanyaan yang menarik beberapa hari lalu. Dilontarkan oleh seorang sahabat. Pertanyaannya simpel, yaitu, “Mengapa tubuh wanita lebih menjual daripada tubuh pria?

Saya lagi duduk bersamanya di kantin. Tersedak.

Pertanyaannya sedemikian menarik. Sebab tiba-tiba membuat manusia satu kantin menjadi hening. Kantin itu cukup luas loh. Mampu menampung 40 orang sekaligus. Mendadak semua mata memandang saya curiga. Seakan meminta jawaban.

Kampret! Asem!

Saya sudah siap-siap menjawab dengan logika tricky (*tipikal khas bangaiptop, haha*). Mencari sebuah jawaban berdasarkan kondisi dan situasi. Memanfaatkan suasana. Yaitu, pertama, bahwa kami saat itu sedang ada di sebuah gedung penyedia jasa internet terbesar. Kedua, karyawannya kebanyakan pria muda. Ketiga, sebagian besar adalah lajang.

OKE. Jawabannya gampang. Ketemu! Mengacu pada logika, ‘apa yang dilakukan pria muda lajang, nerd, berpenghasilan tinggi dan mahir internet?’

Simpel… Yaitu, banyak dari mereka yang pandai mencari dan mengunduh konten porno. Lalu menghapus jejaknya agar tidak ketahuan siapa-siapa. Hehehe.

Jadi, jawaban saya adalah, “Tanya aja ama disebelah kamu. Dia itu pinter loh donlot pelem yang isinya tubuh wanita menggelinjang pake gugel”

Haha. Jelas itu logika yang selain ngasal, OOT, ad hominem dan nggak mutu. Tapi mau dikata apa lagi? Pertanyaannya sedemikian sulit. Maka jawabannya juga aneh. (*Sama seperti pertanyaan pada seorang gubernur, “Pak gimana mengatasi banjir tahunan?”. Si Gubernur menjawab. “Wah itu mah gara-gara pendahulu saya tuh, si gubernur brengsek!”*). Haha.

Sialnya, hari itu ada pertemuan para pengembang perangkat lunak wanita dari beberapa negara. Siaal… Siaalll… Jadi yang ada di kantin itu, 90 persen lebih wanita semuanya. Dan hampir semuanya sudah berkeluarga (*diantaranya ada kakak ipar saya pula, Anna Marie*). Ampuuun, Mak.

Saya pengen pura-pura kebelet ke WC. Nggak bisa. Semua mata memandang pada meja kami. Astaga. Siang-siang dapat cobaan ajaib.

Tahu apa saya soal tubuh wanita? Sejak kapan saya jadi ahli wanita?

Saya cengar-cengir kebingungan. Garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

Akhirnya, saya menjawab juga. Saya bilang begini;

Wanita, itu makhluk yang luar biasa. Dianugrahi Yang Maha Pencipta dengan kelebihan-kelebihan khusus. Diantaranya adalah sebagai induk proses reproduksi manusia.

Kemajuan teknologi, bisa membuat wanita hamil tanpa pria. Tapi, tidak ada teknologi yang mampu membuat anak tanpa bantuan wanita. Proses kloning pun masih membutuhkan wanita rupanya.

Maka itu, wanita dipandang sebagai perwujudan Sang Pencipta di muka bumi. Dipandang sebagai Dewi Kesuburan. Yang mampu menumbuhkan kehidupan pada semesta. Mulai dari Isis di Mesir hingga Dewi Sri di Nusantara. Wanita dipandang suci.

Itu teori pertama.

Teori kedua, jelas mengacu pada Freud. Dimana setiap anak jatuh cinta pada ibunya. Entah anak laki-laki maupun anak perempuan. Setiap anak pasti cinta ibunya. Dan keterikatan emosional antara anak dengan ibu sedemikian tinggi. Itu yang membuat setiap pria menyukai wanita. Entah erotis, entah emosional. Ada ikatan kuat antara anak-anak yang baru lahir dengan wanita. Terutama, dengan tubuh wanita.

Dan ikatan emosional itu pula yang membuat pria menyukai tubuh wanita. Sebab sebelum mereka lahir hingga beberapa saat setelah mereka lahir, tubuh wanita begitu kuat pengaruhnya pada awal-awal terjadinya manusia.

Jangankan laki-laki, wanita pun kadang-kadang suka terhadap tubuh wanita. Baik itu tubuhnya sendiri. Atau bisa juga tubuh wanita lain. Ehemm…

Teori ketiga adalah pengaruh iklan. Dimana wanita kadangkala selalu menjadi ujung tombak keberhasilan diplomasi antar suku. Sifat wanita yang lemah lembut, mampu membuat sebuah perundingan alot menjadi lebih dinamis. Dan konsep ini dibawa dari masa paleolitikum hingga saat ini. Iklan modern bahkan mempergunakan wanita sebagai lahan bisnis. (*Contohnya: Iklan penipuan tarif telpon RI yang menghebohkan itu*)

Jadi, wajar saja tubuh wanita begitu menggoda.

Sahabat saya mengangguk-angguk mendengar penjelasan ini.

Lalu, tiba-tiba saja seruangan itu bicara mengenai wanita dan tubuh mereka. Ada (sebagian besar) wanita yang merasa kegemukan. Dan tiba-tiba saja, para pria (yang secara jumlah tidak dominan) seakan menjadi tertuduh. Seakan pria lah penyebab satu-satunya mengapa wanita merasa tubuhnya ‘ndut’.

Para pria itu, menatap saya dengan pandangan janggal. Saya diem aja. Malu euy. Menunduk. Dalam hati, saya pikir mereka berkata pada saya, “Dasar pengkhianat!”. Hihi

Kelebihannya, makan siang kali ini, ditraktir hingga perut melembung. Huehehe.

Sorenya, ketika pulang ke rumah, saya lihat nasi mengepul di meja makan. Wahh, tumben. Padahal majikan saya Ibu Nyonyah baru pulang ke rumah. Jadwal pulang kerja beliau sama seperti jadwal saya. Jadi, bagaimana nasi panas sudah ada di meja makan? Bagaimana ada waktu untuk memasak?

Sebelum pertanyaan saya terjawab, ada peristiwa ajaib lagi terjadi.

Beliau menunggu di meja makan. Lalu bertanya, “Kata Anne Marie, kamu suka tubuh perempuan lain yaa? Sudah ngaku saja?”

Saya meneguk ludah? Cleguk… Tenggorokan rasanya kering.

Ibu Nyonyah melanjutkan pertanyaan yang tidak kalah dahsyatnya, “Benar ga sih, semua laki-laki itu suka melototin perempuan cakep?”

Ahh gimana menjawabnya. Logika tricky pasti tidak mempan dipakai ke Ibu Nyonyah.

Akhirnya, saya hanya bisa cengar-cengir kebingungan. Garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Dan lalu menjawab, “Itu nasinya mantep banget. Pulen. Dari Cianjur yaa?”

(*Hehe, jawaban yang nggak mutu*)