Katanya, manusia itu bermacam-macam. Penuh rupa-rupa. Entah sifatnya, entah bentuknya bahkan hingga kepercayaannya. Kebetulan, saya ini termasuk golongan manusia yang percaya bahwa rejeki itu hingga pada akhirnya, memang ada yang menentukan.

Mohon maaf bagi yang tidak setuju. Kalau tidak sefaham dengan pendapat saya diatas, yaa silahkan saja. Bebas kok. Hehe.

Omong-omong soal rejeki… Jelas saya berbeda dengan majikan saya, Ibu Nyonyah. Beliau punya pendapat yang boleh dibilang 45 derajat berbeda lah. Hehe, jadi tidak 180 derajat alias kebalikannya.

Beliau berpendapat bahwa rejeki itu, sebagaimana nasib… Ada di tangan manusia. Dan sebagaimana lazimnya manusia yang menginginkan kebaikan dan kemaslahatan diri, hendaknya mencari rejeki dan mempertahankan nasibnya sebaik dan sekuat mungkin.

Perbedaan ini, tidak terlalu kentara dan menyolok sebenarnya.

Hingga beberapa hari belakangan lalu.

Begini ceritanya; (more…)

(*Hehe, cerita jadul nih. Sebuah kisah ketika saya masih bujangan dan tinggal di sebuah titik di Depok, Jawa Barat. Awal tahun 2000*)

Di Depok, ada beberapa rumah singgah untuk anak jalanan. Rumah singgah ini konsepnya cukup unik. Mirip dengan homeless shelter di negara-negara maju. Bedanya, sama sekali tidak di dukung pemerintah pusat maupun lokal. Serta tidak ada dukungan finansial yang mencukupi.

Hasilnya bisa bisa ditebak, seperti kuda tua yang dipaksa pacuan. Namun, walaupun susah payah, rumah ini tetap berdiri. Mengapa? Jawabnya simpel, sebab terlalu banyak anak-anak terlantar yang tinggal di daerah Depok dan sekitarnya.

Di rumah ini, beragam usia anak-anak tinggal, menetap, datang dan lalu pergi lagi. Namanya juga rumah singgah. Dan yang menyinggahinya kebanyakan adalah anak jalanan. Jadi, yaa mirip halte bus. Semua anak-anak jalanan, bahkan orang kemalaman pun bisa singgah di rumah ini.

Tapi karena kebanyakan yang menyinggahinya adalah anak jalanan, berusia antara 3 hingga 15 tahun. Maka disebutnya Rumah Singgah Anak Jalanan.

Mereka singgah untuk mendapatkan sebuah rumah untuk bernaung. Sebentar melarikan diri dari ganasnya hidup di jalanan. Sejenak melupakan trauma diancam, dipukuli, dirampas uang hasil mengamennya hingga diperkosa.

Saya dan beberapa teman, seperti Cirul, Candra, Daniel, Opik, Bommal, Fuad, Andri, Jendral dan lain-lainnya, mengurus rumah singgah ini. Tidak hanya di satu tempat, melainkan di beberapa tempat.

Di sebuah rumah singgah, saya dan Cirul yang dipercaya mengasuh. Cirul bagian rumah tangga, seperti mengurus rekening-rekening hingga beras buat makan. Saya yang mengurus pendidikan anak-anak itu. Bommal dan Fuad membantu mengajar.

Mereka, anak-anak itu memanggil kami dengan sebutan ‘Kakak’.

Kecuali saya. Mereka memanggil saya dengan sebutan “Bang Aip”. Sebab pada saat itu, saya mengurus rumah singgah sambil berdagang lontong sayur, makanan khas Jakarta. Dan sebutan ‘Abang’, adalah panggilan khas terhadap para tukang di Jakarta. Entah ia berdagang apa. Entah darimana asalnya, kalau jualan, maka di panggil “Bang!”

Ini sebuah cerita mengenai sepenggal kisah di Rumah Singgah Anak Jalanan, Depok.

(more…)