Republik Indonesia


Namanya musibah itu, kurang asyik namanya kalau tidak datang bertubi-tubi.

Loh kok bisa begitu? Apa pasalnya saya bisa bicara begitu?

Begini ceritanya. Saya ini mah orangnya doyan mengeluh. Apa-apa mengeluh. Ketika musim dingin datang, saya mengeluh dengan berkata “Aih, aih, amit-amit jabang bombay, ekke kan manusia tropis Cilincing. Dingiin bo!“. Nah ketika musim panas datang, saya mengeluh “Ampun deh. Nggak adil banget. Imsak jam 3 pagi, buka puasa jam 11 malem. Kalo gini caranya, gimana puasa mau sukses!

Tapi rupanya bukan hal diatas saja. Nampaknya, hobi mengeluh ini sudah mengendap ke sendi-sendi sumsum. Ketika senang, mengeluh hambar sekali perjalanan hidup ini. Nah, ketika saat ini musibah datang bagaikan gelombang, tak henti-hentinya saya berduka.

Bahaya ini. Nampaknya, belajar berhenti mengeluh sudah harus saya lakukan sesegera mungkin. Walaupun sedang dilanda musibah bertubi-tubi, harus belajar berhenti mengeluh.

Oh ya penonton, saya mau cerita sedikit nih soal keluhan. Kejadian lumayan menarik (buat saya, subjektif loh) ketika saya tinggal di beberapa tempat di Republik Indonesia.

Begini; (lebih…)

Belum pernah saya begitu banyak menerima hate speech (berupa email) sebanyak akhir-akhir ini. Khayalan iseng saya terdahulu, soal partai internet, menuai badai.

Padahal saya tidak berencana menanam angin ketika menulis artikel tersebut. Hehehe.

Rupa-rupanya, banyak orang yang tidak suka saya menulis tulisan yang berbau politis. Banyak orang yang tidak suka politik. Katanya beberapa gelintir pengirim email, ‘Politik itu haram!’.

Tulisan saya, soal partai internet banyak yang menanggapi. Saya kaget juga. Khayalan iseng itu berbuah pertanyaan, tanggapan, sanjungan, cemoohan hingga akhiran -an -an lainnya.

Secara sadar, komentar pada tulisan itu tidak saya jawab.

Agak berbeda memang. Sebab saya biasanya selalu membalas komentar. Alasannya simpel saja. Sebab tulisan itu benar-benar imajinatif. Setiap orang berhak melemparkan imajinasinya disana. Entah itu sopan maupun tidak.

Biar saja. Dibebaskan saja imajinasi yang ada. Seliar-liarnya. Sebab adakah sesuatu yang lebih liar daripada imajinasi? Biar lah publik yang menilai.

Akibat tidak dibalasnya komentar-komentar, banyak yang mengirimkan email.

Beberapa orang menulis email yang bahkan mirip senada (walaupun IP adress-nya jauh sekali berbeda). Kata mereka adalah bahwa politik itu tidak dibenarkan dalam beberapa agama. Demokrasi hukumnya haram (merujuk pada ini). Kata mereka pula, mengajarkan politik demokrasi pada masyarakat, sama saja dengan menyiarkan syiar fitnah.

Sambil senyam-senyum, saya balas satu-satu email tersebut. Diantaranya adalah, “Setiap orang boleh mengaku utusan tuhan, tapi bukankah masyarakat yang menentukan ia akan dipercaya sebagai nabi atau tidak? Itu kan demokrasi murni. Apa tanggapan anda?

Selain email berisi kebencian (*caci makinya saya sensor, hehe*), banyak juga email yang berisi pertanyaan. Ada seorang pembaca, dari sebuah daerah di Jawa Tengah, menulis dengan amat menarik. Pertanyaan beliau adalah;

Kang. Saya kira panjenengan ini ndak main politik-politikan. Ndak taunya kok yaa main politik. Apa ini kartu as panjenengan. Suka bicara soal rakyat. Tapi sekarang apa mau moroti suara rakyat?

Saya tersenyum lebar membacanya.

Alih-alih menjawab surat itu. Saya malah teringat seorang dai terkenal yang berpoligami. Loh ada apa dengan Da’i poligami? Apa hubungannya dengan politik?

Begini ceritanya; (lebih…)

Hari ini, tumben saya berandai-andai. Capek, makan siang mikir yang aneh-aneh terus. Kali ini, menulis yang ringan saja. Topiknya juga tidak kalah ringannya, khayalan.

Hmhh, apalagi yang lebih ringan daripada khayalan?

Katanya, mengkhayal kebaikan saja, sudah merupakan sebuah kebaikan. Dan (katanya) mengkhayal jorok, masih belum dosa selama belum dilaksanakan. Hehe.

Maka itu mari kita mengkhayal saja. Selama mengkhayal masih gratis dan tidak dibebani dosa, tidak apa-apa, toh? Hehe.

Kali ini, tema khayalannya adalah partai internet. Maaf, bukan mengkhayal jorok. Kalau mau mengkhayal jorok, silahkan sendirian saja. Jangan ajak-ajak saya. Tak sudi aku kalau situ mengkhayal kotor di samping saya. Apalagi menjadikan saya bahan khayalan jorok anda.

Hiii. Amit-amit jabang boneng.

Latar Belakang.

Tidak etis kalau khayalan ini tidak pakai latar belakang. Maka itu, saya jelaskan dulu latar belakang khayalan ini pada anda, penonton.

Begini ceritanya; (lebih…)

Entah kenapa, kalau sedang kerja di kantor kok yaa ide ngeblog itu banyak sekali. Aneh sekali. Sebab ketika sedang memfokuskan diri untuk menulis, otak ini buntu dan rasanya macet. Aneh. Seakan semua ide, data dan imajinasi menjadi musnah.

Bahaya loh itu. Saya kan digaji tidak untuk ngeblog. Kasian yang menggaji. Bukannya dapat hasil pekerjaan… E-eh, malah dapat tulisan. Lebih parah lagi, tulisan itu bukan untuk kepentingan yang menggaji, melainkan untuk kepentingan saya sendiri. Agar blognya update. Hehe. Sungguh kurang ajar.

Tapi membiarkan ide terbuang begitu saja… Ahh, tidak tega.

Maka itu, saya selalu siap-siap. Jadi kalau ide, langsung dicoret-coret di tulis. Jangan sampai mengendap terlalu lama di otak. Sebab otak saya ini tipe kapasitas pas-pasan. Artinya tidak bodoh-bodoh amat dan juga tidak dapat dikategorikan cerdas.

Nah, namanya otak pas-pasan, yaa cepat lupa. Hehe. Maka itu perlu bantuan, dari Hamba Allah yang disebut pensil dan kertas.

Maka itu, mulailah saya mencorat-coret di kertas. Membuat sketsa tulisan. Ini hasil coretan iseng saya; (lebih…)

(*Maaf, karena kesibukan sok luar biasa. Sama sekali tidak dapat menjawab komentar. Ada kabar memilukan dari RI. Bakrie Group maupun Lapindo Brantas Inc, tidak akan ikut ‘iuran’ untuk ganti rugi korban lumpur LAPINDO. Semuanya akan menjadi tanggungan pemerintah. Hal ini ditegaskan oleh Aburizal Bakrie, pemilik Bakrie Group sekaligus Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia. Artinya hanya satu: Rakyat Indonesia terus ditimpa kemalangan hutang*)

Ini adalah cerita yang sedianya akan dipublikasikan melalui buku.  Namun karena entah kenapa, malam ini saya begitu sedih. Saya publikasikan tulisan ini pada publik sebelum waktunya. (Atau malah ini waktunya?)

(lebih…)

Gatal berdasarkan Kamus Umum Bahasa Indonesia Dalam Jaringan amat menarik sekali artinya.

Gatal, menurut kamus itu adalah:

1. Berasa sangat geli yg merangsang pada kulit tubuh.
Contoh kalimat: Kepalaku gatal benar karena banyak ketombe.

2. Mendatangkan perasaan gatal.
Contoh kalimat: Ulat bulu itu gatal bila disentuh.

3. Suka atau ingin bersetubuh (terutama perempuan).
Contoh kalimat: Ia dicaci maki, dikatakan perempuan gatal.

4. Ingin sekali hendak berbuat sesuatu (memukul dan sebagainya).
Contoh kalimat: Tangannya gatal, hendak meninju kawannya.

Entah kenapa saya tiba-tiba tangan saya gatal lalu menulis gatal dalam mesin pencari di internet. Entahlah. Padahal saya sedang mencari data mengenai peta perpolitikan RI di mata blogger Indonesia.

Loh kenapa? Apa pasalnya saya mencari blogger yang paham politik? Apa hubungannya dengan gatal? Jangan-jangan saya masuk dalam kategori blogger gatal?
(lebih…)

Ada dua tipikal orang Cilincing. Itu kata si Gugun, adek saya.

1. Orang Cilincing umum.
Yaitu orang Cilincing yang melihat keramaian orang-orang berkumpul, lalu ikut gabung dalam keramaian itu. Tidak mau tahu, itu acara kedukaan, kegembiraan, kesakitan. Pokoknya, kalau ada keramaian… Hanya satu kata: Ikuuut!

2. Orang Cilincing yang kelaparan.
Yaitu orang Cilincing yang melihat keramaian, lalu bertanya, “Ada makanan disini?”. Kalau ada, ia ikut bergabung. Kalau tidak ada, ia meloyor pergi. (lebih…)

Laman Berikutnya »