Disain


Sebagai sebuah profesi, seorang disainer, kadang-kadang mencintai font tertentu. Dan hal tersebut pasti ada alasannya. Misalnya, saya, menyukai font Arial, hanya karena hampir-hampir mirip dengan nama saya, Arif (*jijay banget, alasannya narsis teuing! hehe*).

Karena Linux, tidak menawarkan program khusus pengganti software Flash untuk membuat animasi. Maka saya, kalau bekerja, malas menggunakan Linux. Lebih banyak memakai Operating System Windows atau MacOS. Sebab wilayah pekerjaan saya, memang mengharuskan saya sering menggauli Flash. Selain itu, jujur saja, GIMP itu kok yaa sepertinya ‘kurang gaul’ apabila dibandingkan Photoshop, sebagai software pengedit image berbasis raster.

Ditambah lagi, Macromedia FreeHand, Adobe Illustrator dan CorelDraw, memang jauh lebih perkasa apabila dibandingkan dengan Killustrator atau Inkscape, sebagai pengolah image berbasis vector.

Pendapat di atas memang amat subjektif. Apalagi yang bicara saya, yang bukan hanya newbie, melainkan dummie pada Linux. Hehehe. Selain itu, komparasi diatas memang sangat tidak adil sama sekali. Microsoft Windows atau Mac OS Jaguar, berapa harganya? FreeHand, Illustrator, CorelDraw, Flash, AutoDESK, (alias)MAYA dan konco-konconya pengolah 2D atau 3D, berapa harganya?… selangit men! (*Apalagi buat mahasiswa yang merangkap anak kost, harga tersebut naik lagi ke jenjang langit berikutnya, hehe*).

Harga-harga yang selangit tersebut, membuat saya lari ke UBUNTU. Mengapa UBUNTU? Karena gratis… dan ga usah donlot, minjem temen, nge-rental, atau apalah yang lainnya yang bikin capek. Sebab CD UBUNTU datang langsung ke rumah. Cukup daftar di situs mereka lalu CD datang dari langit dengan pos.

Sayang sekali, di Ubuntu tidak ada font-font yang ‘akrab’ bagi saya. Contohnya verdana… mana ada verdana di Ubuntu?

Lalu iseng-iseng cari di internet. Akhirnya dapat…

Begini caranya… (*maaf, pakai bahasa Indonesia. Sebab OS Ubuntu saya berbahasa Indonesia*)

1. Konek ke internet

2. Aplikasi > Aksesoris > Terminal

3. ketik/copy paste perintah ini untuk menginstal fonts windows;
$sudo apt-get install msttcorefonts

4. Ketik/copy paste perintah ini, untuk meastikan font-font anda rapih (*sok tahu*, hehe*)
sudo fc-cache -f -v

5. Beres dah.

Oh ya, dengan perintah di atas. Pengguna dapat mendapatkan font-font berbasis windows. Font-font tersebut gratis untuk didistribusikan sejak Microsoft mencoba meningkatan penjualan Internet Explorer pada tahun 1998.

Ya sudah, segitu saja dulu saat ini. Walaupun posting ini sederhana, semoga berguna (bagi pengguna Ubuntu pemula atau wannabe Ubuntu user). Untuk mendapatkan informasi mengenai multimedia pada Linux, silahkan membaca tulisannya mas Boy (Boy ‘Avatar’ Avianto) di sini. Bagi pengguna Fedora Core silahkan baca di sini.

Iklan

(Lumayan, sebagai catatan pribadi atau berbagi dengan rekan-rekan sesama disainer)

Menurut Ibu Edi (Prof Dr Edi Sedyawati, ahli simbol-simbol nusantara) dan Ibu ati (Prof Dr Ratnaesih Maulana, ahli Ikonografi Indonesia), bahasa simbol adalah bahasa yang digunakan untuk menterjemahkan ide atau emosi atau keinginan atau peristiwa ke dalam simbolisasi. Pada intinya, bahasa simbol adalah bahasa makna.

Bahasa simbol dapat berwujud macam-macam, diantaranya adalah; gerak tubuh (body gesture), warna, gambar dan sebagainya.

Contoh bahasa simbol; Sebuah perusahaan multinasional besar, Hewlett Packard mempunya logo tanda tambah (+). Logo tersebut dapat diartikan sebagai simbolisasi sebuah perusahaan yang berkeinginan terus mempunyai produk, kinerja serta filosofi yang terus bertambah nilainya. Dalam kasus ini, logo tanda tambah (+) adalah bahasa simbol Hewlett Packard.

Masih belum mengerti?
Okay, saya beri contoh lain.

Contoh lainnya: Priyadi menempelkan banner di blognya, gambar penguin bersamurai dengan pakaian yang dipakai Uma Thurman dalam film Kill Bil-nya Quentin Tarantino. Penguin itu adalah bahasa simbol Priyadi. Menjelaskan bahwa ia menyukai Operating System Open Source Linux, seraya berseloroh, bahwa penguin Linux dapat mensamurai/melawan/mengalahkan Commercial Operating System Windows buatan Bill Gates (yang sering dipanggil sebagai Om Bill).

Bahasa simbol digunakan dimana-mana dan ada dimana-mana. Bahasa simbol adapada bendera… bahasa simbol ada pada lambang negara… bahkan bahasa simbol ada pada T-Shirt anak muda… Pendek kata, bahasa simbol ada dimana-mana.

Buku yang begitu terkenal Best Seller karangan Dan Brown, berjudul Da Vinci Code, menceritakan tentang bahasa simbol kaum Pagan, pemuja wanita. Bahkan jangan jauh-jauh deh bicara Da Vinci Code, situs sebelah kita, WADEHEL, pun amat banyak menggunakan bahasa simbol. (*mungkin itulah salah satu faktor mengapa wadehel jadi seleb blog, hehehe*)

Bahasa simbol dapat berarti biasa-biasa saja, atau sedemikian kuat pengaruhnya. Contohnya adalah lampu merah di perempatan jalan. Lampu hijau jalan terus, lampu kuning berhati-hati, lampu merah artinya berhenti. Melanggar lampu merah, yang adalah bahasa simbol dalam kasus ini, dapat berakibat fatal.

Tahun 1998, terjadi pembantaian besar-besaran terhadap Warga Negara Indonesia keturunan Cina di Jakarta. Setelah itu muncullah gerakan yang dipelopori Honker Union black hat, hacker jahat, asal Cina. Honker sendiri berarti hacker dalam bahasa cina. Gerakan ini melakukan tindakan mencuri/mengubah/menghancurkan website-website Indonesia yang memakai akhiran domain dot ID. Gerakan ini dilakukan sebagai upaya balas dendam terhadap pembantaian/pemerkosaan/pembunuhan WNI keturunan Cina di Jakarta.

Honker Union selain tindakan vandalisme juga adalah tindakan moral. Moral yang didasari oleh kebencian terhadap pemerintah Indonesia. Gerakan itu tidak hanya di dukung oleh para blackhat yang mengerti bilangan biner, melainkan juga didukung pengguna internet serta pemilik website yang simpati dengan perjuangan Honker Union. Dukungan tersebut ditebarkan dengan cara menempelkan image-image banner berukuran 40 x 40 pixel di website-website yang simpati dengan gerakan Honker Union.

Image Banner berukuran 40×40, gambar bintang-bintang berwarna kuning dengan dasar warna merah adalah bahasa simbol gerakan Honker Union. Pada tahun 1998, image yang bertebaran di banyak website-website Cina ini berarti sebagai ,”Kami membenci pemerintah Indonesia, yang menutup mata terhadap pembantaian Cina di Indonesia”.

(Pada tahun 2005, ketika terjadi ‘perang’ antara hacker China dan hacker Amerika Serikat, logo/banner ini berarti bahwa mereka mendukung pencurian data terhadap intelejen AS)

Pertama kali melihat banner itu, iseng… saya klik saja. Ternyata saya dibawa ke sebuah halaman yang berisi hujatan, makian, cacian terhadap pemerintah Indonesia. Serta sebuah himbauan agar jangan berhubungan dengan Indonesia.

Saya bingung, sedih serta kecewa. Di satu sisi, saya simpati terhadap korban WNI keturunan Cina (sama seperti simpati saya terhadap korban aktifis penculikan, korban mahasiswa yang ditembak misterius serta korban represi militer 1998 lainnya).
Saya bingung dan sedih, sebab saya orang Indonesia juga. Dan tidak semua orang Indonesia setuju dengan tindakan pemerintah Indonesia.
Kok yaa, Honker Union tega-teganya mengeneralisasi serta menghimbau publik Cina untuk menghentikan hubungan dengan Indonesia?

Lebih tega lagi, merusak/mengganti/mencuri website-website berdomain/berdomisili di Indonesia. Apa maksudnya?

Ada beberapa situs Cina yang bagi saya amat baik. Isinya mengenai review technology serta disain-disain kontemporer di Cina. Saya amat sering berkunjung ke tempat mereka. Namun suatu hari, mereka menempatkan bahasa simbolnya, sebuah banner Honker Union di halaman depannya. Entah kenapa, saya malas membacanya. (*Bannernya bikin mata sepet, hehe*). Sayang sekali, entah apapun isinya, misi mereka jadi tidak sukses. (*mungkin karena saya saja yang sudah esmosi jiwa, hehe*).

Semua kekerasan… semua arogansi, semua represi, semua simbol-simbol agitasi bahkan hingga invasi militer, bagi saya adalah omong kosong yang dibalut jubah kekejaman. Sebab pasti hasilnya adalah membunuh bibit-bibit kemanusiaan.

Namun yang lebih buruk lagi adalah, melawan semua itu dengan cara yang sama.

Saya ini orang Betawi. Kakek nenek saya orang Betawi. Bapak ibu saya orang Betawi. Katanya (alm) Pak Uka, secara otomatis, saya dan adik-adik saya juga orang Betawi.

Sebagaimana orang Betawi normal lainnya, kami mempunyai motto, tiada hari tanpa ketawa dan tiada hari tanpa ceng-cengan (baca: saling ledek bergurau) lalu saling mentertawakan gurauan itu. Beberapa orang Betawi yang tidak normal tampaknya tidak mempunyai motto yang sama. Terbukti dengan banyaknya keluhan warga terhadap mereka.

Dulu, ketika masih sekolah, saya sering nge-cengin adik saya, Fahmi, dengan kalimat, “Dasar lo anak bulaksumur, sekolah kagak punya pager. Mentang-mentang makanannya nasi kucing, begitu lulus, ngelamar kerja, kalo minta gaji, pasti dah standar UMR”. Adik saya membalas dengan santainya “Daripada lo anak Depok, sekolah ORBA. Begitu lulus, jual nama doang. Mendingan tukang sablon, jual kartu nama dapet duit”.

*Maap buat yang tersinggung, ceng-cengan kami memang geblek…, hehehe…*

——————————————————–

Dalam dunia disain underground (ceille, kesannya saya anak underground gitu. Padahal mah bukan euy!) dikenal istilah ‘Harga Jogja’. Ini sudah menjadi rahasia umum sebenarnya, namun beberapa pihak enggan saja mengakuinya. Harga Jogja adalah harga dibawah rata-rata. Sesuai dengan namanya, harga ini memang berawal dari Jogja.

Harga Jogja berawal dari outsourcing yang dilakukan beberapa freelancer maupun profesional. Contohnya begini; A adalah sebuah perusahaan yang meminta dan membayar Rp 1000 kepada B sebagai disainer, untuk membuatkan web perusahaan mereka dalam waktu 3 hari. Saat itu B sedang banyak kerjaan/sedang malas/sedang sibuk pacaran/merasa uangnya terlalu sedikit atau sedang melakukan hal yang lain yang membuat ia tidak bisa melaksanakan tugas tersebut. Lalu ia memberikan pekerjaan itu kepada C. Nah, si C ini, tinggalnya di Jogja.

Ada yang salah?

Tidak, sama sekali tidak ada yang salah dalam cerita diatas.

Namun salah ketika:

  1. A membayar B sebanyak Rp 1000, lalu B membayar C sebanyak Rp 100. Sementara ongkos produksi adalah Rp 90. B salah, karena tidak memperhitungkan aspek manusia yang mengerjakan produksi, yaitu si C.
  2. A sudah mengetahui, bahwa dengan Rp 1000, disain tidak akan selesai dalam waktu 3 hari. Namun ngotot, memaksakan kehendak. Dalam kasus ini A salah, karena ia tahu, harga berbanding setara dengan kualitas.
  3. C mengetahui, bahwa Rp 90 tidak cukup untuk biaya produksi. Dan Rp 10 tidak cukup mbayar gaji karyawannya. Namun karena prinsipnya ‘biar dikit asal selamat, lama-lama toh akan menjadi bukit’ ia tetap mengerjakan hal tersebut. C menjadi salah, karena ia membudayakan etos tidak menghargai karyawan dan dirinya sendiri.

Harga Jogja, tidak mempermasalahkan tiga kriteria kesalahan (menurut saya, amat subjektif) diatas. Hasilnya adalah, berbondong-bondong penerbitan/advertising lari ke Jogja. Bahkan hingga ada pameo “terbitin saja di Jogja, pasti bisa!”. Kultur Jogja memang amat mendukung budaya, kreatifitas dan ilmu pengetahuan berkembang subur. Wong, anak mahasiswa kebanyakan ada disini.

(Sialnya, selain kultur tersebut, ada pula aspek kemiskinan (campur iseng) pula yang begitu permisif terhadap script kiddies, carder dan para black hat lainnya. Contoh kasus: beberapa tahun lalu, TemplateMonsterDotCom kebakaran jenggot habis-habisan, pasalnya beberapa disain template mereka dijual oleh beberapa situs yang setelah di track berasal dari Jogja. Ternyata usut punya usut, template tersebut dibeli oleh carder asal Jogja melalui credit card colongan. Template colongan tersebut dikompilasikan dalam bundel CD, yang kemudian di jual kepada para Black Hat yang mencari sumber kartu kredit dengan cara membuat website yang menjual template colongan dari TemplateMonsterDotCom.
*hehe, cah Jogja iku emang pada pinter-pinter, nduk*)

“What the h**l!!!” (*loh, ini kok ada seleb blog disebut-sebut je?*)
“Siapa yang peduli?”
“Yeahh, Who cares?”
“Kalau ongkos produksi bisa ditekan seminimal mungkin, kenapa tidak?”
“Kalau masih ada yang mau mengerjakan dengan biaya murah, kenapa tidak?”
“This is capitalism world, do you know what it means?”

Yeah.., I know what you mean.

Tapi yaa, kalo mau dagang atau ketika kerja… mbok , yaa jujur gitu.

Hargai kerja keras manusia lain.

Hargai ide-ide kreatif orang lain.

Berfikir sedikit laah, bahwa kualitas itu sebanding dengan kuantitas.

Hargai manusia lain yang mencari nafkah secara jujur. Di Bandung, Jakarta, Surabaya, Denpasar, bahkan di Jogja sendiri atau kota-kota besar dan kecil lainnya di Indonesia, masih banyak orang jujur, yang mencari nafkah dengan jujur. Jangan sakiti hati mereka.

(*Carding memang sudah basi. Tapi, saat ini imbasnya masih terasa. Website e-commerce Indonesia jarang yang dipercaya dunia Internasional. Andaipun ada, sedikit jumlahnya*)

Iseng-iseng, saya nanya si Fahmi adik saya yang sudah ber KTP Jogja, “Mi, kenapa sih harga disain di Jogja murah-murah? Malah sering dibawah rata-rata?”

 

Adik saya menjawab dengan santainya “wong, disainernya makannya nasi kucing, yaa murah, to!”