Tadi pagi, pas sahur, saya dapat telpon dari teman. Tadinya sih saya pikir ia mau mengajak batal puasa bersama. Hihihi. Maklum ia teman saya bercanda. Ternyata saya salah besar.

Rupanya sang sahabat ini tengah dirundung duka. Ahh sedih sekali.

Rumah-tangganya, yang telah dibina hampir 15 tahun dengan istri tercinta, di landa badai.

Masalah datang silih berganti menimpa mahligai perkawinan mereka. Puncaknya adalah seminggu lalu. Ketika istrinya, memutuskan pergi. Membawa putra mereka yang berusia lima tahun. Pergi dari rumah… Dan hingga kini belum kembali.

Saya kaget luar biasa. Ia sahabat karib saya. Saya mencintainya bagaikan saudara. Dan kini, dukanya adalah duka saya pula.

Itu pasangan suami istri, saya akui, cobaan yang mereka hadapi memang luar biasa. Setelah dua pemilu menunggu, baru mereka akhirnya dikarunia putra.

Kisah pasutri ini unik. Sang perempuan, hidup terhormat dengan memilih menjadi Ibu dan menjauhi dunia glamor yang ditekuninya, hanya demi satu alasan, berkeluarga. Si lelaki, yang berasal dari keluarga taipan kaya RI, memilih hidup mandiri menjadi buruh meninggalkan fasilitas keluarga lama demi menghidupi keluarga barunya itu. Sebab pernikahan mereka memang tidak direstui.

Saya masih terkaget-kaget. Maka, jelas saja saya bertanya “Ada apa? Kok masalahnya sampai segini parah sih? Ada yang bisa saya bantu?”

“Nggak rif… Ini gunung es. Keliatannya aja dari luar kecil, padahal sih sebenernya gede banget dan udah lama”

“Tapi kan nggak harus sampe pisah? Si Didi gimana? Aduuh kasian kan dia, masih kecil segitu”

“Ikut sama mamanya”

“Aduh masaoloh! Kalian kan bedua kerja. Trus nanti siapa yang jagain si Didi?” (*Saya terus terang tidak dapat menyembunyikan kekhawatiran terhadap Didi, putra mereka. Sebab korban dari pertentangan orangtua, bukan hanya kedua pasangan suami istri tersebut, melainkan juga anggota keluarga lainnya. Terutama anak*).

“Yaah, kami akan cari cara untuk mengatasi, Rif”

“Kok bisa sih. Maksud saya, kalian kok bisa memutuskan untuk pisah”

“Hmhh…”

“Kalau kamu nggak mau cerita, terlalu pribadi, jangan ceritaa yaa. Saya nggak enak. Dan saya nggak maksa kok. Take your time, men”

“Nggak sih. Bukannya terlalu pribadi, saya nggak tahu saja dimana saya harus mulai. Ini masalah lama kok. Kamu tahu kan, dia selalu minta saya berubah. Dia minta saya sekolah lagi, supaya dapet kerja yang lebih baik, gajinya lebih gede. Dan kamu tahu, saya bukannya nggak mau sekolah, tapi kan biaya sekolah mahal. Andai pun saya harus sekolah, saya nggak niat pingin dapat uang banyak. Saya cuma kepingin dapat ilmu”

Saya terdiam. Sahabat saya ini idealis. Terlalu idealis malah, bagi sebagian anggapan orang.

Dia tidak menyukai sertifikasi. Bagi dia, ilmu yang dimonopoli oleh institusi pendidikan, lalu dijual kembali kepada publik dengan harga mahal, adalah penindasan gaya baru. Bagi dia, seharusnya ilmu dapat diperoleh dimana saja.

Sialnya, pendapat teman saya ini tidak berlaku di RI. Ilmunya memang banyak. Sayang sekali, di RI perusahaan yang memperkerjakan karyawan dengan cabang keilmuan yang ia tekuni, menuntut sertifikat. Dan itu yang sahabat saya tidak miliki.

Ia melanjutkan dengan nada sedih, “Kamu tahu, ia selalu menuntut saya supaya punya sertifikat. Coba kamu bayangkan, bagaimana saya bisa kerja ngeburuh begini sambil sekolah. Gaji kecil. Udah gitu, harus dipirit-pirit tuh duit. Supaya saya bisa dapet sertifikat! Apa lagi jatah rumah yang harus dipotong? Susunya si Didi!”

Saya diam. Sebab menawarkan uang agar ia bisa melanjutkan sekolah, kepada sahabat saya, saat ini bagai menyiram bensin dalam api. Itu bukan solusi.

Saya kehilangan kata-kata sejenak. Saya termenung lama. Masalahnya rumit sekali untuk otak saya yang kecil ini.

Pelan-pelan saya tanya, “Trus, gimana dong sekarang?”

“Saya sudah kehilangan hasrat laki-laki kepadanya, Rif. Begitu pulang kerja capek, di rumah ia ngomel abis-abisan. Dia bilang, saya harus berubah! Saya marah. Dan akhirnya, kami saling menyakiti. Saling omel. Aahh…”

Takut-takut, saya tanya, “Kamu nggak mau menuruti permintaannya?”

“Ahh kamu. Kayak nggak kenal saya aja. Saya kawin sama dia tuh karena dia satu-satunya perempuan yang mengerti saya. Sekarang ia berubah. Sialnya… Saya tidak berubah. Saya adalah saya. Dan ini masalah prinsip”

Saya diam saja. Saya bingung mau jawab apa.

Ia, sahabat saya. Idealis dan keras kepala. Tapi saya sayang kepadanya. Ia salah satu dari para laki-laki terhormat yang pernah saya temui di muka bumi ini.

Tidak lama kemudian ia pamit. Mau sahur katanya.

Saya pikir cerita ini usai. Ternyata saya salah.

Lanjut membaca terusan ini