Blog


Suatu hari, saya diintipin orang. Sambil ngintip, ia bukannya malu, malahan ketawa.

Mau tahu kenapa? Klik disini.

(*Catatan, apabila tidak dapat membuka alamat link diatas, mohon klik disini untuk meminta langganan tulisan melalui email anda*)

Iklan

Jujur saja, sebenarnya saya mau pamit. Saya mau berhenti menulis.

Tapi karena salah ketik, bukannya menulis ‘PAMIT… Saya malahan menulis Manit. Maka judul tulisan saya pun dengan pasrah berganti menjadi ‘MANIT’. Huehehe.

Payah deh saya, mau pamitan saja salah begini. Tadinya, mau saya rubah. Tapi karena sudah tekan tombol publish, jadi yaa sudahlah, biar saja slah kteik.

Tombol publish itu berbahaya juga yaa ternyata. Apalagi apabila di tangan oknum yang tidak bertanggung jawab macam saya ini. Hihihi.

Halah, jadinya kok yaah ngelantur.

Maka itu, kalau mau baca kenapa saya pamit, silahkan saja klik disini

Belum pernah saya begitu banyak menerima hate speech (berupa email) sebanyak akhir-akhir ini. Khayalan iseng saya terdahulu, soal partai internet, menuai badai.

Padahal saya tidak berencana menanam angin ketika menulis artikel tersebut. Hehehe.

Rupa-rupanya, banyak orang yang tidak suka saya menulis tulisan yang berbau politis. Banyak orang yang tidak suka politik. Katanya beberapa gelintir pengirim email, ‘Politik itu haram!’.

Tulisan saya, soal partai internet banyak yang menanggapi. Saya kaget juga. Khayalan iseng itu berbuah pertanyaan, tanggapan, sanjungan, cemoohan hingga akhiran -an -an lainnya.

Secara sadar, komentar pada tulisan itu tidak saya jawab.

Agak berbeda memang. Sebab saya biasanya selalu membalas komentar. Alasannya simpel saja. Sebab tulisan itu benar-benar imajinatif. Setiap orang berhak melemparkan imajinasinya disana. Entah itu sopan maupun tidak.

Biar saja. Dibebaskan saja imajinasi yang ada. Seliar-liarnya. Sebab adakah sesuatu yang lebih liar daripada imajinasi? Biar lah publik yang menilai.

Akibat tidak dibalasnya komentar-komentar, banyak yang mengirimkan email.

Beberapa orang menulis email yang bahkan mirip senada (walaupun IP adress-nya jauh sekali berbeda). Kata mereka adalah bahwa politik itu tidak dibenarkan dalam beberapa agama. Demokrasi hukumnya haram (merujuk pada ini). Kata mereka pula, mengajarkan politik demokrasi pada masyarakat, sama saja dengan menyiarkan syiar fitnah.

Sambil senyam-senyum, saya balas satu-satu email tersebut. Diantaranya adalah, “Setiap orang boleh mengaku utusan tuhan, tapi bukankah masyarakat yang menentukan ia akan dipercaya sebagai nabi atau tidak? Itu kan demokrasi murni. Apa tanggapan anda?

Selain email berisi kebencian (*caci makinya saya sensor, hehe*), banyak juga email yang berisi pertanyaan. Ada seorang pembaca, dari sebuah daerah di Jawa Tengah, menulis dengan amat menarik. Pertanyaan beliau adalah;

Kang. Saya kira panjenengan ini ndak main politik-politikan. Ndak taunya kok yaa main politik. Apa ini kartu as panjenengan. Suka bicara soal rakyat. Tapi sekarang apa mau moroti suara rakyat?

Saya tersenyum lebar membacanya.

Alih-alih menjawab surat itu. Saya malah teringat seorang dai terkenal yang berpoligami. Loh ada apa dengan Da’i poligami? Apa hubungannya dengan politik?

Begini ceritanya; (lebih…)

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

(Catatan ini sebenarnya untuk saya pribadi -atau bisa juga untuk dibagi-. Agar mencoba untuk selalu menulis dengan hati)

Saya ini anak bawang dalam dunia persilatan Blog. Saya ndak tahu apa itu Blog Seleb, Gerakan Jangan Komen di Blog Seleb, Komunitas Gajah-gajahan atau Komunitas Masak-masakan hingga ketika pertengahan bulan Desember, pada saat saya menemukan wordpress.

Bagi saya, Blog itu banyak artinya. Bisa jadi curahan hati, sarana berbagi ilmu, membudayakan sebuah gerakan atau sekedar bercerita mengenai pengalaman. Namun yang pasti, Blog adalah Blog, untuk dibaca dan untuk ditulis.

Membaca, bagi saya bukan hanya sekedar hobi, melainkan juga sebuah kewajiban religi. Toh, kepercayaan yang saya anut mewajibkan saya untuk membaca. Maka itu, saya membaca, termasuk membaca blog, saya anggap adalah salah satu bagian dari ibadah saya.

Sementara menulis, bagi yang sudah bisa belajar menulis, bukanlah sebuah pekerjaan yang sulit. Hal yang sulit dari menulis adalah; Apa yang akan ditulis? Bagaimana penyampaian tulisannya? Bagaimana agar pembaca tulisan mengerti apa yang akan disampaikan? Hingga yang paling sulit adalah, menebak, bagaimana reaksi pembaca tulisan.

Para penulis yang mampu menebak reaksi pembaca tulisannya itu tidak banyak. Mereka biasanya terkenal karena tulisannya. Entah dipuja… Entah dicerca… Yang pasti, banyak yang membicarakannya. Stephen King, Salman Rushdie hingga (alm) Pramudya AnantaToer termasuk diantara golongan manusia yang mempunyai bakat tersebut.

Menurut saya yang amat subjektif ini, menyalin itu beda dengan menulis. Menyalin adalah tindakan yang dilakukan dengan cara menggandakan tulisan/karya orang lain. Apabila dilakukan dengan memberitahu sumbernya, ia disebut penyebar. Namun apabila tidak memberikan sumbernya, si penyebar disebut juga plagiator atau penjiplak.

Akhir-akhir ini (*atau mungkin sudah lama yaa? Saya saja yang sudah basbang kali, hehe*) , banyak sekali pertentangan-pertentangan yang terjadi di dunia Blog. Ahh, ndak apa-apalah. Hidup jadi lebih berwarna. Dunia Blog jadi seperti pelangi. Indah.

Namun, untuk beberapa penulis Blog, tampaknya lupa. Bahwa yang membaca tulisanya adalah dunia. Dan dunia akan menilai, sebermutu apakah tulisan dan isi hati si penulis blog. Dunia melihat, siapa itu Mas Faiz, Harry Sufehmi, Enda, Luigi Pralangga, Paman Tyo dan Ndobos dan para penulis Blog yang terkenal lainnya. Dunia melihat, arsip-arsip menggunung setiap bulan di Blog mereka, adalah karya yang luar biasa. Duh Gusti, rajin sekali mereka menulis dan pandai sekali mereka merangkai kata-kata.
Lebih jujur lagi, saya menulis ini dengan jujur, tanpa niatan kissin ’em ass.
(*Walaupun tulisannya bagus dan bermutu, saya tidak mau mengkultuskan Priyadi. Saya khawatir apabila Mas Pri kawin lagi, saya ikut-ikutan komen di infoteinment. Atau malah, bikin halaman khusus buat beliau, judulnya “Priyadi Poligami?”, hehehe*)

Setiap manusia punya warna. Saya amat percaya hal itu. Maka itu, ketika dua orang anak kembar yang sama-sama ke dunia fantasi, lalu disuruh nulis pengalaman jalan-jalannya di Blog, pasti akan menulis hal yang berbeda. Itu kalau menulis jujur…, kalau mencontek, lain lagi ceritanya.

Menulis dengan hati… Apa sih susahnya?
Kadang-kadang memang susah, apalagi kalau hati penulisnya jahat.
(*Tapi kalau hati penulisnya jahat, ia bakal berbuat jahat juga dong? Orang jahat masuk penjara tau… Udah gitu, masuk neraka pula! Maka itu ati-ati kalau mau jadi orang jahat yang memulai karir sebagai penulis jahat*)

Menulis dengan hati…, sama seperti bicara dengan orang yang kita cintai… Apa adanya… Jujur dan tidak terpaksa.

Menulis Blog dengan hati.

Menulis komen dengan hati.

Ahhh…, indahnya dunia Blog ini.