Ada hal yang menarik beberapa waktu lalu ini yang saya alami.

Lagi-lagi, tentu saja hal yang menarik yang saya sebut diatas itu bukanlah kesepakatan publik. Sebab apa yang menarik buat saya, belum tentu menarik buat anda. Hehehe. Wajar itu mah.

Tapi pertama-tama, saya mohon maaf abang-mpok tuan-nyonye encang-encing enyak-babe kalau tulisan kali ini agak-agak kurang baik dalam segi apapun jua. Maklum lah, sudah lama saya tidak menulis. Ini jari dan otak rasanya kesemutan, begitu. Hmhhhh…

Saya selalu berharap kemampuan menulis itu ibarat skill naik sepeda. Sekali bisa, sampai mati pun tak kan lupa. Tapi tentu saja itu bisa salah. Mari kita lihat saja tesis itu di tulisan kali ini;

Balik ke awal, saya mengalami kejadian menarik beberapa waktu belakangan ini. Yaitu berurusan dengan hal yang berdasarkan konsep manusia, hal yang tidak menyenangkan untuk dibicarakan.

Iya, saya berurusan dengan maut.

Maut, menurut beberapa budaya terapan manusia, adalah hal yang tidak menyenangkan untuk dibahas. Menarik mungkin untuk dilihat dalam adegan film horror. Atau mungkin menarik untuk dibaca sebagai bagian dari dongeng pengisi waktu senggang di hari libur. Tapi, tidak menyenangkan untuk dialami.

Kenapa bicara tentang maut membuat enggan sebagian manusia?

more