Bertahun-tahun saya hidup di tanah rantau. Malam ini, adalah malam biasanya saya lebih sering terpekur dalam menerima ‘kondisi’ saya. Yaitu kondisi perantau.

Tapi sebelum jauh-jauh, mari kita definisikan dulu apa itu rantau.

Ini definisi dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dalam jaringan. Salah satu kamus favorit saya. Sebab kamus ini, bisa diakses oleh perantau macam saya. Yang enggan membawa buku tebal-tebal kemana-mana. Hehe.

ran·tau
daerah (negeri) di luar daerah (negeri) sendiri atau daerah (negeri) di luar kampung halaman; negeri asing;

me·ran·tau

1 berlayar (mencari penghidupan) di sepanjang rantau (dr satu sungai ke sungai lain dsb);
2 pergi ke pantai (pesisir); pergi ke negeri lain (untuk mencari penghidupan, ilmu, dsb);

pe·ran·tau
1 orang yg mencari penghidupan, ilmu, dsb di negeri lain;
2 orang asing; pengembara;

Berdasarkan terminologi di atas, saya ternyata dapat dikategorikan sebagai pe·ran·tau. Orang asing yang mencari penghidupan di negeri lain.

Saya tidak akan menjelaskan mengapa saya mencari penghidupan di negeri lain, bukan-di-negeri-sendiri, dalam tulisan ini. Sebab bisa saja jawaban saya adalah; bahwa pada suatu saat tertentu, kehidupan di negeri asal saya sedemikian berbahaya, sehingga saya terpaksa harus pergi.

Tidak, saya tidak akan menceritakan hal tersebut. Dan saya pun belum mau menceritakan mengapa saya me·ran·tau dan lokasi pe·ran·tau·an saya.

Saya hanya akan bercerita, mengapa malam ini saya ‘terpekur’. (*Anggap saja, ini masih dalam konteks curhat orang Cilincing, hehe*).

Begini;

(*lanjut membaca*)